Selasa, 15 Juni 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LAPARATOMI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LAPARATOMI


Pengertian
Pembedahan perut sampai dengan membuka selaput perut . Ada 4 cara, yaitu; 1. Midline incision 2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5 cm). 3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. 4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy. Indikasi 1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam) 2. Peritonitis 3. Perdarahan saluran pencernaan. 4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar. 5. Masa pada abdomen ( Tumor, cyste dll).
PERAWATAN PRE OPERATIF PENGKAJIAN
Point penting dalam riwayat keperawatan preoperative : • Umur • Alergi terhadap obat, makanan • Pengalaman pembedahan • Pengalaman anestesi • Tembakau, alcohol, obat-obatan • Lingkungan • Kemampuan self care • Support system
PEMERIKSAAN FISIK •
Pengkajian dasar preop dilakukan untuk : • Menentukan data dasar • Masalah pengobatan yang tersembunyi • Potensial komplikasi berhubungan dengan anestesi • Potensial komplikasi post op. Fokus : Riwayat dan sistem tubuh yang mempengaruhi prosedur pembedahan. System kardiovaskuler Untuk menentukan kekuatan jantung dan kemampuan untuk mentoleransi pembedahan dan anestesi. Perubahan jantung à 39 % kematian perioperatif. Sistem pernapasan Lansia, smoker, PPOM à resiko atelektasis, kolap jaringan paru. à Mencegah pertukaran oksigen/CO2 à Intoleransi karena perubahan dalam dada dan paru. à Regiditas cavum thoraks dan menurunnya ekspansi paru à efisiensi ekskresi paru terhadap anestesi menurun. Renal system Abnormal renal fungsi menurunkan rata ekskresi obat dan anestesi Skopolamin, morphin à konfusi disorientasi Neuorologi system : Kemampuan ambulasi, dan reflek, serta aktivitas lainya. Muskulussceletal Deformitas à mempengaruhi posisi intra dan post-operasi Artritis à menerima posisi à nyeri post-operasi oleh karena immobilisasi Kekuatan, tonus otot. Status Nutrisi Malnutrisi, obesitas à resiko tinggi pembedahan Vit. C , vit.B diperlukan untuk penyembuhan luka dan pembentukan fibrin. Obesitas à wondhiling menurun oleh karena jaringan lemak tinggi Psikososial asesment Tujuan : menentukan kemampuan coping Informasi Support Laboratorium Analisis: Pengetahuan kurang sehubungan dengan pengalaman pre-op Kecemasan sehubungan dengan pengalaman pre-op Pengetahuan kurang ( knowledge defisite ) Tujuan : Klien mengatakan dan mematuhi prosedur pre-op Mendemostrasikan teknik untuk mencegah komplikasi post-op Intervensi Fokus : Edukasi pre-operasi Informasi : Informed consent, pembatasan diit, pre-operatip preparation, post-op exersice. Informed Consent : - alasan pembedahan - pilhan dan resikonya - resiko pembedahan - resiko anestesi Pembatasan diit à NPO (nothing per oral )à 6 – 8 jam sebelum pembedahan GI (gastro intestinal ) preparasi : - mencegah perlukaan colon - melihat jelas area - mengurangi bacteri intestinal Skin preparasi Tube, drain, Intra Venous line Post – op exercise : - diaphragmatic breating - incestive spirometri - cougling and spinting the surgical wound - turning and leg exercise Kecemasan : Tujuan : kecemasan klien menurun , menunjukkan relaksasi saat istirahat Intervensi : - preoperatip teaching - comunikatip - rest.
INTERVENSI KLIEN INTRA OPERATIF
Anggota tim pembedahan Tim pembedahan terdiri dari : • Ahli bedah • Tim pembedahan dipimpin oleh ahli bedah senior atau ahli bedah yang sudah melakukan operasi. • Asisten pembedahan (1orang atau lebih) asisten bius dokter, risiden, atau perawat, di bawah petunjuk ahli bedah. Asisten memegang retractor dan suction untuk melihat letak operasi. • Anaesthesologist atau perawat anaesthesi. • Perawat anesthei memberikan obat-obat anesthesia dan obat-obat lain untuk mempertahankan status fisik klien selama pembedahan. • Circulating Nurse • Peran vital sebelum, selama dan sesudah pembedahan. Tugas : - Set up ruangan operasi - Menjaga kebutuhan alat - Check up keamanan dan fungsi semua peralatan sebelum pembedahan - Posisi klien dan kebersihan daerah operasi sebelum drapping. - Memenuhi kebutuhan klien, memberi dukungan mental, orientasi klien. Selama pembedahan : - Mengkoordinasikan aktivitas - Mengimplementasikan NCP - Membenatu anesthetic - Mendokumentasikan secara lengkap drain, kateter, dll. • Surgical technologist atau Nurse scrub; bertanggung jawab menyiapkan dan mengendalikan peralatan steril dan instrumen, kepada ahli bedah/asisten. Pengetahuan anatomi fisiologi dan prosedur pembedahan memudahkan antisipasi instrumen apa yang dibutuhkan. Penyiapan kamar dan team pembedahan. Keamanan klien diatur dengan adanya ikat klien dan pengunci meja operasi. Dua factor penting yang berhubungan dengan keamanan kamar pembedahan : lay out kamar operasi dan pencegahan infeksi. 1). Lay Out pembedahan. Ruang harus terletak diluar gedung RS dan bersebelahan dengan RR dan pelayanan pendukung (bank darah, bagian pathologi dan radiology, dan bagian logistik). Alur lalu lintas yang menyebabkan kontaminasi dan ada pemisahan antara hal yang bersih dan terkontaminasi à design (protektif, bersih, steril dan kotor). Besar ruangan tergantung pada ukuran dan kemampuan rumah sakit. Umumnya : • Kamar terima • Ruang untuk peralatan bersih dan kotor. • Ruang linen bersih. • Ruang ganti • Ruang umum untuk pembersihan dan sterilisasi alat. • Scrub area. Ruang operasi terdiri dari : • Stretcher atau meja operasi. • Lampu operasi. • Anesthesia station. • Meja dan standar instrumen. • Peralatan suction. • System komunikasi. 2). Kebersihan dan Kesehatan Team Pembedahan. Sumber utama kontaminasi bakteri à team pembedahan yang hygiene ¯ dan kesehatan ¯ ( kulit, rambut, saluran pernafasan). Pencegahan kontaminasi : • Cuci tangan. • Handscoen. • Mandi. • Perhiasan (-) cincin, jam tangan, gelang. 3). Pakaian bedah. Terdiri : Kap, Masker, gaun, Tutup sepatu, baju OK. Tujuan: Menurunkan kontaminasi. 4). Surgical Scrub. Cuci tangan pembedahan dilakukan oleh : • Ahli Bedah • Semua asisten • Scrub nurse. à sebelum menggunakan sarung tangan dan gaun steril. Alat-alat: • Sikat cucin tangan reuable / disposible. • Anti microbial : betadine. • Pembersih / pemotong kuku. à Waktu : 5 – 10 menit à dikeringkan dengan handuk steril. Anasthesia. Anasthesia (Bahasa Yunani) à Negatif Sensation. Anasthesia menyebabkan keadaan kehilangan rasa secara partial atau total, dengan atau tanpa disertai kehilangan kesadaran. Tujuan: Memblok transmisi impuls syaraf, menekan refleks, meningkatkan relaksasi otot. Pemilihan anesthesia oleh anesthesiologist berdasarkan konsultasi dengan ahli bedah dan factor klien. Type anasthesia: Perawat perlu mengenal ciri farmakologic terhadap obat anesthesia yang digunakan dan efek terhadap klien selama dan sesudah pembedahan. 1. Anasthesia Umum. Adalah keadaan kehilangan kesadaran yang reversible karena inhibisi impulse saraf otak. Misal : bedah kepala, leher. Klien yang tidak kooperatif. Stadium Anesthesia Stadium I : Relaksasi Mulai klien sadar dan kehilangan kesadaran secara bertahab. Stadium II : Excitement. Mulai kehilangan kesadaran secara total sampai dengan pernafasan yang iregulair dan pergerakan anggota badan tidak teratur. Stadium III : Ansethesi pembedahan.. Ditandai dengan relaksasi rahang, respirasi teratur, penurunan pendengaran dan sensasi nyeri. Stadium IV : Bahaya. Apnoe, Cardiapolmunarry arrest, dan kematian. Metode Pemberian Inhalasi , IV injection. Instilasi rectal Inhalasi Metode yang paling dapat dikontrol karena intak dan eliminasi secara primer oleh paru. Obat anesthesia inhalasi yang diberikan : Gas: Nitrous Axida ( N20). Paling sering digunakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau. Non iritasi dengan masa induksi dan pemulihan yang cepat. Jenis yang biasa dipakai; a. Folatile: b. Halotan : c. Ethrane. d. Penthrane. e. Forane. Anesthesi Injeksi IV. Memberikan perasaan senang., cepat dan pelepasan obat secara pelan. Jenis opbat yamng biasa dipakai; Ø Barbiturat. Ø Narcotik: Ø Inovar Ø Ketamine Ø Neuromusculer Brochler. Anestesi Local Atau Regional Anestesi local atau regional secara sementara memutus transmisi impuls saraf menuju dan dari lokasi khusus. Teknik pemberian. Anestesi Topikal Pemberian secara langsung pada permukaan area yang dianestesi Bentuk: Salep atau spray. Lokal Anestesi Injeksi obat anestesi secara I C dan S C ke jaringan sekitar insisi, luka atau lesi. Field Block Injeksi secara bertahab pada sekeliling daerah yang dioperasi ( hernioraphy , dental prosedur ,bedah plstik ) Nerve Block Injeksi obat anestesi local ke dalam atau sekitar saraf atau saraf yang mempesarafi daerah yang dioperasi. Block saraf memutus transmisi sensasi, motor, sympatis. Spinal Anestesi / Intra Techal Dicapai dengan injecsi obat anestesi ke dalam ruang sub orachonoid. Pada L 2 – 3 atau L 3 – 4.


