Selasa, 15 Juni 2010

askep post partum cesar dengan indikasi Gemilli

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kehamilan tersebut menarik perhatian ibu itu sendiri, kehamilan dan persalinan akan membawa resiko bagi janin dan sedikit berbahaya pada ibu, tetapi biasanya ibu dengan kehamilan kembar memerlukan perhatian dan perawatan khusus bila di inginkan hasil yang memuaskan bagi ibu dan janin serta keluarga. (winkjosastro, ilmu kebidanan 1999).
Kehamilan ganda atau kembar adalah kehamilan dua janin atau lebih. Yang mempengaruhi kebutuhan akan zat-zat ibu bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan depisiensi dan zat-zat lainnya, terhadap janin yaitu usia kehamilan tambah singkat. (Rustam mochtar, 1998).
Di AS lebih banyak dijumpai pada wanita kulit hitam dibandingkan kulit putih. Angka tertinggi kehamilan ganda di jumpai di Pilandia dan terendah di Jepang. Seperti yang kita ketahui yang biasa terjadi kehamilan ganda ternyata lebih kecil dibandingkan dengan kehamilan Tunggal. Dan berdasarkan survey kelompok bahwa di RS Tarakan khususnya di RB Seruni setahun terahir terdapat 10 % angka kelahiran cesar dengan indikasi gemelli dengan kelainan persentasi.
Pada kenyataan tersebut, ternyata sangat kecil dan kemudian kami ingin membandingkan antara askep post partum normal dengan askep post partum cesar dengan indikasi Gemilli kelainan persentasi,maka demikian kami lebih tertarik menyeslesaikan masalah pada ibu post partum cesar.



B.TUJUAN
TUM
Perawat mampu melakukan askep secara komfrehensif baik mandiri maupun kolaborasi

TUK
• Melaksanakan pengkajian
• Menentukan masalah keperawatan
• Mampu merencanakan keperawatan
• Mampu melaksanakan implementasi
• Mampu melaksanakan evaluasi
• Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat pada teori dan praktek
• Mampu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan








C.SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika yang dalam menyusun makalah ini adalah :

BAB I. Pendahuluan yang terdiri dari Latar belakang, Tujuan Penulisan dan sistematika penulisan
BAB II. Tinjauan Teoritis yang terdiri dari Defenisi Gemelli, Etilogi, Patofisiologi, Tanda dan Gejala Komplikasi dan Pemeriksaan Diagnostik, pengertian de finisi SC, indikasi dan kontra indikasi SC, jenis-jenis operasi SC, komplikasi SC
BAB III. Tinjauan Kasus yang terdiri dari: pengkajian, diagnosa ,intervensi, implementasi dan evaluasi.
BAB IV. Pembahasan yang terdiri dari :
Pengkajian, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi
BAB V.Penutup Yang terdiri dari: Kesimpulan dan Saran
































DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR…………………………………………………………….i
DFTAR ISI …………………………………………………………….ii
BAB I. PENDAHULUAN ……………………………………………………………1
A. Latar Belakang ……………………………………………………………1
B. Tujuan Penulisan ……………………………………………………………1
Tum ……………………………………………………………1
Tuk …………………………..........................……………….1
C. Sistematika Penulisan………………………………………………………...1

BAB II. TINJAUN TEORITIS …………………………………………………….2
A. Pengertian gemeli………………….…………………………………………2
B. Etiologi …………………………………………………………….2
C. Patofisiologi …………………………………………………………….2
D. Tanda dan Gejala …………………………………………………………….3
E. Komplikasi …………………………………………………………….3
F. Pemeriksaan Diagnostik………………………………………………………3
G. penatalaksanaan………………………………………………………………..3
H. Pengertian SC………………………………………………………………….3
I. indikasi dan kontra indikasi SC………………………...………………………4
J. Jenis-jenis SC………….………………………………………………………..4
K. Komplikasi SC…………………………………………………………………4

BAB III. TINJAUAN KASUS …………………………………………………….4
A. Pengkajian………………..…………………………………………………...4
B. Diagnosa ……..………..……………..……………………………………….5
C. Intervensi……………………………………………………………………...6
D.Perencanaan ………………………….………………………………………...7
E. Evaluasi………………………………………………………………………...7

BABIV. IV.PEMBAHASAN……………………………………………………………..7

A. Pengkajian…………………………………………………………………….9
B. Diagnosa…...………………………………………………………………….8
C. Intervensi…….………..…………………………………………..................11
D. Implementasi……....... ……………..…………………………………….12
E. Evaluasi………………………………………………………………………13

BAB V. PENUTUP ………..………………………………………………….14
A. Kesimpulan ..………………………………………………………….14
B. Saran …..……………………………………………………….14


DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian
Gemelli biasa di sebut juga dengan kehamilan kembar(ganda) adalah: kehamilan dengan dua janin atau lebih (Rustam mckhtar, 1998)
B. Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi:
- Bangsa seperti: AS dan Irlandia
- Umur : Mangkin tinggi angka kejadian kehamilan kembar dan menurun lagi setelah umur >40 th.
Peritas
- Biasanya lebih meningkat pada multipara dari pada premipara
- Keturunan : keluarga tertentu akan cendrung melahirkan anak kembar yang biasanya diturunkan secara paternal, namun dapan dapat juga secara maternal.
- Obat-obatan induksi ovulasi seperti : propertil, clomid, dan hormone gonadotropin
Secara pasti penyebab bayi kembar belum diketahui
C. Patofisiologi
Fisiologi kehamilan ganda dapat terjadi karena dua ovum yang dibuahi pada saat hampir bersamaan atau berasal dari satu ovum yang mengalami pemecahan pada saat dini
1. Kehamilan ganda dari dua ovum-dizigot
Tumbang kehamilan ganda dizigot selalu akan mempengaruhi dua plasenta dengan tempat implantasi yang relatip berbeda sehinga akan memberikan dampak pertumbuhan janin yang berbeda. Perbedaan dapat dibuktikan dengan BB yang berbeda akibat tempat implantasi yang tidak mampu memberikan nutrisi, aliran darah dan O2 yang sama
2. Kehamilan ganda dari saatu ovum monozigot
Kehamilan ganda dari satu ovum lebih jarang dari dua ovum. Selain itu, saat pemecahan akan menyebabkan terjadinya abnormal pertumbuhan sehingga dapat terjadi berbagai bentuk. Jika pemisahan terjadi sehingga diskus abnormal terbentuk , akan terjadi bentuk terpisah yang tidak lengkap dan terdapat bayi kembar siam.

Pembuahan


1 Ovum (monozigot) 2 ovum (dizigot)

Pemecahan dini pemecahan dini

Kemungkina Pertumbuhan 2 embrio pertumbuahan 2 embrio dan
Dan 1 atau 2 plasenta Yang abnormal 1 atau 2 plasenta normal (kehamilan ganda normal)
Kemungkinan terjadi bayi kembar siam

1 Tanda dan Gejala
1. Ibu mengeluh sesak
2. Sering miksi
3. Adanya edema dan parises pada tungkai dan vulva
4. Tekanan darah meningkat
5. Mengeluh pusing
6. Janin lebih aktif

2 Dasar diagnosis
a) Anamesis
- Uterus dapat membesar
- Gerakan banyak (janin)
- Keluhan ibu lebih banya
b) Palpasi
- teraba tiga bagian besar janin : kepala, bokong, dan punggung
- dua bagian besar berdekatan
- hidriamnion
c) Auskultasi
- DJJ didua punggung maksimum dengan perbedaan 10 denyut/menit atau lebih
Diagnosis penunjang
- USG
- FOTO rontgen
3 Komplikasi
1. Hamil muda : hiperemesis gravirarum
2. Hamil tua : hidramnion , perbedaan tumbang intrautasi , pendarah antepartum
3. Khusus monoaniotik : lilitan antar tali pusat , transfuse antar janin.

4 Pertolongan persalinan ganda
1. Pervaginam : jika by A perserpasi kepala,by B lahir dengan spontan atau by B kelainan letak tapi persi luar lengkap, spontan, persi ekstensi.
2. SC jika :
-Anak pertama kelainan letak
-gawat janin.

5 SC Ciesrea
SC merupakan pembedahan obstretik untuk melahirkan janin yang mampu bertahan hidup (variable) melalui abdomen , (farre helen 1999).
SC adalah : suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat diatas 500 gr melalui sayatan pada dinding uterus yang masi utuh , (satmono pramirohadjo,2002)




6 Indikasi SC
Operasi SC dilakukan jika kelahiran peruaginam mungkin akan menyebabkan resiko [ada ibu ataupun pada janin , dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC : proses persalinan normal lama / kegagalan proses persalinan normal (distasia)
1. Stress janin
2. His lemah/melemah
3. Janin dalam posisi sunsang/melintang(kelainan letak)
4. BY besar (BB >400 gr)
5. Plasenta pravira
6. Disproporsi cevalo-pelvik : ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul
7. Rupture urteri mengancam
8. Hydrochepalus
9. Primi tua atau muda
10. Partus dan komplikasi
7 Kontra indikasi SC
Tidak ditemukan
8 Jenis-jenis operasi SC
a. Abdomen (SC abdominalis)
1 . SC klasik atau kolporal denga insisi memanjang pada kurpus ulteri.
- Keuntungan : mengeluarkan janin lebih cepat , tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik ,sayatan bisa diperpanjang : proksimal dan distal.
- Kerugian / kekurangan : infeksi mudah menyebar secara intra abdominal kena tidak ada reperironalitas yang baik
- Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan
3. SC isnika atau hopundal
(lom servikal dengan isisi segmen bawah rahim)
Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang tepat pada segmen bawah rahim.



- Keuntungan : penjahitan luka lebih mudah
- Penutupan luka dengan repiritonealisasi yang baik tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus kerongga peritoneal , perdarahan tidak begitu banyak , kemungkinan rupture uteri spontan lebih kecil.
- Kelemahan : luka dapat menyebar kekiri kekanan bawah sehingga dapat menyebabkan arteri uteri pecah/putus sehigga menyebabkan pendarahan yang banyak, keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi
. b. Vagina (vaginalis)
Menurut sayatan pada rahim , SC dpt dilakukan Sbb :
- Sayatan memanjang (longitudinal)
- Sayatan melintang (transpesal)
- Sayatan hurup T (T insicium)
9 Berdasarkan saat dilakukan SC dibagi atas:
a. SC primer (epektif)
Dari semula memang telah direncanakan bahwa janin yang akan dilahirkan secara SC tidak diharapkan kelahiran biasa (normal) mis : pada panggul sempit
b. SC skunder
c. Dalam hal ini kita bersikap mencoba menunggu kelahiran biasa (partus percobaan) bila tidak ada keinginan persalinan percobaan gagal baru SC
10 Komplikasi SC
a. Pendarahan
b. Infeksi