PENGKAJIAN :
Di ruang penerimaan perawat sirkulasi: - Memvalidasi identitas klien. - Memvalidasi inform concent. Chart Review. - Memberikan informasi yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi kebutuhan actual dan potensial selama pembedahan. - Mengkaji dan merencanakan kebutuhan klien selama dan sesudah operasi. Perawat menanyakan.: - Riwayat allergi, reaksi sebelumnya terhadap anesthesia atau tranfusi darah. - Check riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. - Check pengobatan sebelumnya : therapy, anticoagulasi. - Check adanya gigi palsu, kontaks lens, perhiasan, wigs dan dilepas. - à Kateterisasi. DIAGNOSIS KEPERAWATAN. 1. Resiko for injury berhubungan dengan anesthesia, posisi intra operatif dan bahaya lain dari lingkungan intra operatif. 2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi. 3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan anesthesia 4. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah dan cairan tubuh selama pembedahan.
PERENCANAAN
Resiko for injury berhubungan dengan anesthesia, posisi intra operatif dan bahaya lain dari lingkungan intra operatif. Tujuan : Klien akan dipertahankan dalam keadaan anesthesia yang aman selama pembedahan dan bebas dari perlukaan peralatan operasi. INTERVENSI: - Persiapan dan penggunaan obat anesthesia yang tepat. - Positioning à posisi yang tepat. Untuk menjamin posisi yang tepat dikaji : kesesuaian fisiologiss, perubahan sirkulasi yang minimal, proteksi struktur tulang dan neuromusculair, penggunaan dan lokasi IV line, cara anesthesia, keamanan dan keselamatan klien. - Penggunaan peralatan elektrik. Lempeng grounding yang ditutupi jeli tidak menekan tubuh. - Chek hati-hati alat / electrosurgical à mencegah luka bakar. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi. Tujuan: Klien akan mengalami gangguan integritas kulit yang dan kontaminasi yang minimal. Intervensi: - Plastic adhesive drape setelah daerah pembedahan dibersihkan dan kering. - Penutupan kulit: - Tujuan: - Menutup lumen pembuluh darah. - Mencegah perdarahan dan kehilangan cairan tubuh. - Mencegah kontaminasi luka. Dua factor yang menentukan kekuatan penutupan luka : - Materi jahitan. Ahli bedah akan memilih metode dan type penutupan kulit berdasarkan letak incisi, ukuran dan kedalaman luka, usia dan riwayat medik klien. - Staples dan plester digunakan untuk menutup luka superfisialis atau epidermis. Benang jahit : Absorbable dan non absorbable. Ukuran benang : 0.-5, 2 – 0 –11- 0.
INTERVENSI KLIEN POST OPERASI.
PENGKAJIAN;
Setelah menerima laporan dari perawat sirkulasi, dan pengkajian klien, perawat mereview catatan klien yang berhubungan dengan riwayat klien, status fisik dan emosi, sebelum pembedahan dan alergi. Pemeriksaan Fisik Dan Manifestasi Klinik System Pernafasan. Ketika klien dimasukan ke PACU, Perawat segera mengkaji klien: - Potency jalan nafas, à meletakan tangan di atas mulut atau hidung. - Perubahan pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR < 10 X / menit à depresi narcotic, respirasi cepat, dangkal à gangguan cardiovasculair atau rata-rata metabolisme yang meningkat. - Auscultasi paru à keadekwatan expansi paru, kesimetrisan. - Inspeksi: Pergerakan didnding dada, penggunaan otot bantu pernafasan diafragma, retraksi sternal à efek anathesi yang berlebihan, obstruksi. Thorax Drain. Sistem Cardiovasculer. Sirkulasi darah, nadi dan suara jantung dikaji tiap 15 menit ( 4 x ), 30 menit (4x). 2 jam (4x) dan setiap 4 jam selama 2 hari jika kondisi stabil. Penurunan tekanan darah, nadi dan suara jantung à depresi miocard, shock, perdarahan atau overdistensi. Nadi meningkat à shock, nyeri, hypothermia. Kaji sirkulasi perifer (kualitas denyut, warna, temperatur dan ukuran ektremitas). Homan’s saign à trombhoplebitis pada ekstrimitas bawah (edema, kemerahan, nyeri). Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit - Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan. - Ukur cairan à NG tube, out put urine, drainage luka. - Kaji intake / out put. - Monitor cairan intravena dan tekanan darah. Sistem Persyarafan. - Kaji fungsi serebral dan tingkat kesadaran à semua klien dengan anesthesia umum. - Klien dengan bedah kepala leher : à respon pupil, kekuatan otot, koordinasi. Anesthesia umum à depresi fungsi motor. Sistem Perkemihan. - Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 – 8 jam post anesthesia inhalasi, IV, spinal. Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi à retensio urine. Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusià abdomen bawah (distensi buli-buli). - Dower catheter à kaji warna, jumlah urine, out put urine < 30 ml / jam à komplikasi ginjal. Sistem Gastrointestinal. - Mual muntah à 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat. - Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus. - Kaji paralitic ileus à suara usus (-), distensi abdomen, tidak flatus. - jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 – 8 jam. - Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan decompresi dan drainase lambung. • Meningkatkan istirahat. • Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah. • Memonitor perdarahan. • Mencegah obstruksi usus. • Irigasi atau pemberian obat. Sistem Integumen. - Luka bedah sembuh sekitar 2 minggu. Jika tidak ada infeksi, trauma, malnutrisi, obat-obat steroid. - Penyembuhan sempurna sekitar 6 bulan – satu tahun. - Ketidak efektifan penyembuhan luka dapat disebabkan : • Infeksi luka. • Diostensi dari udema / palitik ileus. • Tekanan pada daerah luka. • Dehiscence. • Eviscerasi. Drain dan Balutan Semua balutan dan drain dikaji setiap 15 menit pada saat di ruang PAR, (Jumlah, warna, konsistensi dan bau cairan drain dan tanggal observasi), dan minimal tiap 8 jam saat di ruangan. Pengkajian Nyeri Nyeri post operatif berhubungan dengan luka bedah , drain dan posisi intra operative. Kaji tanda fisik dan emosi; peningkatan nadi dan tekanan darah, hypertensi, diaphorosis, gelisah, menangis. Kualitas nyeri sebelum dan setelah pemberian analgetika. Pemeriksaan Laboratorium. Dilakukan untuk memonitor komplikasi . Pemeriksaan didasarkan pada prosedur pembedahan, riwayat kesehatan dan manifestasi post operative. Test yang lazim adalah elektrolit, Glukosa, dan darah lengkap
. DIAGNOSIS KEPERAWATAN.
1. Gangguan pertukaran gas, berhubungan dengan efek sisa anesthesia, imobilisasi, nyeri.
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka pemebedahan, drain dan drainage.
3. Nyeri berhubungan dengan incisi pembedahan dan posisi selama pembedahan.
4. Potensial terjadi perlukaan berhubungan dengan effect anesthesia, sedasi, analgesi.
5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan intra dan post operasi.
6. Ketidak efektifan kebersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan skresi.
7. Perubahan eliminasi urine ( penurunan) berhubungan dengan obat anesthesia dan immobilisasi.
PERENCANAAN
Gangguan pertukaran gas Tujuan : Klien akan mempertahankan ekspansi paru dan fungsi pernapasan yang adekuat.
Intervensi
- Posistioning klien untuk mencegah aspirasi
- Insersi mayo à mencegah obstruksi, melakukan suction.
- Pemberian aksigen - Endotracheal tube/mayo dilepas à refleks gag kembali - Dorong batuk dan bernapas dalam 5 – 10 x setiap 2 jam. Khususnya 72 jam pertama (potensial komplikasi :atelektasis, pneumonia).
- Klien dengan penyakit paru, orang tua, perokok, panas spirometer.
- Suction. Gangguan integritas kulit Tujuan :
- luka klien akan sembuh tanpa komlikasi luka post operatif. Penyebab luka infeksi :
- kontaminasi selama pembedahan
- infeksi preoperative - teknik aseptic yang terputus
- status klien yang jelek.
Intervensi : - Terapi obat : ¬ antibiotik profilaksis spectrum luas (24 – 72 jam post op) ¬ perawatan luka dengan gaas antibiotik. - Balutan luka : ganti sesuai order dokter. Luka yang ditutup dengan balutan dibuka 3-6 hari. - Drain : ¬ evakuasi cairan dan udara ¬ mencegah luka infeksi yang dalam dan pembentukan abses pada luka bedah. Nyeri Tujuan : klien akan mengalami pengurangan nyeri akibat luka bedah dan posisi selama operasi. Intervensi : - Terapi obat : • Pemberian anlgetik narkotik dan non narkotik à nyeri akut (meperidin hydroclorida, morphine sulphate, codein sulphate, dan lain-lain.) • Mengkaji tipe, lokasi ditensitas nyeri sebelum pemberian obat. • Pada pembedahan yang luas à kontrol nyeri à iv pump. • Observasi tekanan darah, pernapasan, kesadaran, (depresi napas, hyotensi, mual, muntah à komplikasi narkotik). Metode pangendalian nyeri yang lain : positioning perubahan posisi tiap 2 jam masase EVALUASI : Kriteria hasil yang diharapkan pada klien post op adalah : 1. Mempertahankan ekspansi paru dan fungsi yang adekuat yang ditandai suara napas jernih. 2. Mengikuti diet TKTP 3. menjelaskan dan mendemonstrasikan perawatan balutan dan drain. 4. Penyembuhan komplit tanpa komplikasi 5. Mengungkapkan nyeri hilang. DAFTAR KEPUSTAKAAN Dr. Sutisna Himawan (editor). Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI Brunner / Sudart. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Lippincott Company. Philadelphia. 1984. Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edis

askep post partum cesar dengan indikasi Gemilli

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kehamilan tersebut menarik perhatian ibu itu sendiri, kehamilan dan persalinan akan membawa resiko bagi janin dan sedikit berbahaya pada ibu, tetapi biasanya ibu dengan kehamilan kembar memerlukan perhatian dan perawatan khusus bila di inginkan hasil yang memuaskan bagi ibu dan janin serta keluarga. (winkjosastro, ilmu kebidanan 1999).
Kehamilan ganda atau kembar adalah kehamilan dua janin atau lebih. Yang mempengaruhi kebutuhan akan zat-zat ibu bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan depisiensi dan zat-zat lainnya, terhadap janin yaitu usia kehamilan tambah singkat. (Rustam mochtar, 1998).
Di AS lebih banyak dijumpai pada wanita kulit hitam dibandingkan kulit putih. Angka tertinggi kehamilan ganda di jumpai di Pilandia dan terendah di Jepang. Seperti yang kita ketahui yang biasa terjadi kehamilan ganda ternyata lebih kecil dibandingkan dengan kehamilan Tunggal. Dan berdasarkan survey kelompok bahwa di RS Tarakan khususnya di RB Seruni setahun terahir terdapat 10 % angka kelahiran cesar dengan indikasi gemelli dengan kelainan persentasi.
Pada kenyataan tersebut, ternyata sangat kecil dan kemudian kami ingin membandingkan antara askep post partum normal dengan askep post partum cesar dengan indikasi Gemilli kelainan persentasi,maka demikian kami lebih tertarik menyeslesaikan masalah pada ibu post partum cesar.



B.TUJUAN
TUM
Perawat mampu melakukan askep secara komfrehensif baik mandiri maupun kolaborasi

TUK
• Melaksanakan pengkajian
• Menentukan masalah keperawatan
• Mampu merencanakan keperawatan
• Mampu melaksanakan implementasi
• Mampu melaksanakan evaluasi
• Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat pada teori dan praktek
• Mampu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan








C.SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika yang dalam menyusun makalah ini adalah :

BAB I. Pendahuluan yang terdiri dari Latar belakang, Tujuan Penulisan dan sistematika penulisan
BAB II. Tinjauan Teoritis yang terdiri dari Defenisi Gemelli, Etilogi, Patofisiologi, Tanda dan Gejala Komplikasi dan Pemeriksaan Diagnostik, pengertian de finisi SC, indikasi dan kontra indikasi SC, jenis-jenis operasi SC, komplikasi SC
BAB III. Tinjauan Kasus yang terdiri dari: pengkajian, diagnosa ,intervensi, implementasi dan evaluasi.
BAB IV. Pembahasan yang terdiri dari :
Pengkajian, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi
BAB V.Penutup Yang terdiri dari: Kesimpulan dan Saran
































DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR…………………………………………………………….i
DFTAR ISI …………………………………………………………….ii
BAB I. PENDAHULUAN ……………………………………………………………1
A. Latar Belakang ……………………………………………………………1
B. Tujuan Penulisan ……………………………………………………………1
Tum ……………………………………………………………1
Tuk …………………………..........................……………….1
C. Sistematika Penulisan………………………………………………………...1

BAB II. TINJAUN TEORITIS …………………………………………………….2
A. Pengertian gemeli………………….…………………………………………2
B. Etiologi …………………………………………………………….2
C. Patofisiologi …………………………………………………………….2
D. Tanda dan Gejala …………………………………………………………….3
E. Komplikasi …………………………………………………………….3
F. Pemeriksaan Diagnostik………………………………………………………3
G. penatalaksanaan………………………………………………………………..3
H. Pengertian SC………………………………………………………………….3
I. indikasi dan kontra indikasi SC………………………...………………………4
J. Jenis-jenis SC………….………………………………………………………..4
K. Komplikasi SC…………………………………………………………………4

BAB III. TINJAUAN KASUS …………………………………………………….4
A. Pengkajian………………..…………………………………………………...4
B. Diagnosa ……..………..……………..……………………………………….5
C. Intervensi……………………………………………………………………...6
D.Perencanaan ………………………….………………………………………...7
E. Evaluasi………………………………………………………………………...7

BABIV. IV.PEMBAHASAN……………………………………………………………..7

A. Pengkajian…………………………………………………………………….9
B. Diagnosa…...………………………………………………………………….8
C. Intervensi…….………..…………………………………………..................11
D. Implementasi……....... ……………..…………………………………….12
E. Evaluasi………………………………………………………………………13

BAB V. PENUTUP ………..………………………………………………….14
A. Kesimpulan ..………………………………………………………….14
B. Saran …..……………………………………………………….14


DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian
Gemelli biasa di sebut juga dengan kehamilan kembar(ganda) adalah: kehamilan dengan dua janin atau lebih (Rustam mckhtar, 1998)
B. Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi:
- Bangsa seperti: AS dan Irlandia
- Umur : Mangkin tinggi angka kejadian kehamilan kembar dan menurun lagi setelah umur >40 th.
Peritas
- Biasanya lebih meningkat pada multipara dari pada premipara
- Keturunan : keluarga tertentu akan cendrung melahirkan anak kembar yang biasanya diturunkan secara paternal, namun dapan dapat juga secara maternal.
- Obat-obatan induksi ovulasi seperti : propertil, clomid, dan hormone gonadotropin
Secara pasti penyebab bayi kembar belum diketahui
C. Patofisiologi
Fisiologi kehamilan ganda dapat terjadi karena dua ovum yang dibuahi pada saat hampir bersamaan atau berasal dari satu ovum yang mengalami pemecahan pada saat dini
1. Kehamilan ganda dari dua ovum-dizigot
Tumbang kehamilan ganda dizigot selalu akan mempengaruhi dua plasenta dengan tempat implantasi yang relatip berbeda sehinga akan memberikan dampak pertumbuhan janin yang berbeda. Perbedaan dapat dibuktikan dengan BB yang berbeda akibat tempat implantasi yang tidak mampu memberikan nutrisi, aliran darah dan O2 yang sama
2. Kehamilan ganda dari saatu ovum monozigot
Kehamilan ganda dari satu ovum lebih jarang dari dua ovum. Selain itu, saat pemecahan akan menyebabkan terjadinya abnormal pertumbuhan sehingga dapat terjadi berbagai bentuk. Jika pemisahan terjadi sehingga diskus abnormal terbentuk , akan terjadi bentuk terpisah yang tidak lengkap dan terdapat bayi kembar siam.