1. Pengkajian
a. TTV :
- TD : 120/80 Mmhg biasanya normal seperti saat hamil
- N : 60-80 x/m , bradikardi : 50-70 x/m
- P : 16-24 x/m
- S : 36,2 c

b. Payudara : membesar hiperpigmentasi pada ariola putting menonjol pada pusat partum hari kedua mungkin tampak membengkak dan nyeri karena proses laktasi.
c. Abdomen : fundus terasa keras , ada luka operasi
d. Lochea (+) sesuai hari post partum
e. Perineum : utuh , terdapat hemoroit / tidak
f. Eliminasi
BAK : dalam jumblah yang cukup setiap 4-6 jam, distensi kk tidak terjadi. BAB : akan kembali normal setelah 2-3 haripost partum

g. Ekstermitas bawah : tidak ada tanda nyeri homen tidak ada
h. Neorusensori : kerusakan gerakan sensori dibawah tinggkat anastesia spinal epidural
i. Psikologis : 24 jam pertama ibu lebih berfokus pada kebutuhan sendiri, menceritakan pengalaman melahirkan mungkin sangat pembicara / pendiam.
j. Pemiriksa Lab : HB,HT ,leukosit, dan eliktrolit yang diindikasikan serta protein urine.

2. DX. Keperwatan
1. Nyeri b/d luka post operasi op SC
2. Resti infeksi b/d adanya luka post op SC
3. Resti perubahan perpusi jaringan se$reberal b/d epek anastesi
4. Ketrbatasan kemampuan aktivitas b/d post op SC , efek anastesi
5. Proses laktasi tidak efektip tidak efektif b/d pembengkakan panyudara kurang pengetahuan tentang perawatan panyudara
6. Perubahan proses parenting b/d kurangnya informasi mengenai kebutuhan merawat bayi
7. Kurang pengatahuan tentang perawatan SC dan efek anstesi b/d kurangnya informasi

3. Intervensi keperawatan
Dx. 1
- Tentukan karekteristik dan lokasi nyeri
- Berikan posisi yang nyaman dan nyaman
- Anjurkan tehnik latihan nafas dalam
- Berikan informasi penyebab nyeri
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesic
Dx. 2
- Observasi daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda infeksi : kemerahan, bengkak, nyeri, panas, dan penurunan fungsi
- Pantau TTV terutama suhu
- Berikan informasi kepada klien untuk melakukan personal hygine terutama di daerah luka op
- Ganti perban dengan tehnik steril
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antibiotic
- Pantau derajat kontrativitas utara dan warna serta jumlah locthea
- Messege fundus dengan perlahan
- Infeksi laserasi perineum bila ada, tekan pembalut yang bersih terhadap perineum dan intruksikan ibu untuk merapatkan paha
- Observasi TTV
- Pantau intake dan output
- Berikan cairan parenteral sesuai indikasi
Dx. 4
- Kaji tingkat aktivitas klien dalam memenihi kebutuhannya
- Bantu klien dalam memenihi aktivitas dan mobilisasi
- Bantu klien dalam memenihi kebutuhan sehari-hari
Dx. 5
- Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara
- Demontrasikan cara perawatan panyudara yang benar
- Anjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang sudah perawat ajarkan
- Ajarkan klien cara memberikan ASI yang benar
Dx. 6
- Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga mengenai perawatan tali pusat yang benar dan memandikan bayi
- Berikan penkes mengenai cara pearawatan bayi sesuai kebutuhan missal : perawatan tali pusat yang benar
- Demontrasikan hal yang dipenkeskan sesuai kebutuhan
Dx. 7
- Kaji tingkat pengetahuan dan kesiapan klien untuk diberikan penyuluhan
- Berikan informasi atau penyuluhan yang berhubungan dengan perubahan fisiologis, masa nifas dan perawatan pos op

4. Evaluasi
- Nyeri berkurang / hilang dengan skala 1
- Infeksi tidak terjadi
- Perubahan perfusi jaringan serebral tidak terjadi dan tidak ad pendarahan post partum
- Klien dapat mandiri dalam melakukan aktifitas sehari-hari
- Proses laktasi kembali efektif
- Tidak terjadi proses parenting
- Klien mengungkapkan pemantamannya mengenai perubahan fisiologis dan melakukan aktivitas secara tepat





BAB III
TINJAUAN KASUS

I. Identitas Pasien
Klien bernama Ny.M, usia 37 tahun lulusan SMP, seorang ibu rumah tangga. Sedangkan suami bernama Tn.M, usia 44 tahun lulusan SMA, perkerjaan swasta, dan keduanya beragama islam, suku baqngsa indonesia yang beralamat di Jl. Teratai Rt/Rw 003/03 Jembatan Besi. Status kawin selama 6 tahun, klien masuk 13 desember 2009, di ruang Seruni kamar Isolasi dengan Dx. Medis : Gemeli

II. Riwayat Keperawatan
A. Keluhan utama (saat ini)
Pada saat ini klien mengeluh nyeri pada luka post operasi secaria diperutnya, dan masih sering mulas sedangkan asinya belum lancar keluar.
B. Riwayat Menstruasi
Usia menarche 13 tahun, sklus haid teratur selama 28 hari jumlahnya kurang lebih 40cc, haid terakhir 13-03-2009 sedangkan haid pertama pada tanggal 20-12-2009, menopause dan keluhan lain tidak ada.
C. Riwayat Obstetri
P2-A0-AH3
Anak pertama usia kehamilan 39 minggu jenis persalinan spontan ditolong oleh bidan, tidak ada terjadi komplikasi, jenis kelamin perempuan, PB=49cm, BB=2800gr dan keadaan sekarang sehat.
Anak kedua usia kehamilan 40 minggu penyakit yang dialami tidak ada, jenis persalinan SC ditolong oleh tim Bedah penyulit yang dialami gemeli, tidak ada terjadi komplikasi jenis kelamin sama perempuan x1PB=48cm dan BB=2500gr sekarang berada di perinatologi sedangakan x2 PB=49cm dan BB=2600gr keadaan sekarang baik.