Pembuahan


1 Ovum (monozigot) 2 ovum (dizigot)

Pemecahan dini pemecahan dini

Kemungkina Pertumbuhan 2 embrio pertumbuahan 2 embrio dan
Dan 1 atau 2 plasenta Yang abnormal 1 atau 2 plasenta normal (kehamilan ganda normal)
Kemungkinan terjadi bayi kembar siam

1 Tanda dan Gejala
1. Ibu mengeluh sesak
2. Sering miksi
3. Adanya edema dan parises pada tungkai dan vulva
4. Tekanan darah meningkat
5. Mengeluh pusing
6. Janin lebih aktif

2 Dasar diagnosis
a) Anamesis
- Uterus dapat membesar
- Gerakan banyak (janin)
- Keluhan ibu lebih banya
b) Palpasi
- teraba tiga bagian besar janin : kepala, bokong, dan punggung
- dua bagian besar berdekatan
- hidriamnion
c) Auskultasi
- DJJ didua punggung maksimum dengan perbedaan 10 denyut/menit atau lebih
Diagnosis penunjang
- USG
- FOTO rontgen
3 Komplikasi
1. Hamil muda : hiperemesis gravirarum
2. Hamil tua : hidramnion , perbedaan tumbang intrautasi , pendarah antepartum
3. Khusus monoaniotik : lilitan antar tali pusat , transfuse antar janin.

4 Pertolongan persalinan ganda
1. Pervaginam : jika by A perserpasi kepala,by B lahir dengan spontan atau by B kelainan letak tapi persi luar lengkap, spontan, persi ekstensi.
2. SC jika :
-Anak pertama kelainan letak
-gawat janin.

5 SC Ciesrea
SC merupakan pembedahan obstretik untuk melahirkan janin yang mampu bertahan hidup (variable) melalui abdomen , (farre helen 1999).
SC adalah : suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat diatas 500 gr melalui sayatan pada dinding uterus yang masi utuh , (satmono pramirohadjo,2002)




6 Indikasi SC
Operasi SC dilakukan jika kelahiran peruaginam mungkin akan menyebabkan resiko [ada ibu ataupun pada janin , dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC : proses persalinan normal lama / kegagalan proses persalinan normal (distasia)
1. Stress janin
2. His lemah/melemah
3. Janin dalam posisi sunsang/melintang(kelainan letak)
4. BY besar (BB >400 gr)
5. Plasenta pravira
6. Disproporsi cevalo-pelvik : ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul
7. Rupture urteri mengancam
8. Hydrochepalus
9. Primi tua atau muda
10. Partus dan komplikasi
7 Kontra indikasi SC
Tidak ditemukan
8 Jenis-jenis operasi SC
a. Abdomen (SC abdominalis)
1 . SC klasik atau kolporal denga insisi memanjang pada kurpus ulteri.
- Keuntungan : mengeluarkan janin lebih cepat , tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik ,sayatan bisa diperpanjang : proksimal dan distal.
- Kerugian / kekurangan : infeksi mudah menyebar secara intra abdominal kena tidak ada reperironalitas yang baik
- Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan
3. SC isnika atau hopundal
(lom servikal dengan isisi segmen bawah rahim)
Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang tepat pada segmen bawah rahim.



- Keuntungan : penjahitan luka lebih mudah
- Penutupan luka dengan repiritonealisasi yang baik tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus kerongga peritoneal , perdarahan tidak begitu banyak , kemungkinan rupture uteri spontan lebih kecil.
- Kelemahan : luka dapat menyebar kekiri kekanan bawah sehingga dapat menyebabkan arteri uteri pecah/putus sehigga menyebabkan pendarahan yang banyak, keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi
. b. Vagina (vaginalis)
Menurut sayatan pada rahim , SC dpt dilakukan Sbb :
- Sayatan memanjang (longitudinal)
- Sayatan melintang (transpesal)
- Sayatan hurup T (T insicium)
9 Berdasarkan saat dilakukan SC dibagi atas:
a. SC primer (epektif)
Dari semula memang telah direncanakan bahwa janin yang akan dilahirkan secara SC tidak diharapkan kelahiran biasa (normal) mis : pada panggul sempit
b. SC skunder
c. Dalam hal ini kita bersikap mencoba menunggu kelahiran biasa (partus percobaan) bila tidak ada keinginan persalinan percobaan gagal baru SC
10 Komplikasi SC
a. Pendarahan
b. Infeksi

1. Pengkajian
a. TTV :
- TD : 120/80 Mmhg biasanya normal seperti saat hamil
- N : 60-80 x/m , bradikardi : 50-70 x/m
- P : 16-24 x/m
- S : 36,2 c

b. Payudara : membesar hiperpigmentasi pada ariola putting menonjol pada pusat partum hari kedua mungkin tampak membengkak dan nyeri karena proses laktasi.
c. Abdomen : fundus terasa keras , ada luka operasi
d. Lochea (+) sesuai hari post partum
e. Perineum : utuh , terdapat hemoroit / tidak
f. Eliminasi
BAK : dalam jumblah yang cukup setiap 4-6 jam, distensi kk tidak terjadi. BAB : akan kembali normal setelah 2-3 haripost partum

g. Ekstermitas bawah : tidak ada tanda nyeri homen tidak ada
h. Neorusensori : kerusakan gerakan sensori dibawah tinggkat anastesia spinal epidural
i. Psikologis : 24 jam pertama ibu lebih berfokus pada kebutuhan sendiri, menceritakan pengalaman melahirkan mungkin sangat pembicara / pendiam.
j. Pemiriksa Lab : HB,HT ,leukosit, dan eliktrolit yang diindikasikan serta protein urine.

2. DX. Keperwatan
1. Nyeri b/d luka post operasi op SC
2. Resti infeksi b/d adanya luka post op SC
3. Resti perubahan perpusi jaringan se$reberal b/d epek anastesi
4. Ketrbatasan kemampuan aktivitas b/d post op SC , efek anastesi
5. Proses laktasi tidak efektip tidak efektif b/d pembengkakan panyudara kurang pengetahuan tentang perawatan panyudara
6. Perubahan proses parenting b/d kurangnya informasi mengenai kebutuhan merawat bayi
7. Kurang pengatahuan tentang perawatan SC dan efek anstesi b/d kurangnya informasi

3. Intervensi keperawatan
Dx. 1
- Tentukan karekteristik dan lokasi nyeri
- Berikan posisi yang nyaman dan nyaman
- Anjurkan tehnik latihan nafas dalam
- Berikan informasi penyebab nyeri
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesic
Dx. 2
- Observasi daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda infeksi : kemerahan, bengkak, nyeri, panas, dan penurunan fungsi
- Pantau TTV terutama suhu
- Berikan informasi kepada klien untuk melakukan personal hygine terutama di daerah luka op
- Ganti perban dengan tehnik steril
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antibiotic
- Pantau derajat kontrativitas utara dan warna serta jumlah locthea
- Messege fundus dengan perlahan
- Infeksi laserasi perineum bila ada, tekan pembalut yang bersih terhadap perineum dan intruksikan ibu untuk merapatkan paha
- Observasi TTV
- Pantau intake dan output
- Berikan cairan parenteral sesuai indikasi
Dx. 4
- Kaji tingkat aktivitas klien dalam memenihi kebutuhannya
- Bantu klien dalam memenihi aktivitas dan mobilisasi
- Bantu klien dalam memenihi kebutuhan sehari-hari
Dx. 5
- Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara
- Demontrasikan cara perawatan panyudara yang benar
- Anjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang sudah perawat ajarkan
- Ajarkan klien cara memberikan ASI yang benar
Dx. 6
- Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga mengenai perawatan tali pusat yang benar dan memandikan bayi
- Berikan penkes mengenai cara pearawatan bayi sesuai kebutuhan missal : perawatan tali pusat yang benar
- Demontrasikan hal yang dipenkeskan sesuai kebutuhan
Dx. 7
- Kaji tingkat pengetahuan dan kesiapan klien untuk diberikan penyuluhan
- Berikan informasi atau penyuluhan yang berhubungan dengan perubahan fisiologis, masa nifas dan perawatan pos op

4. Evaluasi
- Nyeri berkurang / hilang dengan skala 1
- Infeksi tidak terjadi
- Perubahan perfusi jaringan serebral tidak terjadi dan tidak ad pendarahan post partum
- Klien dapat mandiri dalam melakukan aktifitas sehari-hari
- Proses laktasi kembali efektif
- Tidak terjadi proses parenting
- Klien mengungkapkan pemantamannya mengenai perubahan fisiologis dan melakukan aktivitas secara tepat





BAB III
TINJAUAN KASUS

I. Identitas Pasien
Klien bernama Ny.M, usia 37 tahun lulusan SMP, seorang ibu rumah tangga. Sedangkan suami bernama Tn.M, usia 44 tahun lulusan SMA, perkerjaan swasta, dan keduanya beragama islam, suku baqngsa indonesia yang beralamat di Jl. Teratai Rt/Rw 003/03 Jembatan Besi. Status kawin selama 6 tahun, klien masuk 13 desember 2009, di ruang Seruni kamar Isolasi dengan Dx. Medis : Gemeli

II. Riwayat Keperawatan
A. Keluhan utama (saat ini)
Pada saat ini klien mengeluh nyeri pada luka post operasi secaria diperutnya, dan masih sering mulas sedangkan asinya belum lancar keluar.
B. Riwayat Menstruasi
Usia menarche 13 tahun, sklus haid teratur selama 28 hari jumlahnya kurang lebih 40cc, haid terakhir 13-03-2009 sedangkan haid pertama pada tanggal 20-12-2009, menopause dan keluhan lain tidak ada.
C. Riwayat Obstetri
P2-A0-AH3
Anak pertama usia kehamilan 39 minggu jenis persalinan spontan ditolong oleh bidan, tidak ada terjadi komplikasi, jenis kelamin perempuan, PB=49cm, BB=2800gr dan keadaan sekarang sehat.
Anak kedua usia kehamilan 40 minggu penyakit yang dialami tidak ada, jenis persalinan SC ditolong oleh tim Bedah penyulit yang dialami gemeli, tidak ada terjadi komplikasi jenis kelamin sama perempuan x1PB=48cm dan BB=2500gr sekarang berada di perinatologi sedangakan x2 PB=49cm dan BB=2600gr keadaan sekarang baik.

III. Riwayat Ginekologi & Penyakit atau Pembedahan sebelumnya
Pada riwayat ini klien tidak terdapat masalah dan kelaina-kelainan lainnya. Dan pada keluarga tidak ada masalah dengan reproduksi. Hanya klien pada saat kontrasepsi klien menggunakan riwayat pemakaian obat hormonal.





IV. Riwayat Psikososial dan spiritual
Klien mengatakan orang yang terdekat dengan klien adalah anak dan suami dan orang tua klien. Interaksi dalam keluarga terbuka dua arah. Persepsi terhadap penyakit, harapan serta pikiran klien ingin cepat sembuh dan pulang ke rumah. Konsep diri baik dan mekanisme koping jika sakit langsung membeli obat ke warung, kepercayaan yang dianut beragama islam dan beribadah sesuai agama.

V. Kebutuhan atau Kebiasaan sehari-hari
A. Nutrisi dan Cairan
Klien mengatakan di rumah makannya 3x/hari dan menyukai semua makanan, klien tidak ada mengalami alergi makanan dan diet khusus serta tidak ada keluhan saat makan.TB=158cm, BB=55kg
Klien mengatan minum kurang lebih 2500cc dan menyukai teh panas, serta tidak suka dengan alkohol.
B. Eliminasi
Fekuensi BAB 1x/hari dengan konsisten lembek, berwarna kuning, berbau, waktu tidak menentu,keluhan dan penggunaan laxatif tidak ada.
Sedangkan frekuensi BAK kurang lebih 9-10x/hari, bau khas, dan keluhan tidak ada.
C. Personal Hygeine
Klien madi 2x/hari dengan menggunakan sabun, oral hygiene 2x/hari cara membersihkan sikat gigi dengan odol. Pada genitalia juga dibersihkan dan tidak menggunakan solution.
D. Istirahat dan Tidur
Waktu tidur klien kurng lebih 8jam/hari sedangkan tidur siang ½ jam, kebiasaan sebelum tidur menonton TV, keluhan selama tidur tidak ada.