III. Riwayat Ginekologi & Penyakit atau Pembedahan sebelumnya
Pada riwayat ini klien tidak terdapat masalah dan kelaina-kelainan lainnya. Dan pada keluarga tidak ada masalah dengan reproduksi. Hanya klien pada saat kontrasepsi klien menggunakan riwayat pemakaian obat hormonal.





IV. Riwayat Psikososial dan spiritual
Klien mengatakan orang yang terdekat dengan klien adalah anak dan suami dan orang tua klien. Interaksi dalam keluarga terbuka dua arah. Persepsi terhadap penyakit, harapan serta pikiran klien ingin cepat sembuh dan pulang ke rumah. Konsep diri baik dan mekanisme koping jika sakit langsung membeli obat ke warung, kepercayaan yang dianut beragama islam dan beribadah sesuai agama.

V. Kebutuhan atau Kebiasaan sehari-hari
A. Nutrisi dan Cairan
Klien mengatakan di rumah makannya 3x/hari dan menyukai semua makanan, klien tidak ada mengalami alergi makanan dan diet khusus serta tidak ada keluhan saat makan.TB=158cm, BB=55kg
Klien mengatan minum kurang lebih 2500cc dan menyukai teh panas, serta tidak suka dengan alkohol.
B. Eliminasi
Fekuensi BAB 1x/hari dengan konsisten lembek, berwarna kuning, berbau, waktu tidak menentu,keluhan dan penggunaan laxatif tidak ada.
Sedangkan frekuensi BAK kurang lebih 9-10x/hari, bau khas, dan keluhan tidak ada.
C. Personal Hygeine
Klien madi 2x/hari dengan menggunakan sabun, oral hygiene 2x/hari cara membersihkan sikat gigi dengan odol. Pada genitalia juga dibersihkan dan tidak menggunakan solution.
D. Istirahat dan Tidur
Waktu tidur klien kurng lebih 8jam/hari sedangkan tidur siang ½ jam, kebiasaan sebelum tidur menonton TV, keluhan selama tidur tidak ada.

VI. Pemeriksaan penunjang: USG

VII. Penatalaksanaan
• IUFD RL 20 tts/menit
• Tefacet = 2x1
• Kaltropen supp = 2x1





VIII. Resume
Pengkajian dilakukan tanggal 16 Des 2009.
Ny. M, 37 tahun datang ke RSUD Tarakan Rg.Seruni pada tanggal 13 Des 2009 dengan Dx. Medis Gemeli klien dilakukan Operasi SC pada tanggal 15 Des 2009 pukul 09.00wib lahir bayi kembar.
By. X1 perempuan BB :2500gr, PB:48cm A/S 2/5 dan mekoniu8m kental. By. X2 perempuan BB:2600gr, PB:49cm A/S 9/10 ket (+) lansung dilakukan amrictomy, ket berwarna kehijaun dan cair.
Pada saat dilakukan pengkajian tnggal 16 Des 2009 klien Post Partum hari kedua didapat data-data sebagai brikut:
Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di peru8tnya dan masih sering mulas, serta mengatakan ASI masih belum lancar dan bayinya belum mau menyusui.
Sedangkan pada saat diobservasi:
• k/u klien sedang CM
• obtetri: P2-A0-AH3
• TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
• Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
• Saat ditunjukan skala nyeri klien menunjukan angka 5
• Payudara klien tampak membesar, areola hyperpigmentasi, papila experted, terdapat ASI dan alveoli
• Abdomen teraba keras (uteru), terdapat shi9e dan linea nigra
• TFU: 3 jari di bawah umbilikus, konsisten uterus tegang dan kontraksi positif
• Distensi rektiabdominalis P=7cm, L=2cm
• Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh
• Lochea positif, konsistensi encerwarna merah terang kurang lebih 50cc, berbau khas
• Kapilarirefil kurang dari 2detik
• Turgor kulit elastis
• Reflek patela baik
• Tidak terdapat tanda homan
• Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe





DATA FOKUS
Nama klien / umur : Ny.M/37thn
Ruang / kamar : Seruni/Isolasi
Data Obyektif Data Subyektif
• k/u klien sedang CM
• obtetri: P2-A0-AH3
• TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
• Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
• Saat ditunjukan skala nyeri klien menunjukan angka 5
• Payudara klien tampak membesar, areola hyperpigmentasi, papila experted, terdapat ASI dan alveoli
• Abdomen teraba keras (uteru), terdapat shi9e dan linea nigra
• TFU: 3 jari di bawah umbilikus, konsisten uterus tegang dan kontraksi positif
• Distensi rektiabdominalis P=7cm, L=2cm
• Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh
• Lochea positif, konsistensi encer warna merah terang kurang lebih 50cc, berbau khas. Kapilarirefil kurang dari 2detik, Turgor kulit elastis, Reflek patela baik, Tidak terdapat tanda homan
• Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe
• Post partum hari kedua • Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di peru8tnya.
• klien mengatakan masih sering mulas-mulas.
• Klien mengatakan ASI masih belum lancar dan bayinya belum mau menyusui










ANALISA DATA
Nama klien / umur : Ny.M/37thn
Ruang / kamar : Seruni/Isolasi
No Data Masalah Etiologi
1















2








3 DS:
• Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di peru8tnya.
• klien mengatakan masih sering mulas-mulas.
Do:
• k/u klien sedang CM
• obtetri: P2-A0-AH3
• TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
• Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
• Saat ditunjukan skala nyeri klien menunjukan angka 5
• Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh
• TFU: 3 jari di bawah umbilikus, konsisten uterus tegang dan kontraksi positif
Ds:
• Klien mengatakan ASI masih belum lancar dan bayinya belum mau menyusui
Do:
• Payudara klien tampak membesar,
• Areola hyperpigmentasi, papila experted,
• Terdapat ASI dan alveoli
• Post partum hari kedua

Ds:
• Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di perutnya.
Do:
• TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
• Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
• Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh Gangguan rasa nyaman :nyeri














Proses laktasi tidak efektif








Resti infeksi





Adanya luka post Op SC pada abdomen













Pembengkakan pada payudara








Adanya luka post Op SC pada abdomen


DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama klien / umur :Ny.M/37thn
Ruang / kamar :Seruni/Isolasi

No Masalah Dx Tanggal ditemukan Tanggal teratasi Nama jelas
1



2


3






Gangguan rasa nyaman: Nyeri b/d adanya luka post Op SC pada abdomen.


Proses laktasi tidak efektif b/d pembekakan pada payu dara
Resti infeksi b/d adanya luka post Op SC pada abdomen
16 Des 2009



16 Des 2009


17 Des 2009 17 Des 2009
Teratasi sebagian


17 Des 2009
Teratasi

17 Des 2009
Teratasi sebagian Klpmk
6


Klmpk
6

Klmpk
6

















RENCANA KEPERAWATAN
Nama klien / umur :Ny.M/37thn
Ruang / kamar :Seruni/Isolasi

No Tgl Diagnosa Tujuan & kriteria hasil Intervensi paraf
1










2






















3 16
Des
09








16
Des
09




















17
Des
09 Gangguan rasa nyaman: Nyeri b/d adanya luka post Op SC pada abdomen.







Proses laktasi tidak efektif b/d pembekakan pada payu dara



















Resti infeksi berhubungan dengan adanya luka post off SC pada abdomen

Setelah dilakukan tidakan kep selama 2x24jam nyeri dpt berkurang/hilang dg KH:skala nyeri 2-0, keluhan nyeri tdk ada,TTV dalam batas normal.



Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam proses laktasi kembali efektif. Dengan KH : pembengkakan panyudara tidak ada alveoli berkurang ASI keluar dengan lancar klien dapat melakukan perawatan panyudara dengan benar.











Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 resti infeksi tidak terjadi dengan KH : tidak ada tanda-tanda infeksi (nyeri, kemerahan, panas, bengkak, penurunan fungsi) TTV dalam batas normal :
TD : 120/80 N : 60-80x/Menit RR : 16-20x/Menit S : 36-37 derajat o Kaji lokasi dan penyebab nyeri
o Kaji skala nyeri
o Berikan posisi yang amam dan nyaman (semifowler)
o Ajarkan tehnik relaksasi:nafas dalam
o Kolaborasi dgn dr. Pemberian analgesik

 Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara

 Demontrasikan cara perawatan panyudara dengan benar

 Anjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang perawat ajarkan

 Ajarkan klien cara memnerikan ASI yang benar



 Observasi pada daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda infeksi
 Pantau TTV terutama suhu
 Anjurkan klien untuk untuk minum, perhatikan personal hygien terutama pada daerah luka operasi
 Lakukan perawatan muka dengan tehnik steril
 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik













Klp 6

















CATATAN KEPERAWATAN

Nama klien / umur : Ny.M/37thn
Ruang / kamar : Seruni/Isolasi
Hari /
tanggal Jam No. Dx Tindakan keperawatan dan kriteria hasil paraf
Rabu,
16/12/09




Rabu,
16/12/09







Kamis,
17/12/09





Kamis,
17/12/09




Kamis,
17/12/09

11.20





11.20








14.30






14.40





14.45 1





2








1






2





3  Mengkaji skala nyeri dan TTV
 Mengajarkan teknik relaksasi : nafas dalam
 Memberikan posisi yang nyaman ( semi fowler )
 Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

 Mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara
 Mendemontrasikan tentang cara perawatan panyudara
 Menganjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan perawat ajarkan
 Mengajarkan klien memberiakan ASI yang benar



 Mengkaji skala nyeri dan TTV
 Mengajarkan teknik relaksasi : nafas dalam
 Memberikan posisi yang nyaman ( semi fowler )
 Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik


 Melakukan perawatan panyudara (breast care) dan meminta klien untuk mendemontrasikannya
 Menganjurkan klien untuk menyusui bayinya
 Mengobservasi cara klien memberikan ASI


 Mengobservasi daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda bedah
 Memantau TTV terutama suhu
 Melakukan perawatan luka
 Menganjurkan klien untuk memperhatikan kebersihan luka

EVALUASI KEPERAWATAN
Nama / umur : Ny. M
Ruang / kamar : Seruni / isolasi
No. Dx Hari /
tanggal Jam
Perkembangan Paraf
1
