VI. Pemeriksaan penunjang: USG

VII. Penatalaksanaan
• IUFD RL 20 tts/menit
• Tefacet = 2x1
• Kaltropen supp = 2x1





VIII. Resume
Pengkajian dilakukan tanggal 16 Des 2009.
Ny. M, 37 tahun datang ke RSUD Tarakan Rg.Seruni pada tanggal 13 Des 2009 dengan Dx. Medis Gemeli klien dilakukan Operasi SC pada tanggal 15 Des 2009 pukul 09.00wib lahir bayi kembar.
By. X1 perempuan BB :2500gr, PB:48cm A/S 2/5 dan mekoniu8m kental. By. X2 perempuan BB:2600gr, PB:49cm A/S 9/10 ket (+) lansung dilakukan amrictomy, ket berwarna kehijaun dan cair.
Pada saat dilakukan pengkajian tnggal 16 Des 2009 klien Post Partum hari kedua didapat data-data sebagai brikut:
Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di peru8tnya dan masih sering mulas, serta mengatakan ASI masih belum lancar dan bayinya belum mau menyusui.
Sedangkan pada saat diobservasi:
• k/u klien sedang CM
• obtetri: P2-A0-AH3
• TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
• Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
• Saat ditunjukan skala nyeri klien menunjukan angka 5
• Payudara klien tampak membesar, areola hyperpigmentasi, papila experted, terdapat ASI dan alveoli
• Abdomen teraba keras (uteru), terdapat shi9e dan linea nigra
• TFU: 3 jari di bawah umbilikus, konsisten uterus tegang dan kontraksi positif
• Distensi rektiabdominalis P=7cm, L=2cm
• Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh
• Lochea positif, konsistensi encerwarna merah terang kurang lebih 50cc, berbau khas
• Kapilarirefil kurang dari 2detik
• Turgor kulit elastis
• Reflek patela baik
• Tidak terdapat tanda homan
• Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe





DATA FOKUS
Nama klien / umur : Ny.M/37thn
Ruang / kamar : Seruni/Isolasi
Data Obyektif Data Subyektif
• k/u klien sedang CM
• obtetri: P2-A0-AH3
• TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
• Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
• Saat ditunjukan skala nyeri klien menunjukan angka 5
• Payudara klien tampak membesar, areola hyperpigmentasi, papila experted, terdapat ASI dan alveoli
• Abdomen teraba keras (uteru), terdapat shi9e dan linea nigra
• TFU: 3 jari di bawah umbilikus, konsisten uterus tegang dan kontraksi positif
• Distensi rektiabdominalis P=7cm, L=2cm
• Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh
• Lochea positif, konsistensi encer warna merah terang kurang lebih 50cc, berbau khas. Kapilarirefil kurang dari 2detik, Turgor kulit elastis, Reflek patela baik, Tidak terdapat tanda homan
• Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe
• Post partum hari kedua • Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di peru8tnya.
• klien mengatakan masih sering mulas-mulas.
• Klien mengatakan ASI masih belum lancar dan bayinya belum mau menyusui










ANALISA DATA
Nama klien / umur : Ny.M/37thn
Ruang / kamar : Seruni/Isolasi
No Data Masalah Etiologi
1















2








3 DS:
• Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di peru8tnya.
• klien mengatakan masih sering mulas-mulas.
Do:
• k/u klien sedang CM
• obtetri: P2-A0-AH3
• TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
• Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
• Saat ditunjukan skala nyeri klien menunjukan angka 5
• Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh
• TFU: 3 jari di bawah umbilikus, konsisten uterus tegang dan kontraksi positif
Ds:
• Klien mengatakan ASI masih belum lancar dan bayinya belum mau menyusui
Do:
• Payudara klien tampak membesar,
• Areola hyperpigmentasi, papila experted,
• Terdapat ASI dan alveoli
• Post partum hari kedua

Ds:
• Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di perutnya.
Do:
• TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
• Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
• Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh Gangguan rasa nyaman :nyeri














Proses laktasi tidak efektif








Resti infeksi





Adanya luka post Op SC pada abdomen













Pembengkakan pada payudara








Adanya luka post Op SC pada abdomen


DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama klien / umur :Ny.M/37thn
Ruang / kamar :Seruni/Isolasi

No Masalah Dx Tanggal ditemukan Tanggal teratasi Nama jelas
1



2


3






Gangguan rasa nyaman: Nyeri b/d adanya luka post Op SC pada abdomen.


Proses laktasi tidak efektif b/d pembekakan pada payu dara
Resti infeksi b/d adanya luka post Op SC pada abdomen
16 Des 2009



16 Des 2009


17 Des 2009 17 Des 2009
Teratasi sebagian


17 Des 2009
Teratasi

17 Des 2009
Teratasi sebagian Klpmk
6


Klmpk
6

Klmpk
6

















RENCANA KEPERAWATAN
Nama klien / umur :Ny.M/37thn
Ruang / kamar :Seruni/Isolasi

No Tgl Diagnosa Tujuan & kriteria hasil Intervensi paraf
1










2






















3 16
Des
09








16
Des
09




















17
Des
09 Gangguan rasa nyaman: Nyeri b/d adanya luka post Op SC pada abdomen.







Proses laktasi tidak efektif b/d pembekakan pada payu dara



















Resti infeksi berhubungan dengan adanya luka post off SC pada abdomen

Setelah dilakukan tidakan kep selama 2x24jam nyeri dpt berkurang/hilang dg KH:skala nyeri 2-0, keluhan nyeri tdk ada,TTV dalam batas normal.



Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam proses laktasi kembali efektif. Dengan KH : pembengkakan panyudara tidak ada alveoli berkurang ASI keluar dengan lancar klien dapat melakukan perawatan panyudara dengan benar.











Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 resti infeksi tidak terjadi dengan KH : tidak ada tanda-tanda infeksi (nyeri, kemerahan, panas, bengkak, penurunan fungsi) TTV dalam batas normal :
TD : 120/80 N : 60-80x/Menit RR : 16-20x/Menit S : 36-37 derajat o Kaji lokasi dan penyebab nyeri
o Kaji skala nyeri
o Berikan posisi yang amam dan nyaman (semifowler)
o Ajarkan tehnik relaksasi:nafas dalam
o Kolaborasi dgn dr. Pemberian analgesik

 Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara

 Demontrasikan cara perawatan panyudara dengan benar

 Anjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang perawat ajarkan

 Ajarkan klien cara memnerikan ASI yang benar



 Observasi pada daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda infeksi
 Pantau TTV terutama suhu
 Anjurkan klien untuk untuk minum, perhatikan personal hygien terutama pada daerah luka operasi
 Lakukan perawatan muka dengan tehnik steril
 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik













Klp 6

















CATATAN KEPERAWATAN

Nama klien / umur : Ny.M/37thn
Ruang / kamar : Seruni/Isolasi
Hari /
tanggal Jam No. Dx Tindakan keperawatan dan kriteria hasil paraf
Rabu,
16/12/09




Rabu,
16/12/09







Kamis,
17/12/09





Kamis,
17/12/09




Kamis,
17/12/09

11.20





11.20








14.30






14.40





14.45 1





2








1






2





3  Mengkaji skala nyeri dan TTV
 Mengajarkan teknik relaksasi : nafas dalam
 Memberikan posisi yang nyaman ( semi fowler )
 Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

 Mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara
 Mendemontrasikan tentang cara perawatan panyudara
 Menganjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan perawat ajarkan
 Mengajarkan klien memberiakan ASI yang benar



 Mengkaji skala nyeri dan TTV
 Mengajarkan teknik relaksasi : nafas dalam
 Memberikan posisi yang nyaman ( semi fowler )
 Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik


 Melakukan perawatan panyudara (breast care) dan meminta klien untuk mendemontrasikannya
 Menganjurkan klien untuk menyusui bayinya
 Mengobservasi cara klien memberikan ASI


 Mengobservasi daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda bedah
 Memantau TTV terutama suhu
 Melakukan perawatan luka
 Menganjurkan klien untuk memperhatikan kebersihan luka

EVALUASI KEPERAWATAN
Nama / umur : Ny. M
Ruang / kamar : Seruni / isolasi
No. Dx Hari /
tanggal Jam
Perkembangan Paraf
1
















2




















1















2














3 Rabu,
16/12/09















Rabu,
16/12/09



















Kamis,
17/12/09














Kamis,
17/12/09













Kamis,
17/12/09 11.30
















11.30




















14.30















14.30














14.45 S :
- klien mengatakan nyerinya sedikit berkurang dengan nafas dalam
- klien mengatakan nyaman dengan posisi semi fowler
O :
- klien tampak menggunakan nafas dalam untuk mengurangi nyeri
- klien tampak tenang dengan posisi semi fowler
- skala nyeri 5
- TTV : TD : 110/70 Mmhg Nadi : 82 x/m RR : 20x/m S : 36 derajat
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan
Observasi skala nyeri dan TTV

S :
- Klien mengtakan ASI nya masih belum lancar
- Klien mengatakan belum tau tentang perawatan panyudara
O :
- Teraba alveoli yang banyak pada panyudara klien
- ASI tampak keluar sedikit
- Panyudara klien tampak bengkak
- Klien tampak mencoba melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang sudah diajarkan
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan
Lakukan perawatan panyudara
Minta klien melakukan hal yang sama
Observasi cara klien menyusui bayinya




S :
- Klien mengatakan nyerinya sudah sedikit berkurang dari sebelumnya
- Klien mengatakan ingin duduk
O :
- Klien tampak sesekali meringis
- Klien tampak tenang
- Skala nyeri 4
- Klien tampak duduk ditempat tidur
- TTV TD : 110/80 Mmhg N : 80x/m S : 36,5 derajat
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan


S :
- Klien mengatakan ASI nya sudah lancar
O :
- Alveoli teraba sudah jauh berkurang
- ASI tampak keluar dengan lancar
- Panyudara sudah tidak bengkak
- Klien tampak menyusui bayinya dengan posisi yang benar
A :
- Masalah teratasi
P :
- Tindakan dihentikan dan dipertahankan


S :
- Klien mengatakan masih nyeri pada luka post operasi SC diperutnya tetapi sudah berkurang
- Klien mengatakan akan mempertahan kan kebersihan luka
O :
- Klien tampak sesekali meringis kesakitan
- Keadaan luka merah(-), bengkak(-), panas(-) s=63,5drajat nyeri(+), penurunan fungsi(+) proteksi
A:
- Masalah teratasi sebagian
P:
- Intervensi dilanjutkan






















BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengkajian
k. TTV :
- TD : 120/80 Mmhg biasanya normal seperti saat hamil
- N : 60-80 x/m , bradikardi : 50-70 x/m
- P : 16-24 x/m
- S : 36,2 c

l. Payudara : membesar hiperpigmentasi pada ariola putting menonjol pada pusat partum hari kedua mungkin tampak membengkak dan nyeri karena proses laktasi.
m. Abdomen : fundus terasa keras , ada luka operasi
n. Lochea (+) sesuai hari post partum
o. Perineum : utuh , terdapat hemoroit / tidak
p. Eliminasi
BAK : dalam jumblah yang cukup setiap 4-6 jam, distensi kk tidak terjadi. BAB : akan kembali normal setelah 2-3 haripost partum

q. Ekstermitas bawah : tidak ada tanda nyeri homen tidak ada
r. Neorusensori : kerusakan gerakan sensori dibawah tinggkat anastesia spinal epidural
s. Psikologis : 24 jam pertama ibu lebih berfokus pada kebutuhan sendiri, menceritakan pengalaman melahirkan mungkin sangat pembicara / pendiam.
t. Pemiriksa Lab : HB,HT ,leukosit, dan eliktrolit yang diindikasikan serta protein urine.