2




















1















2














3 Rabu,
16/12/09















Rabu,
16/12/09



















Kamis,
17/12/09














Kamis,
17/12/09













Kamis,
17/12/09 11.30
















11.30




















14.30















14.30














14.45 S :
- klien mengatakan nyerinya sedikit berkurang dengan nafas dalam
- klien mengatakan nyaman dengan posisi semi fowler
O :
- klien tampak menggunakan nafas dalam untuk mengurangi nyeri
- klien tampak tenang dengan posisi semi fowler
- skala nyeri 5
- TTV : TD : 110/70 Mmhg Nadi : 82 x/m RR : 20x/m S : 36 derajat
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan
Observasi skala nyeri dan TTV

S :
- Klien mengtakan ASI nya masih belum lancar
- Klien mengatakan belum tau tentang perawatan panyudara
O :
- Teraba alveoli yang banyak pada panyudara klien
- ASI tampak keluar sedikit
- Panyudara klien tampak bengkak
- Klien tampak mencoba melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang sudah diajarkan
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan
Lakukan perawatan panyudara
Minta klien melakukan hal yang sama
Observasi cara klien menyusui bayinya




S :
- Klien mengatakan nyerinya sudah sedikit berkurang dari sebelumnya
- Klien mengatakan ingin duduk
O :
- Klien tampak sesekali meringis
- Klien tampak tenang
- Skala nyeri 4
- Klien tampak duduk ditempat tidur
- TTV TD : 110/80 Mmhg N : 80x/m S : 36,5 derajat
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan


S :
- Klien mengatakan ASI nya sudah lancar
O :
- Alveoli teraba sudah jauh berkurang
- ASI tampak keluar dengan lancar
- Panyudara sudah tidak bengkak
- Klien tampak menyusui bayinya dengan posisi yang benar
A :
- Masalah teratasi
P :
- Tindakan dihentikan dan dipertahankan


S :
- Klien mengatakan masih nyeri pada luka post operasi SC diperutnya tetapi sudah berkurang
- Klien mengatakan akan mempertahan kan kebersihan luka
O :
- Klien tampak sesekali meringis kesakitan
- Keadaan luka merah(-), bengkak(-), panas(-) s=63,5drajat nyeri(+), penurunan fungsi(+) proteksi
A:
- Masalah teratasi sebagian
P:
- Intervensi dilanjutkan






















BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengkajian
k. TTV :
- TD : 120/80 Mmhg biasanya normal seperti saat hamil
- N : 60-80 x/m , bradikardi : 50-70 x/m
- P : 16-24 x/m
- S : 36,2 c

l. Payudara : membesar hiperpigmentasi pada ariola putting menonjol pada pusat partum hari kedua mungkin tampak membengkak dan nyeri karena proses laktasi.
m. Abdomen : fundus terasa keras , ada luka operasi
n. Lochea (+) sesuai hari post partum
o. Perineum : utuh , terdapat hemoroit / tidak
p. Eliminasi
BAK : dalam jumblah yang cukup setiap 4-6 jam, distensi kk tidak terjadi. BAB : akan kembali normal setelah 2-3 haripost partum

q. Ekstermitas bawah : tidak ada tanda nyeri homen tidak ada
r. Neorusensori : kerusakan gerakan sensori dibawah tinggkat anastesia spinal epidural
s. Psikologis : 24 jam pertama ibu lebih berfokus pada kebutuhan sendiri, menceritakan pengalaman melahirkan mungkin sangat pembicara / pendiam.
t. Pemiriksa Lab : HB,HT ,leukosit, dan eliktrolit yang diindikasikan serta protein urine.

Pengkajian pada kasus
Data subjektif :
- Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di peru8tnya.
- Klien mengatakan masih sering mulas-mulas.
- Klien mengatakan ASI masih belum lancar dan bayinya belum mau menyusui
-
Data objektif :
- k/u klien sedang CM
- obtetri: P2-A0-AH3
- TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
- Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
- Saat ditunjukan skala nyeri klien menunjukan angka 5
- Payudara klien tampak membesar, areola hyperpigmentasi, papila experted, terdapat ASI dan alveoli
- Abdomen teraba keras (uteru), terdapat shi9e dan linea nigra
- TFU: 3 jari di bawah umbilikus, konsisten uterus tegang dan kontraksi positif
- Distensi rektiabdominalis P=7cm, L=2cm
- Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh
- Lochea positif, konsistensi encer warna merah terang kurang lebih 50cc, berbau khas. Kapilarirefil kurang dari 2detik, Turgor kulit elastis, Reflek patela baik, Tidak terdapat tanda human
- Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe
- Post partum hari kedua