Pengkajian pada kasus
Data subjektif :
- Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di peru8tnya.
- Klien mengatakan masih sering mulas-mulas.
- Klien mengatakan ASI masih belum lancar dan bayinya belum mau menyusui
-
Data objektif :
- k/u klien sedang CM
- obtetri: P2-A0-AH3
- TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
- Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
- Saat ditunjukan skala nyeri klien menunjukan angka 5
- Payudara klien tampak membesar, areola hyperpigmentasi, papila experted, terdapat ASI dan alveoli
- Abdomen teraba keras (uteru), terdapat shi9e dan linea nigra
- TFU: 3 jari di bawah umbilikus, konsisten uterus tegang dan kontraksi positif
- Distensi rektiabdominalis P=7cm, L=2cm
- Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh
- Lochea positif, konsistensi encer warna merah terang kurang lebih 50cc, berbau khas. Kapilarirefil kurang dari 2detik, Turgor kulit elastis, Reflek patela baik, Tidak terdapat tanda human
- Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe
- Post partum hari kedua

B. Diagnose keperawatan
DX. teori
8. Nyeri b/d luka post operasi op SC
9. Resti infeksi b/d adanya luka post op SC
10. Resti perubahan perpusi jaringan se$reberal b/d epek anastesi
11. Ketrbatasan kemampuan aktivitas b/d post op SC , efek anastesi
12. Proses laktasi tidak efektip tidak efektif b/d pembengkakan panyudara kurang pengetahuan tentang perawatan panyudara
13. Perubahan proses parenting b/d kurangnya informasi mengenai kebutuhan merawat bayi
14. Kurang pengatahuan tentang perawatan SC dan efek anstesi b/d kurangnya informasi
Dx. Kasus
- Gangguan rasa nyaman: Nyeri b/d adanya luka post Op SC pada abdomen.
- Proses laktasi tidak efektif b/d pembekakan pada payu dara
- Resti infeksi b/d adanya luka post Op SC pada abdomen
C. Intervensi keperawatan
Intervensi teori
Dx. 1
- Tentukan karekteristik dan lokasi nyeri
- Berikan posisi yang nyaman dan nyaman
- Anjurkan tehnik latihan nafas dalam
- Berikan informasi penyebab nyeri
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesic
Dx. 2
- Observasi daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda infeksi : kemerahan, bengkak, nyeri, panas, dan penurunan fungsi
- Pantau TTV terutama suhu
- Berikan informasi kepada klien untuk melakukan personal hygine terutama di daerah luka op
- Ganti perban dengan tehnik steril
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antibiotic
- Pantau derajat kontrativitas utara dan warna serta jumlah locthea
- Messege fundus dengan perlahan
- Infeksi laserasi perineum bila ada, tekan pembalut yang bersih terhadap perineum dan intruksikan ibu untuk merapatkan paha
- Observasi TTV
- Pantau intake dan output
- Berikan cairan parenteral sesuai indikasi
Dx. 4
- Kaji tingkat aktivitas klien dalam memenihi kebutuhannya
- Bantu klien dalam memenihi aktivitas dan mobilisasi
- Bantu klien dalam memenihi kebutuhan sehari-hari


Dx. 5
- Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara
- Demontrasikan cara perawatan panyudara yang benar
- Anjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang sudah perawat ajarkan
- Ajarkan klien cara memberikan ASI yang benar
Dx. 6
- Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga mengenai perawatan tali pusat yang benar dan memandikan bayi
- Berikan penkes mengenai cara pearawatan bayi sesuai kebutuhan missal : perawatan tali pusat yang benar
- Demontrasikan hal yang dipenkeskan sesuai kebutuhan
Dx. 7
- Kaji tingkat pengetahuan dan kesiapan klien untuk diberikan penyuluhan
- Berikan informasi atau penyuluhan yang berhubungan dengan perubahan fisiologis, masa nifas dan perawatan pos op
Intervensi kasus
Dx 1
• Kaji lokasi dan penyebab nyeri
• Kaji skala nyeri
• Berikan posisi yang amam dan nyaman (semifowler)
• Ajarkan tehnik relaksasi:nafas dalam
• Kolaborasi dgn dr. Pemberian analgesik

Dx. 2
 Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara
 Demontrasikan cara perawatan panyudara dengan benar
 Anjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang perawat ajarkan
 Ajarkan klien cara memnerikan ASI yang benar
Dx. 3
 Observasi pada daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda infeksi
 Pantau TTV terutama suhu
 Anjurkan klien untuk untuk minum, perhatikan personal hygien terutama pada daerah luka operasi
 Lakukan perawatan muka dengan tehnik steril
 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotic

D. Implementasi keperawatan
Implementasi pada tiori
merupakan pelaksanaan/tindakan yang dilakukan kepada klienn sesuai dengan diagnose dan intervensi keperawatan yang ada.
Implementasi pada kasus
E. Mengkaji skala nyeri dan TTV
F. Mengajarkan teknik relaksasi : nafas dalam
G. Memberikan posisi yang nyaman ( semi fowler )
H. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

 Mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara
 Mendemontrasikan tentang cara perawatan panyudara
 Menganjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan perawat ajarkan
 Mengajarkan klien memberiakan ASI yang benar

I. Mengkaji skala nyeri dan TTV
J. Mengajarkan teknik relaksasi : nafas dalam
K. Memberikan posisi yang nyaman ( semi fowler )
L. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

 Melakukan perawatan panyudara (breast care) dan meminta klien untuk mendemontrasikannya
 Menganjurkan klien untuk menyusui bayinya
 Mengobservasi cara klien memberikan ASI

 Mengobservasi daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda bedah
 Memantau TTV terutama suhu
 Melakukan perawatan luka

Menganjurkan klien untuk memperhatikan kebersihan luka
E. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi teori
- Nyeri berkurang / hilang dengan skala 1
- Infeksi tidak terjadi
- Perubahan perfusi jaringan serebral tidak terjadi dan tidak ad pendarahan post partum
- Klien dapat mandiri dalam melakukan aktifitas sehari-hari
- Proses laktasi kembali efektif
- Tidak terjadi proses parenting
- Klien mengungkapkan pemantamannya mengenai perubahan fisiologis dan melakukan aktivitas secara tepat
Evaluasi pada kasus
Dx.1Hari pertama
S :
- klien mengatakan nyerinya sedikit berkurang dengan nafas dalam
- klien mengatakan nyaman dengan posisi semi fowler
O :
- klien tampak menggunakan nafas dalam untuk mengurangi nyeri
- klien tampak tenang dengan posisi semi fowler
- skala nyeri 5
- TTV : TD : 110/70 Mmhg Nadi : 82 x/m RR : 20x/m S : 36 derajat
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan
Observasi skala nyeri dan TTV

Dx. 2 Hari pertama
S :
- Klien mengtakan ASI nya masih belum lancar
- Klien mengatakan belum tau tentang perawatan panyudara
O :
- Teraba alveoli yang banyak pada panyudara klien
- ASI tampak keluar sedikit
- Panyudara klien tampak bengkak
- Klien tampak mencoba melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang sudah diajarkan
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan
Lakukan perawatan panyudara
Minta klien melakukan hal yang sama
Observasi cara klien menyusui bayinya



Dx. 1 Hari kedua
S :
- Klien mengatakan nyerinya sudah sedikit berkurang dari sebelumnya
- Klien mengatakan ingin duduk
O :
- Klien tampak sesekali meringis
- Klien tampak tenang
- Skala nyeri 4
- Klien tampak duduk ditempat tidur
- TTV TD : 110/80 Mmhg N : 80x/m S : 36,5 derajat
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan

Dx. 2 Hari kedua
S :
- Klien mengatakan ASI nya sudah lancar
O :
- Alveoli teraba sudah jauh berkurang
- ASI tampak keluar dengan lancar
- Panyudara sudah tidak bengkak
- Klien tampak menyusui bayinya dengan posisi yang benar
A :
- Masalah teratasi
P :
- Tindakan dihentikan dan dipertahankan
Dx. 3 Hari pertama
S :
- Klien mengatakan masih nyeri pada luka post operasi SC diperutnya tetapi sudah berkurang
- Klien mengatakan akan mempertahan kan kebersihan luka
O :
- Klien tampak sesekali meringis kesakitan
- Keadaan luka merah(-), bengkak(-), panas(-) s=63,5drajat nyeri(+), penurunan fungsi(+) proteksi
A:
- Masalah teratasi sebagian
P:
- Intervensi dilanjutkan





















DATA FOKUS
Nama klien / umur : Ny.M/37thn
Ruang / kamar : Seruni/Isolasi
Data Obyektif Data Subyektif
a. k/u klien sedang CM
b. obtetri: P2-A0-AH3
c. TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
d. Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
e. Saat ditunjukan skala nyeri klien menunjukan angka 5
f. Payudara klien tampak membesar, areola hyperpigmentasi, papila experted, terdapat ASI dan alveoli
g. Abdomen teraba keras (uteru), terdapat shi9e dan linea nigra
h. TFU: 3 jari di bawah umbilikus, konsisten uterus tegang dan kontraksi positif
i. Distensi rektiabdominalis P=7cm, L=2cm
j. Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh
k. Lochea positif, konsistensi encer warna merah terang kurang lebih 50cc, berbau khas. Kapilarirefil kurang dari 2detik, Turgor kulit elastis, Reflek patela baik, Tidak terdapat tanda homan
l. Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe
m. Post partum hari kedua n. Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di peru8tnya.
o. klien mengatakan masih sering mulas-mulas.
p. Klien mengatakan ASI masih belum lancar dan bayinya belum mau menyusui










ANALISA DATA
Nama klien / umur : Ny.M/37thn
Ruang / kamar : Seruni/Isolasi
No Data Masalah Etiologi
1















2








3 DS:
q. Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di peru8tnya.
r. klien mengatakan masih sering mulas-mulas.
Do:
s. k/u klien sedang CM
t. obtetri: P2-A0-AH3
u. TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
v. Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
w. Saat ditunjukan skala nyeri klien menunjukan angka 5
x. Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh
y. TFU: 3 jari di bawah umbilikus, konsisten uterus tegang dan kontraksi positif
Ds:
• Klien mengatakan ASI masih belum lancar dan bayinya belum mau menyusui
Do:
z. Payudara klien tampak membesar,
aa. Areola hyperpigmentasi, papila experted,
bb. Terdapat ASI dan alveoli
cc. Post partum hari kedua

Ds:
dd. Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di perutnya.
Do:
ee. TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
ff. Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
gg. Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh Gangguan rasa nyaman :nyeri














Proses laktasi tidak efektif








Resti infeksi





Adanya luka post Op SC pada abdomen













Pembengkakan pada payudara








Adanya luka post Op SC pada abdomen


DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama klien / umur :Ny.M/37thn
Ruang / kamar :Seruni/Isolasi

No Masalah Dx Tanggal ditemukan Tanggal teratasi Nama jelas
1



2


3






Gangguan rasa nyaman: Nyeri b/d adanya luka post Op SC pada abdomen.


Proses laktasi tidak efektif b/d pembekakan pada payu dara
Resti infeksi b/d adanya luka post Op SC pada abdomen
16 Des 2009



16 Des 2009


17 Des 2009 17 Des 2009
Teratasi sebagian


17 Des 2009
Teratasi

17 Des 2009
Teratasi sebagian Klpmk
6


Klmpk
6

Klmpk
6

















RENCANA KEPERAWATAN
Nama klien / umur :Ny.M/37thn
Ruang / kamar :Seruni/Isolasi

No Tgl Diagnosa Tujuan & kriteria hasil Intervensi paraf
1










2






















3 16
Des
09








16
Des
09




















17
Des
09 Gangguan rasa nyaman: Nyeri b/d adanya luka post Op SC pada abdomen.







Proses laktasi tidak efektif b/d pembekakan pada payu dara



















Resti infeksi berhubungan dengan adanya luka post off SC pada abdomen

Setelah dilakukan tidakan kep selama 2x24jam nyeri dpt berkurang/hilang dg KH:skala nyeri 2-0, keluhan nyeri tdk ada,TTV dalam batas normal.



Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam proses laktasi kembali efektif. Dengan KH : pembengkakan panyudara tidak ada alveoli berkurang ASI keluar dengan lancar klien dapat melakukan perawatan panyudara dengan benar.











Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 resti infeksi tidak terjadi dengan KH : tidak ada tanda-tanda infeksi (nyeri, kemerahan, panas, bengkak, penurunan fungsi) TTV dalam batas normal :
TD : 120/80 N : 60-80x/Menit RR : 16-20x/Menit S : 36-37 derajat o Kaji lokasi dan penyebab nyeri
o Kaji skala nyeri
o Berikan posisi yang amam dan nyaman (semifowler)
o Ajarkan tehnik relaksasi:nafas dalam
o Kolaborasi dgn dr. Pemberian analgesik

 Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara

 Demontrasikan cara perawatan panyudara dengan benar

 Anjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang perawat ajarkan

 Ajarkan klien cara memnerikan ASI yang benar



 Observasi pada daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda infeksi
 Pantau TTV terutama suhu
 Anjurkan klien untuk untuk minum, perhatikan personal hygien terutama pada daerah luka operasi
 Lakukan perawatan muka dengan tehnik steril
 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik













Klp 6

















CATATAN KEPERAWATAN

Nama klien / umur : Ny.M/37thn
Ruang / kamar : Seruni/Isolasi
Hari /
tanggal Jam No. Dx Tindakan keperawatan dan kriteria hasil paraf
Rabu,
16/12/09




Rabu,
16/12/09







Kamis,
17/12/09





Kamis,
17/12/09




Kamis,
17/12/09

11.20





11.20








14.30






14.40





14.45 1





2








1






2





3 M. Mengkaji skala nyeri dan TTV
N. Mengajarkan teknik relaksasi : nafas dalam
O. Memberikan posisi yang nyaman ( semi fowler )
P. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

 Mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara
 Mendemontrasikan tentang cara perawatan panyudara
 Menganjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan perawat ajarkan
 Mengajarkan klien memberiakan ASI yang benar



Q. Mengkaji skala nyeri dan TTV
R. Mengajarkan teknik relaksasi : nafas dalam
S. Memberikan posisi yang nyaman ( semi fowler )
T. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik


 Melakukan perawatan panyudara (breast care) dan meminta klien untuk mendemontrasikannya
 Menganjurkan klien untuk menyusui bayinya
 Mengobservasi cara klien memberikan ASI


 Mengobservasi daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda bedah
 Memantau TTV terutama suhu
 Melakukan perawatan luka
 Menganjurkan klien untuk memperhatikan kebersihan luka

EVALUASI KEPERAWATAN
Nama / umur : Ny. M
Ruang / kamar : Seruni / isolasi
No. Dx Hari /
tanggal Jam
Perkembangan Paraf
1
















2




















1















2














3 Rabu,
16/12/09















Rabu,
16/12/09



















Kamis,
17/12/09














Kamis,
17/12/09













Kamis,
17/12/09 11.30
















11.30




















14.30















14.30














14.45 S :
- klien mengatakan nyerinya sedikit berkurang dengan nafas dalam
- klien mengatakan nyaman dengan posisi semi fowler
O :
- klien tampak menggunakan nafas dalam untuk mengurangi nyeri
- klien tampak tenang dengan posisi semi fowler
- skala nyeri 5
- TTV : TD : 110/70 Mmhg Nadi : 82 x/m RR : 20x/m S : 36 derajat
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan
Observasi skala nyeri dan TTV

S :
- Klien mengtakan ASI nya masih belum lancar
- Klien mengatakan belum tau tentang perawatan panyudara
O :
- Teraba alveoli yang banyak pada panyudara klien
- ASI tampak keluar sedikit
- Panyudara klien tampak bengkak
- Klien tampak mencoba melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang sudah diajarkan
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan
Lakukan perawatan panyudara
Minta klien melakukan hal yang sama
Observasi cara klien menyusui bayinya




S :
- Klien mengatakan nyerinya sudah sedikit berkurang dari sebelumnya
- Klien mengatakan ingin duduk
O :
- Klien tampak sesekali meringis
- Klien tampak tenang
- Skala nyeri 4
- Klien tampak duduk ditempat tidur
- TTV TD : 110/80 Mmhg N : 80x/m S : 36,5 derajat
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan


S :
- Klien mengatakan ASI nya sudah lancar
O :
- Alveoli teraba sudah jauh berkurang
- ASI tampak keluar dengan lancar
- Panyudara sudah tidak bengkak
- Klien tampak menyusui bayinya dengan posisi yang benar
A :
- Masalah teratasi
P :
- Tindakan dihentikan dan dipertahankan


S :
- Klien mengatakan masih nyeri pada luka post operasi SC diperutnya tetapi sudah berkurang
- Klien mengatakan akan mempertahan kan kebersihan luka
O :
- Klien tampak sesekali meringis kesakitan
- Keadaan luka merah(-), bengkak(-), panas(-) s=63,5drajat nyeri(+), penurunan fungsi(+) proteksi
A:
- Masalah teratasi sebagian
P:
- Intervensi dilanjutkan



































BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Setalah menguraikan pembahasan pada klien Ny.N post partum dengan indikasi Gemilli di RS Seruni RSUD Tarakan Jakarta,kelompok dapat membuat kesimpulan sebagai berikut :
Pada umumnya data yang didapat pada saat pengakajian sesuai dengan teori. Dan kami melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan pada tahap sebelumnya. Pada tahap perencanaan kelompok melaksanakan sesuai dengan perioritas, tujuan criteria hasil dan intervensi keperawatan. Penyusunan perioritas masalah yang kelompok lakukan berdasarkan kebutuhan klien, kondisi klien dan sesuai dengan fasilitas yang ada diruangan Rumah Sakit.Pada tahap implimentasi tidak ada kesenjangan yang kelompok dapatkan karena sesuai dengan rencana tindakan yang telah ditetapkan.

B. SARAN

1.Perawat Ruangan
A.Perawat perlu menuliskan implementasi pada catatan perawatan secara keseluruhan berdasarkan pada perubahan fisiologisnya terutama pada masalah komplikasi cesar
B.Perlunya komunikasi dengan perawat ruangan untuk melanjutkan tindakan mengobservasi perubahan fisiologis dan fisikologis terutama komplikasi cesar.
C.Memberikan penyuluhan kesehatan terhadap keluarga sehingga tidak ada keluarga yang masih melakukan kebiasaan hidup tidak bersih selama merawat .
2. Keluarga
Menganjurkan keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan
3. Mahasiswa
Perlu komunikasi dan interaksi yang baik denagn perawat ruangan dalam mengevaluasi perkembangan klien dan kolaborasi dalam melakukan intervensi.









REFERENSI

Doengus, Marylin E. (2001) rencana maternal / bayi, Ed. 2, Jakarta : EGC
Farer, Helen (1998), perawatan maternitas Ed. 2, Jakarta : EGC
Manuiba Ida Bagus Cide, (2007), Pengantar Kuliah Obstetri, Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam (1998), Sinepsis Obstetri, Jakarta : EGC
www.google.com

Askep Myoma Uteri

Askep Ibu dengan Myoma Uteri
A. Pengertian
Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid.
Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%), belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche.
B. Etiologi
Walaupun myoma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti, namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa myoma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen.
C. Lokalisasi Mioma Uteri
1. Mioma intramural ; Apabila tumor itu dalam pertumbuhannya tetap tinggal dalam dinding uterus.
2. Mioma Submukosum ; Mioma yang tumbuh ke arah kavum uteri dan menonjol dalam kavum itu.
3. Mioma Subserosum ; Mioma yang tumbuh ke arah luar dan menonjol pada permukaan uterus.
D. Komplikasi
1. Pertumbuhan leimiosarkoma.
Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar, sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause
2. Torsi (putaran tangkai)
Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau proses ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut.
3. Nekrosis dan Infeksi
Pada myoma subserosum yang menjadi polip, ujung tumor, kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina, dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.
E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun, Albumin : turun, Lekosit : turun / meningkat, Eritrosit : turun
2. USG : terlihat massa pada daerah uterus.
3. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan ukurannya.
4. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.,
5. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi.
6. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi tindakan operasi.
F. Cara Penanganan Mioma Uteri
Indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan, cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan. Adapun cara penanganan pada myoma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal. Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO). TAH–BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus, serviks, kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding, perut pada malignan neoplasmatic desease, leymyoma dan chronic endrometriosis (Tucker, Susan Martin, 1998).
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
….
B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan eliminasi urin (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasm pada daerah sekitarnnya, gangguan sensorik / motorik.
2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot
3. Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak, perubahan dalam masalah kewanitaan, akibat pada hubungan seksual.
4. Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan terjadinya perdarahan yang berulang-ulang.
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.
Rencana Keperawatan
Dx 1
Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf akibat penyempitan kanalis servikalis oleh myoma
Tujuan
Klien dapat mengontrol nyerinya dengan criteria hasil mampu mengidentifikasi cara mengurangi nyeri, mengungkapkan keinginan untuk mengontrol nyerinya.
Intervensi dan Rasional
1. Observasi adanya nyeri dan tingkat nyeri.
Memudahkan tindakan keperawatan
2. Ajarkan dan catat tipe nyeri serta tindakah untuk mengatasi nyeri
Meningkatkan persepsi klien terhadap nyeri yang dialaminya.
3. Ajarkan teknik relaksasi
Meningkatkan kenyamanan klien
4. Anjurkan untuk menggunakan kompres hangat
Membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien
5. Kolaborasi pemberian analgesik
Mengurangi nyeri
Dx 2
Gangguan eliminasi urine (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada daerah sekitarnnya, gangguan sensorik / motorik.
Tujuan
Pola eliminasi urine ibu kembali normal dengan criteria hasil ibu memahami terjadinya retensi urine, bersedia melakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan retensi urine.
Intervensi dan Rasional
1. Catat pola miksi dan monitor pengeluaran urine
Melihat perubahan pola eliminasi klien
2. Lakukan palpasi pada kandung kemih, observasi adanya ketidaknyamanan dan rasa nyeri.
Menentukan tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien
3. Anjurkan klien untuk merangsang miksi dengan pemberian air hangat, mengatur posisi, mengalirkan air keran.
Mencegah terjadinya retensi urine
Daftar Pustaka
Bagian Obstetri & Ginekologi FK. Unpad. 1993. Ginekologi. Elstar. Bandung
Carpenito, Lynda Juall, 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta
Galle, Danielle. Charette, Jane.2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. EGC. Jakarta
Hartono, Poedjo. 2000. Kanker Serviks/Leher Rahim & Masalah Skrining di Indonesia. Kursus Pra kongres KOGI XI Denpasar. Mimbar Vol.5 No.2 Mei 2001
Saifidin, Abdul Bari,dkk. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI. Jakarta

askep gemelli

Asuhan Keperawatan Gemelli ( Kehamilan Kembar )
Kata Pengantar
Alhamdulillah Penulis ucapkan atas petunjuk dan Rahmat yang diberikan Allah SWT, sehingga Penulis mampu menyelesaikan makalah ini dengan judul :
“ Asuhan Keperawatan Gemelli ( Kehamilan Kembar ) “
Makalah ini merupakan salah satu syarat untuk melengkapi tugas mata kuliah Keperawatan. Dalam penulisan makalah ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengajar serta sahabat yang selalu memberikan motivasi, teman teman dan semua pihak yang telah membantu. Penulis menyadari masih banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu Penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaannya.
Semoga makalah ini bisa di iplementasikan pada penulisan proposal dan Karya Tulis Ilmiah nantinya.

Pare pare, 28 Sepetember 2009

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Kehamilan ganda atau kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih ( Rustam Mochtar, 1998 ).
Kehamilan kembar mempengaruhi ibu dan janin, diantaranya adalah kebutuhan akan zat-zat ibu bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan defisiensi zat-zat lainnya, terhadap janin yaitu usia kehamilan tambah singkat dengan bertambahnya jumlah janin pada kehamilan kembar : 25% pada gemelli, 50% pada triplet, 75% pada quadruplet, yang akan lahir 4 minggu sebelum cukup bulan.Jadi kemungkinan terjadinya bayi premature akan tinggi. Persalinan dengan kehamilan kembar memiliki resiko lebih tinggi dari pada persalinan satu janin ( Tunggal ). Semakin banyak jumlah janin yang dikandung ibu, semakin tinggi resiko yang akan ditanggung ibu.

B.TUJUAN
1.Mengetahui pengertian dari kehamilan kembar
2.Mengetahui teologi dari kehamilan kembar
3.Mengetahui patofisiologi
4.Mengetahui tentang pertumbuhan janin kembar
5.Mengetahui perbedaan cirri, sifat antara kembar monozigotik dan dizigotik
6.Mengetahui cara mendiagnosis kehamilan kembar
7.Mengetahui pengaruh kehamilan kembar terhadap ibu dan janin.
8.Mengetahui cara penanganan hamil kembar dalam kehamilan dan persalinan.
9.Mengetahui istilah, indikasi, jenis, kompliksi dalam gemelli

BAB II
TINJAUAN TEORI
KEHAMILAN KEMBAR ( GANDA )
A.Pengertian
Kehamilan ganda atau kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih ( Rustam Mochtar, 1998 )

B.Etiologi

1.Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah ; bangsa, umur, dan paritas sering mempengaruhi kehamilan kembar 2 telur.
2.Faktor obat-obat induksi ovulasi: profertil, clomid, dan hormone gonadotropin dapat menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih dari 2.
3.Faktor keturunan
4.Faktor yang lain belum diketahui
@ Faktor bangsa
Mempengaruhi kehamilan ganda : di AS lebih banyak dijumpai pada wanita kulit hitam dibandingkan kulit putih. Angka tertinggi kehamilan ganda dijumpai di Finlandia dan terendah Jepang.
@ Faktor umur
Makin tua, makin tinggi angka kejadian kehamilan kembar dan menurunan lagi setelah umur 40 tahun.
@ Paritas
Pada primipara 9,8 per 1000 dan multipara ( Oktipara ) naik jadi 18,9 per 1000 persalinan.
@ Keturunan
Keluarga tertentu akan cenderung melahirkan anak kembar yang biasanya diturunkan secara paternal, namun dapat pula secara maternal.

C.Patofisiologi
Pada kehamilan kembar distensi uterus berlebihan, sehingga melewati batas toleransi dan seringkali terjadi putus prematurus. Lama kehamilan kembar dua rata-rata 260 hari, triplet 246 hari dan kuadruplet 235 hari. Berat lahir rata-rata kehamilan kembar ± 2500gram, triplet 1800gram, kuadriplet 1400gram. Penentuan zigositas janin dapat ditentukan dengan melihat plasenta dan selaput ketuban pada saat melahirkan. Bila terdapat satu amnion yang tidak dipisahkan dengan korion maka bayi tesebut adalah monozigotik. Bila selaput amnion dipisahkan oleh korion, maka janin tersebut bisa monozigotik tetapi lebih sering dizigotik.1,2 Pada kehamilan kembar dizigotik hampir selalu berjenis kelamin berbeda. Kembar dempet atau kembar siam terjadi bila hambatan pembelahan setelah diskus embrionik dan sakus amnion terbentuk, bagian tubuh yang dimiliki bersama dapat.
Secara umum, derajat dari perubahan fisiologis maternal lebih besar pada kehamilan kembar dibanding dengan kehamilan tunggal. Pada trimester 1 sering mengalami nausea dan muntah yang melebihi yang dikarateristikan kehamilankehamilan tunggal. Perluasan volume darah maternal normal adalah 500 ml lebih besar pada kehamilan kembar, dan rata-rata kehilangan darah dengan persalinan vagina adalah 935 ml, atau hampir 500 ml lebih banyak dibanding dengan persalinan dari janin tunggal. Massa sel darah merah meningkat juga, namun secara proporsional lebih sedikit pada kehamilan-kehamilan kembar dua dibanding pada kehamilan tunggal, yang menimbulkan” anemia fisiologis” yang lebih nyata. Kadar haemoglobin. kehamilan kembar dua rata-rata sebesar 10 g/dl dari 20 minggu ke depan. Sebagaimana diperbandingkan dengan kehamilan tunggal, cardiac output meningkat sebagai akibat dari peningkatan denyut jantung serta peningkatan stroke volume. Ukuran uterus yang lebih besar dengan janin banyak meningkatkan perubahan anatomis yang terjadi selama kehamilan. Uterus dan isinya dapat mencapai volume 10 L atau lebih dan berat lebih dari 20 pon. Khusus dengan kembar dua monozygot, dapat terjadi akumulasi yang cepat dari jumlah cairan amnionik yang nyata sekali berlebihan, yaitu hidramnion akut. Dalam keadaan ini mudah terjadi kompresi yang cukup besar serta pemindahan banyak visera abdominal selain juga paru dengan peninggian diaphragma. Ukuran dan berat dari uterus yang sangat besar dapat menghalangi keberadaan wanita untuk lebih sekedar duduk.
Pada kehamilan kembar yang dengan komplikasi hidramnion, fungsi ginjal maternal dapat mengalami komplikasi yang serius, besar kemungkinannya sebagai akibat dari uropati obstruktif. Kadar kreatinin plasma serta urin output maternal dengan segera kembali ke normal setelah persalinan. Dalam kasus hidramnion berat, amniosintesis terapeutik dapat dilakukan untuk memberikan perbaikan bagi ibu dan diharapkan untuk memungkinkan kehamilan Berbagai macam stress kehamilan serta kemungkinan-kemungkinan dari komplikasi-komplikasi maternal yang serius hampir tanpa kecuali akan lebih besar pada kehamilan kembar.

D.Frekuensi
Menurut Hukum Hellin ; Frekuensi antara kehamilan kembar dan tunggal adalah :
Gemelli (2) : 1 : 80
Triplet (3) : 1 : 802
Quadruplet : 1 : 803
Quintuplet : 1 : 804
Sextuplet : 1 : 805

E.Jenis Gemelli
1.Gemelli Dizigotik ( Kembar 2 telur, heterolog, bioviler, dan fraternal )
1 Ovarium dan dari 2 folikel de Graff
1 Ovarium dan dari 1 folikel de Graff
1 Ovarium kanan dan 1 dari ovarium kiri
2.Gemelli monozigotik ( Kembar 1 telur, homolog, uniovuler, identik )
Dapat terjadi karena :
1 telur dengan 2 inti, hambatan pada tingakat blastula
Hambatan pada tingkat segmentasi
Hambatan setelah amnion dibentuk, tetapi sebelum primitive streak.
Perbedaan ciri, sifat, dan lain-lainnya antara kembar monozogotik dan dizigotik
Plasenta 1 (70%) 2 (+100%) 2 (30%)
Korion 1 (70%) 2 (+100%) 2 ( 30%)
Amnion 1 (70%) 2 (+100%) 2 (30%)
Tali pusat 2 2
Sirkulasi darah janin bersekutu terpisah
Sekat kedua kantong 2 lapis 4 lapis
Jenis kelamin sama sama atau tidak
Rupa dan sifat sama agak berlainan
Mata,telinga, gigi, kulit sama
Berbeda
Sama atau tidak
Agak berlainan
Ukuran antropologik sama
Berbeda
3.Conjoinet twins, superfrekuendasi, dan superfetasi
Conjoined twins/ kembar siam adalah kembar dimana janin melekat satu dengan yang lainnya. Misalnya : torakofagus ( Dada dengan dada ), abdominofagus ( Perlekatan kedua abdomen ), Kraniofagus ( Kedua kepala ), dsb

Superfekundasi adalah pembuahan dua telur yang dikeluarkan pada ovulasi yanga sama pada dua kali coitus yang dilakukan pada jarak waktu yang pendek.

Superfetasi adalah kehamilan kedua yang terjadi beberapa minggu atau bul,an setelah kehamilan pertama.


F.Pertumbuhan Janin kembar
1.Berat badan 1 janin kehamilan kembar rata – rata 1000 gram lebih ringan dari jenis tunggal.
2.Berat badan baru lahir biasanya pada kembar dua di bawah 2500 gram, triplet dibawah 2000 gram, zuadriplet 1500 gram, dan quintuplet dibawah 1000 gram.
3.Berat badan masing – masing janin dari kehamilan kembar tidak sama, umumnya berselisih antara 50 sampai 1000 gram, dan karena pembegian sirkulasi darah tidak sama, maka yang satu lebih kurang tumbuh dari yang lainnya.
4.Pada kehamilan kembar dizigotik :
Dapat terjadi janin yang satu meninggal dan janin yang lain tumbuh sampai cukup bulan.
Janin yang mati bisa diresorbsi ( Kalau pada kehamilan muda ), atau pada kehamilan yang agak tua, janin jadi pipih yang disebut fetus papyraseus atau kompresus.
5.Pada kehamilan kembar monozogotik :
Pembuluh darah janin yang satu beranastomis dengan janin yang lainnya, karena itu setelah bayi satu lahir tali pusat harus diikat untuk menghindari pendarahan.
Karena itu janin yang satu dapat terganggu pertumbuhannya dan menjadi monstrum, seperti akardiakus dan kelainan lainnya.
Dapat terjadi sindroma transfuse fetal : pada janin yang mendapat darah lebih banyak terjadi hidramnion,polisitemia,oedema, dan pertumbuhan yang baik. Sedangkan janin kedua terlihat kecil, anemis, dehidrasi, oligohidrami, dan mikrokardia, karena kurang mendapat darah.

G.Letak pada presentasi janin
Pada kehamilan kembar sering terjadi kesalahan presentasi dan posisi kedua janin. Begitu pula letak janin kedua, dapat berubah setelah janin pertama lahir, misalnya : dari letak lintang dapat berubah menjadi letak sungsang atau letak kepala. Berbagai kombinasi letak, presantasi dan posisi bisa terjadi. Yang paling sering di jumpai adalah :
Kedua janin dalam letak membujur, presentasi kepala ( 44-47%)
Letak membujur, presentasi kepala bokong ( 37-38%)
Keduanya presentasi bokong ( 8-10
Letak lintang dan presentasi kepala ( 5-5,3%)
Letak lintang dan presentasi bokong ( 1,5-2%)
Dua-duanya letak lintang ( 0,2-0,6%)
Letak dan presentasi “69” adalah letak yang berbahaya, karena dapat terjadi kunci-mengunci ( Interlocking )

H.Diagnosis Kehamilan Kembar
1.Anamnesis
Perut lebih buncit dari semestinya sesuai dengan umur tuanya kehamilan.
Gerakan janin lebih banyak dirasakan ibu hamil.
Uterus terasa lebih cepat membesar.
Pernah hamil kembar atau ada riwayat keturunan kembar.
Apakah telah mendapat pengobatan infertilitas.

2.Inspeksi dan palpasi
Pada pemeriksaan pertama dan ulangan ada kesan uterus lebih besar dan lebih cepat tumbuhnya dari biasa.
Gerakan – gerakan janin terasa lebih sering
Bagian – bagian kecil terasa lebih banyak.
Teraba ada 3 bagian besar janin.
Teraba ada 2 balotement
3.Auskultasi
Terdengar 2 denyut jantung janin pada 2 tempat yang agak berjauhan dengan perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut per menit atau bila dihitung bersamaan terdapata selisih 10.
4.Rotgen foto abdomen
Tampak gambaran 2 Janin.
5.Ultrasografi
Bila tampak 2 janin atau 2 jantung yang berdenyut yang telah dapat ditentukan pada triwulan I/pada kehamilan 10 minggu.
6.Elektrokardiogramn total
Terdapat gambaran 2 EKG yang berbeda dari kedua janin.
7.Reaksi kehamilan
Karena pada hamil kembar pada umumnya plasenta besar atau ada 2 plasenta, maka produksi HCG akan tinggi, jadi titrasi reaksi kehamilan bisa positif, kadang – kadang sampai 1/200. Hal ini dapat dikacaukan dengan mola hidatidosa.
Kadangkala diagnose baru diketahui setelah bayi pertama lahir, uterus masih besar, ternyata masih ada janin satu lamgi dalam rahim. Kehamilan kembar sering terjadi bersamaan dengan hidramnion dan toksemia gravidarum.
8.Pemeriksaan klinik gejala-gejala dan tanda-tanda
Adanya cairan amnion yang berlebihan dan renggangan dinding perut menyebabkan diagnosis dengan palpasi menjadi sukar. Lebih kurang 50 % diagnosis kehamilan ganda dibuat secara tepat jika berat satu janin kurang dari 2500 gram, dan 75 % jika berat badan satu janin lebih dari 2500 gram. Untuk menghindari kesalahan diagnosis, kehamilan ganda perlu dipikirkan bila dalam pemeriksaan ditemukan hal-hal berikut; besarnya uterus melebihi lamanya amenorea, uterus tumbuh lebih cepat dari kehamilan normal, banyak bagian kecil teraba, teraba tiga bagian besar, dan teraba dua balotemen, serta terdengar 2 DJJ dengan perbedaan 10 atau lebih.

Diagnosis pasti :
Secara klinis :
Terdapat 2 kepala, 2 bokong, dan 1 atau 2 punggung
Terdengar 2 DJJ di tempat yang berjauhan dengan perbedaan 10 denyut permenit atau lebih.
USG atau foto roentgen :
Bayangan janin lebih dari 1 . Berdasarkan pemeriksaan USG dapat terlihat 2 bayangan janin atau lebih dengan 1atau 2 kantong amnion. Diagnosis dengan USG sudah setelah kehamilan 6-8 minggu dapat menentukan diagnosis akurat jumlah janin pada uterus dari jumlah kantong gestasional yang terlihat

Diagnosis Differensial :
Kehamilan tunggal dengan janin besar
Hidramnion
Mola Hidatidosa
Kehamilan dengan tumor ( mioma/kista ovarium )

I.Komplikasi
Komplikasi pada ibu dan janin pada kehamilan kembar lebih besar dibandingkan kehamilan tunggal. Angka kematian perinatal pada kehamilan kembar cukup tinggi, dengan kembar monozigotik 2,5 kali angka kematian kembar dizigotik. Resiko terjadinya abortus pada salah satu fetus atau keduanya tinggi. Pada trisemester pertama kehamilan reabsorbsi satu janin atau keduanya kemungkinan terjadi.
Anemia sering ditemukan pada kehamilan kembar oleh karena kebutuhan nutrisi yang tinggi serta peningkatan volume plasma yang tidak sebanding dengan peningkatan sel darah merah mengakibatkan kadar hemoblobin menjadi turun, keadaan ini berhubungan dengan kejadian edema pulmonum pada pemberian tokolitik yang lebih tinggi dibandingkan kehamilan kembar. Angka kejadian persalinan preterm ( umur kehamilan kurang 37 minggu ) pada kehamilan kembar 43,6 % dibandingkan dengan kehamilan tunggal sebesar 5,6 %.
Frekuensi terjadinya hipertensi yang diperberat kehamilan, preklamsia dan eklamsia meningkat pada kehamilan kembar. Pendarahan antepartum oleh karena solutio plasenta disebabkan permukaan plasenta pada kehamilan kembar jelek sehingga plasenta mudah terlepas. Kematian satu janin pada kehamilan kembar dapat terjadi, penyebab kematian yang umum adalah saling membelitnya tali pusat. ( Benirschke, 1983 ). Bahaya yang perlu dipertimbangkan pada kematian satu janin adanya koagulopati konsumtif berat yang dapat mengakibatkan terjadinya disseminated intravascular coagulopathy.
Kelainan kongenital mayor pada kehamilan kembar meningkat sesuai dengan jumlah kembarnya. Pada kembar triplet, angka kelainan kongenital mayor lebih tinggi dibandingkan kembar dua. Kelainan jantung pada kembar monozigotik 1 : 100 kasus. Perdarahan postpartum dalam persalinan kembar disebabkan oleh overdistension uterus, tendesi terjadinya atonia uterus dan berasal dari insersi plasenta.

Beberapa keadaan yang menyertai kehamilan kembar meliputi ;
1. Aborsi
Aborsi spontan lebih besar kemungkinannya terjadi pada kehamilan kembar. Kembar dua monochorial jauh lebih banyak dibanding kembar dichorial, yang mengimplikasikan monozygot sebagai faktor resiko untuk abortus spontan.
2.Berat Badan Lahir Rendah.
Kehamilan janin kembar lebih besar kemungkinannya dikarakterisasikan dengan berat badan lahir rendah dibandingkan dengan kehamilan tunggal, paling sering disebabkan oleh karena pertumbuhan janin yang terbatas serta persalinan preterm. Secara umum, semakin besar jumlah janin, semakin besar derajat dari keterbatasan pertumbuhan. Beberapa peneliti telah membuat sanggahan bahwa pertumbuhan janin dalam kehamilan berganda berbeda dari yang tunggal, dan bahwa pertumbuhan abnormal hanya dapat didiagnosa pada saat ukuran janin kurang dari diharapkan untuk kehamilan berganda.
Dalam kehamilan dizygotik, perbedaan ukuran yang menyolok biasanya ditimbulakan dari plasentasi yang tidak sama, dengan satu tempat plasenta enerima suplai darah yang lebih baik dibandingkan yang lainnya, namun dapat juga merefleksikan potensial-potensial pertumbuhan genetik yang berbeda. Dalam trisemester III, semakin besar massa janin semakin bertambahnya maturasi plasenta serta insufisiensi plasenta relatif. Perbedaan ukuran dapat juga disebabkan oleh karena abnormalitas umbilicus. Derajat pembatasan pertumbuhan dalam kembar dua monozygot kemungkinannya lebih besar dibandingkan pada pasangan dizygotik.
3. Durasi Kehamilan.
Pada saat jumlah dari janin meningkat, durasi dari kehamilan menurun. Kira-kira separuh dari kembar dilahirkan pada 36 minggu atau kurang dan persalinan sebelum genap bulan merupakan alasan utama untuk peningkatan resiko morbiditas dan mortalitas neonatal pada kembar. Pembatasan pertumbuhan serta morbiditas yang berhubungan, meningkat secara bermakna pada kembar yang dilahirkan antara minggu ke 39 dan 41 dibandingkan dengan persalinan pada 38 minggu atau kurang. Kehamilan kembar dua 40 minggu atau lebih harus dianggap posterm. Hal ini didasarkan pada pengamatan bahwa bayi-bayi kembar dua lahir mati yang dilahirkan saat 40 minggu atau lebih memiliki gambaran-gambaran yang sama dengan bayi tunggal postmatur.

J.Pengaruh terhadap ibu dan janin
1.Terhadap Ibu
Kebutuhan akan zat-zat bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan defisiensi zat-zat lainnya.
Kemungkinan terjadinya hidamnion bertambah 10 kali lebih besar
Frekuensi pre-eklamsi eklamsi lebih sering.
Karena uterus yang besar ibu mengeluh sesak napas, sering miksi, serta terjadi adema dan varises pada tungkai dan vulva.
Dapat terjadi inersia uteri, pendarahan post partum, dan solusio plasenta setelah anak pertama lahir.
2.Terhadap Janin
Usia kehamilan tambah singkat dengan bertambahnya jumlah janin pada kehamilan kembar : 25% pada gemelli, 50% pada triplet, 75% pada quadruplet, yang akan lahir 4 minggu sebelum cukup bulan. Jadi kemungkinan terjadinya bayi premature akan tinggi.
Bila sesudah bayi pertama lahir terjadi solusio plasenta, maka angka kematian bayi kedua tinggi.
Sering terjadi kesalahan letak janin, yang juga akan mempertinggi angka kematian janin.

K.Penatalaksanaan kehamilan kembar
1.Perawatan Prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah komplikasi yang timbul, dan bila diagnosis telah ditegakan pemeriksaan ulang harus lebih sering ( 1x seminggu pada kehamilan > 32 minggu )
2.Setelah kehamilan 30 minggu, koitus dan perjalanan jauh sebaiknya dihindari, karena akan merangsang portus prematurus.
3.Pemakaian korset gurita yang tidak terlalu ketat diperbolehkan, supaya terasa lebih ringan.
4.Periksa darah lengkap, Hb, dan golongan darah.
5.Pematangan paru janin bila ada tanda – tanda portus prematurus yang mengancam dengan pemberian bethametason 24 mg/hari.
6.Rawat inap bila :
Ada kelainan obstetric
Ada his/pembukaan serviks
Adanya hipertensi
Pertumbuhan salah satu janin terganggu
Kondisi social yang tidak baik
Profilaksis/mencegah portus prematurus dengan obat tokolitik.

Untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas perinatal pada kehamilan kembar, perlu dilakukan tindakan-tindakan untuk mencegah terjadinya komplikasi seawall mungkin. Diagnosis dini kehamilan kembar harus dapat ditegakkan sebagai perencanaan pengelolaan kehamilan. Mulai umur kehamilan 24 minggu pemeriksaan antenatal dilakukan tiap 2 minggu, dan sesudah usia kehamilan 36 minggu pemeriksaan dilakukan tiap minggu. Istirahat baring dianjurkan lebih banyak karena hal itu menyebabkan aliran darah keplasenta meningkat agar pertumbuhan janin baik.Kebutuhan kalori, protein, mineral, vitamin dan asam lemak esential harus cukup oleh karena kebutuhan yang meningkat pada kehamilan kembar. Kebutuhan kalori harus ditingkatkan sebesar 300 kalori perhari. Pemberian 60 sampai 100 mg zat besi perhari, dan 1 mg asam folat diberikan untuk menambah zat gizi lain yang telah diberikan. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk mengetahui adanya diskordansi pada kedua janin pengukuran lingkar perut merupakan indikator yang sensitif dalam menentukan diskordansi.Pada kehamilan kembar terjadi peningkatan risiko persalinan preterm, sehingga dilakukan pemberian kortikosteroid diperlukan untuk pematangan paru berupa betamethsone 12 mg/hari , untuk 2 hari saja. Bila tak ada betamethasone dapat diberikan dexamethasone serta pemberian tokolitik.

Percepatan Pematangan Fungsi Paru
• Berdasarkan observasi sebelumnya bahwa kortikosteroid yang diberikan kepada domba betina dapat mempercepat pematangan paru janin preterm, Liggins dan Howie (1972) melakukan studi acak untuk mengevaluasi efek betametason yang diberikan pada ibu (12 mg secara intramuskular dalam dua dosis, selang 24 jam) untuk mencegah gawat nafas pada bayi preterm yang kemudian dilahirkan. Bayibayi yang dilahirkan sebelum minggu ke-34 mengalami penurunan signifikan insiden gawat nafas dan kematian neonatal akibat penyakit membran hialin bila kelahirannya ditunda sekurang-kurangnya 24 jam setelah selesai pemberian betametason 24 jam kepada ibu sampai 7 hari setelah selesai terapi steroid.
• Glack (1979) menekankan bahwa produksi surfaktan kemungkinan dipercepat jauh sebelum aterm pada kehamilan yang dipersulit oleh sejumlah kondisi dan stress pada ibu atau janin. Seperti penyakit ginjal kronis, kardiovaskuler kronis, hipertensi kehamilan, kecanduan heroin, pertumbuhan janin terhambat, infark plasenta, korioamnionitis, atau ketuban pecah preterm. Pandangan ini dianut secara luas meskipun data terbaru menyangkal hubungan ini.
• Owen dak (1990) menyimpulkan bahwa suatu kehamilan yang mengalami “stress” (terutama hipertensi pada kehamilan) tak banyak memberi keuntungan terhadap ketahanan hidup janin. Demikian pula Hallal dan Bottoms (1993) mengkaji 1395 kehamilan yang dilahirkan pada usia gestasi antara 24 dan 35 minggu serta menemukan bahwa ketuban pecah dini tidak berkaitan dengan pematangan paru yang lebih cepat.
• Kortikosteroid mempercepat produksi surfaktan dari pneumosit dan mengurangi insiden kematian neonatus, perdarahan intraserebral, dan enterokolitis. Dosis betametason yang dianjurkan adalah 12.0 mg intramuskular, diulang dalam 24 jam.7 Deksametason diberikan dalam dosis 5 mg dengan interval 6 jam hingga tercapai dosis total 20 mg. Pemberian kortikosteroid harus dimulai 24-48 jam sebelum persalinan.8 Kortikosteroid diberikan untuk menginduksi pematangan paru janin pada kehamilan 24 sampai 34 minggu jika tidak ditemukan tanda-tanda infeksi. Pemberian kortikosteriod pada kehamilan kurang dari 23 minggu masih kontroversi. Pemberian kortikosteroid pada kehamilan kurang dari 23 minggu tidak berguna untuk memperbaiki keadaan pernafasan karena pada janin kurang dari 23 minggu belum terbentuk sel pneumosit yang memproduksi surfaktan.
• Penelitian-penelitian yang dimulai tahun 1970an, yang menindaklanjuti perkembangan anak-anak yang diberi terapi antenatal kortikosteroid sampai umur 12 tahun tidak memperlihatkan efek buruk dibidang perkembangan saraf jangka panjang. Hal ini diukur berdasarkan adanya gangguan belajar, perilaku, dan motorik atau sensorik (National Institute of Health Consensus Development Panel, 1995). Namun terdapat efek jangka pendek pada ibu, antara lain edema paru, infeksi dan pengendalian glukosa yang lebih sulit pada ibu diabetik. Tidak dilaporkan adanya efek jangka panjang pada ibu.
• Kortikosteroid tidak hanya mempengaruhi pematangan paru saja, melainkan juga merangsang persalinan. Jenssen dan Wright (1977), Mati dkk (1973) melaporkan bahwa kortikosteroid dapat menginduksi persalinan pada manusia lebih dari 20 tahun yang lalu. Selain itu, Elliot dan Radin (1995) mengkonfirmasi bahwa kortikosteroid menginduksi kontraksi uterus dan persalinan preterm pada manusia.
• Esplin dkk (2000) membandingkan perkembangan mental dan psikomotor pada 429 bayi dengan berat lahir rendah yang terpajan dua kali atau lebih pemberian kortikosteroid antenatal dengan bayi yang terpajan satu kali pemberian atau tidak mendapatkan pajanan sama sekali. Mereka tidak menemukan adanya manfaat pada dosis berulang. Pajanan terhadap pemberian kortikosteroid berulang secara independen dan signifikan diikuti dengan perkembangan psikomotor yang abnormal.
• Vermillion dkk (2000) dalam sebuah analisis terhadap 453 bayi, menetapkan bahwa sepsis neonatorum awitan dini, korioamnionitis dan kematian neonatal secara signifikan berhubungan dengan pemberian betametason dosis multiple pada ibu. Thorp (2000) dan Guinn (2001) dkk melakukan percobaan prospektif besar dan tidak menemukan manfaat pada pemberian steroid berulang. Dilaporkan terdapat penurunan lingkar kepala yang signifikan pada bayi-bayi yang terpajan steroid. Mercer dkk (2001) melaporkan penurunan berat dan panjang badan lahir yang bergantung dosis pada neonatus yang terpajan terapi steroid antenatal.

Tokolitik
Tokolitik berguna untuk mengurangi kontraksi uterus dan menahan pembukaan