B. Diagnose keperawatan
DX. teori
8. Nyeri b/d luka post operasi op SC
9. Resti infeksi b/d adanya luka post op SC
10. Resti perubahan perpusi jaringan se$reberal b/d epek anastesi
11. Ketrbatasan kemampuan aktivitas b/d post op SC , efek anastesi
12. Proses laktasi tidak efektip tidak efektif b/d pembengkakan panyudara kurang pengetahuan tentang perawatan panyudara
13. Perubahan proses parenting b/d kurangnya informasi mengenai kebutuhan merawat bayi
14. Kurang pengatahuan tentang perawatan SC dan efek anstesi b/d kurangnya informasi
Dx. Kasus
- Gangguan rasa nyaman: Nyeri b/d adanya luka post Op SC pada abdomen.
- Proses laktasi tidak efektif b/d pembekakan pada payu dara
- Resti infeksi b/d adanya luka post Op SC pada abdomen
C. Intervensi keperawatan
Intervensi teori
Dx. 1
- Tentukan karekteristik dan lokasi nyeri
- Berikan posisi yang nyaman dan nyaman
- Anjurkan tehnik latihan nafas dalam
- Berikan informasi penyebab nyeri
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesic
Dx. 2
- Observasi daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda infeksi : kemerahan, bengkak, nyeri, panas, dan penurunan fungsi
- Pantau TTV terutama suhu
- Berikan informasi kepada klien untuk melakukan personal hygine terutama di daerah luka op
- Ganti perban dengan tehnik steril
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antibiotic
- Pantau derajat kontrativitas utara dan warna serta jumlah locthea
- Messege fundus dengan perlahan
- Infeksi laserasi perineum bila ada, tekan pembalut yang bersih terhadap perineum dan intruksikan ibu untuk merapatkan paha
- Observasi TTV
- Pantau intake dan output
- Berikan cairan parenteral sesuai indikasi
Dx. 4
- Kaji tingkat aktivitas klien dalam memenihi kebutuhannya
- Bantu klien dalam memenihi aktivitas dan mobilisasi
- Bantu klien dalam memenihi kebutuhan sehari-hari


Dx. 5
- Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara
- Demontrasikan cara perawatan panyudara yang benar
- Anjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang sudah perawat ajarkan
- Ajarkan klien cara memberikan ASI yang benar
Dx. 6
- Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga mengenai perawatan tali pusat yang benar dan memandikan bayi
- Berikan penkes mengenai cara pearawatan bayi sesuai kebutuhan missal : perawatan tali pusat yang benar
- Demontrasikan hal yang dipenkeskan sesuai kebutuhan
Dx. 7
- Kaji tingkat pengetahuan dan kesiapan klien untuk diberikan penyuluhan
- Berikan informasi atau penyuluhan yang berhubungan dengan perubahan fisiologis, masa nifas dan perawatan pos op
Intervensi kasus
Dx 1
• Kaji lokasi dan penyebab nyeri
• Kaji skala nyeri
• Berikan posisi yang amam dan nyaman (semifowler)
• Ajarkan tehnik relaksasi:nafas dalam
• Kolaborasi dgn dr. Pemberian analgesik

Dx. 2
 Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara
 Demontrasikan cara perawatan panyudara dengan benar
 Anjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang perawat ajarkan
 Ajarkan klien cara memnerikan ASI yang benar
Dx. 3
 Observasi pada daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda infeksi
 Pantau TTV terutama suhu
 Anjurkan klien untuk untuk minum, perhatikan personal hygien terutama pada daerah luka operasi
 Lakukan perawatan muka dengan tehnik steril
 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotic

D. Implementasi keperawatan
Implementasi pada tiori
merupakan pelaksanaan/tindakan yang dilakukan kepada klienn sesuai dengan diagnose dan intervensi keperawatan yang ada.
Implementasi pada kasus
E. Mengkaji skala nyeri dan TTV
F. Mengajarkan teknik relaksasi : nafas dalam
G. Memberikan posisi yang nyaman ( semi fowler )
H. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

 Mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara
 Mendemontrasikan tentang cara perawatan panyudara
 Menganjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan perawat ajarkan
 Mengajarkan klien memberiakan ASI yang benar

I. Mengkaji skala nyeri dan TTV
J. Mengajarkan teknik relaksasi : nafas dalam
K. Memberikan posisi yang nyaman ( semi fowler )
L. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

 Melakukan perawatan panyudara (breast care) dan meminta klien untuk mendemontrasikannya
 Menganjurkan klien untuk menyusui bayinya
 Mengobservasi cara klien memberikan ASI

 Mengobservasi daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda bedah
 Memantau TTV terutama suhu
 Melakukan perawatan luka

Menganjurkan klien untuk memperhatikan kebersihan luka
E. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi teori
- Nyeri berkurang / hilang dengan skala 1
- Infeksi tidak terjadi
- Perubahan perfusi jaringan serebral tidak terjadi dan tidak ad pendarahan post partum
- Klien dapat mandiri dalam melakukan aktifitas sehari-hari
- Proses laktasi kembali efektif
- Tidak terjadi proses parenting
- Klien mengungkapkan pemantamannya mengenai perubahan fisiologis dan melakukan aktivitas secara tepat
Evaluasi pada kasus
Dx.1Hari pertama
S :
- klien mengatakan nyerinya sedikit berkurang dengan nafas dalam
- klien mengatakan nyaman dengan posisi semi fowler
O :
- klien tampak menggunakan nafas dalam untuk mengurangi nyeri
- klien tampak tenang dengan posisi semi fowler
- skala nyeri 5
- TTV : TD : 110/70 Mmhg Nadi : 82 x/m RR : 20x/m S : 36 derajat
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan
Observasi skala nyeri dan TTV

Dx. 2 Hari pertama
S :
- Klien mengtakan ASI nya masih belum lancar
- Klien mengatakan belum tau tentang perawatan panyudara
O :
- Teraba alveoli yang banyak pada panyudara klien
- ASI tampak keluar sedikit
- Panyudara klien tampak bengkak
- Klien tampak mencoba melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang sudah diajarkan
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan
Lakukan perawatan panyudara
Minta klien melakukan hal yang sama
Observasi cara klien menyusui bayinya



Dx. 1 Hari kedua
S :
- Klien mengatakan nyerinya sudah sedikit berkurang dari sebelumnya
- Klien mengatakan ingin duduk
O :
- Klien tampak sesekali meringis
- Klien tampak tenang
- Skala nyeri 4
- Klien tampak duduk ditempat tidur
- TTV TD : 110/80 Mmhg N : 80x/m S : 36,5 derajat
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan

Dx. 2 Hari kedua
S :
- Klien mengatakan ASI nya sudah lancar
O :
- Alveoli teraba sudah jauh berkurang
- ASI tampak keluar dengan lancar
- Panyudara sudah tidak bengkak
- Klien tampak menyusui bayinya dengan posisi yang benar
A :
- Masalah teratasi
P :
- Tindakan dihentikan dan dipertahankan
Dx. 3 Hari pertama
S :
- Klien mengatakan masih nyeri pada luka post operasi SC diperutnya tetapi sudah berkurang
- Klien mengatakan akan mempertahan kan kebersihan luka
O :
- Klien tampak sesekali meringis kesakitan
- Keadaan luka merah(-), bengkak(-), panas(-) s=63,5drajat nyeri(+), penurunan fungsi(+) proteksi
A:
- Masalah teratasi sebagian
P:
- Intervensi dilanjutkan





















DATA FOKUS
Nama klien / umur : Ny.M/37thn
Ruang / kamar : Seruni/Isolasi
Data Obyektif Data Subyektif
a. k/u klien sedang CM
b. obtetri: P2-A0-AH3
c. TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
d. Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
e. Saat ditunjukan skala nyeri klien menunjukan angka 5
f. Payudara klien tampak membesar, areola hyperpigmentasi, papila experted, terdapat ASI dan alveoli
g. Abdomen teraba keras (uteru), terdapat shi9e dan linea nigra
h. TFU: 3 jari di bawah umbilikus, konsisten uterus tegang dan kontraksi positif
i. Distensi rektiabdominalis P=7cm, L=2cm
j. Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh
k. Lochea positif, konsistensi encer warna merah terang kurang lebih 50cc, berbau khas. Kapilarirefil kurang dari 2detik, Turgor kulit elastis, Reflek patela baik, Tidak terdapat tanda homan
l. Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe
m. Post partum hari kedua n. Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di peru8tnya.
o. klien mengatakan masih sering mulas-mulas.
p. Klien mengatakan ASI masih belum lancar dan bayinya belum mau menyusui










ANALISA DATA
Nama klien / umur : Ny.M/37thn
Ruang / kamar : Seruni/Isolasi
No Data Masalah Etiologi
1















2








3 DS:
q. Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di peru8tnya.
r. klien mengatakan masih sering mulas-mulas.
Do:
s. k/u klien sedang CM
t. obtetri: P2-A0-AH3
u. TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
v. Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
w. Saat ditunjukan skala nyeri klien menunjukan angka 5
x. Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh
y. TFU: 3 jari di bawah umbilikus, konsisten uterus tegang dan kontraksi positif
Ds:
• Klien mengatakan ASI masih belum lancar dan bayinya belum mau menyusui
Do:
z. Payudara klien tampak membesar,
aa. Areola hyperpigmentasi, papila experted,
bb. Terdapat ASI dan alveoli
cc. Post partum hari kedua

Ds:
dd. Klien mengatakan nyeri pada luka Post Op SC di perutnya.
Do:
ee. TTV= TD: 110/70mmHg, N: 82x/menit, RR: 20x/menit, S:36
ff. Klien tampak meringis saat mencoba untuk bangun (duduk)
gg. Luka bekas Op positif pada abdomen dan perinium utuh Gangguan rasa nyaman :nyeri














Proses laktasi tidak efektif








Resti infeksi





Adanya luka post Op SC pada abdomen













Pembengkakan pada payudara








Adanya luka post Op SC pada abdomen


DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama klien / umur :Ny.M/37thn
Ruang / kamar :Seruni/Isolasi

No Masalah Dx Tanggal ditemukan Tanggal teratasi Nama jelas
1



2


3






Gangguan rasa nyaman: Nyeri b/d adanya luka post Op SC pada abdomen.


Proses laktasi tidak efektif b/d pembekakan pada payu dara
Resti infeksi b/d adanya luka post Op SC pada abdomen
16 Des 2009



16 Des 2009


17 Des 2009 17 Des 2009
Teratasi sebagian


17 Des 2009
Teratasi

17 Des 2009
Teratasi sebagian Klpmk
6


Klmpk
6

Klmpk
6

















RENCANA KEPERAWATAN
Nama klien / umur :Ny.M/37thn
Ruang / kamar :Seruni/Isolasi

No Tgl Diagnosa Tujuan & kriteria hasil Intervensi paraf
1










2






















3 16
Des
09








16
Des
09




















17
Des
09 Gangguan rasa nyaman: Nyeri b/d adanya luka post Op SC pada abdomen.







Proses laktasi tidak efektif b/d pembekakan pada payu dara



















Resti infeksi berhubungan dengan adanya luka post off SC pada abdomen

Setelah dilakukan tidakan kep selama 2x24jam nyeri dpt berkurang/hilang dg KH:skala nyeri 2-0, keluhan nyeri tdk ada,TTV dalam batas normal.



Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam proses laktasi kembali efektif. Dengan KH : pembengkakan panyudara tidak ada alveoli berkurang ASI keluar dengan lancar klien dapat melakukan perawatan panyudara dengan benar.











Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 resti infeksi tidak terjadi dengan KH : tidak ada tanda-tanda infeksi (nyeri, kemerahan, panas, bengkak, penurunan fungsi) TTV dalam batas normal :
TD : 120/80 N : 60-80x/Menit RR : 16-20x/Menit S : 36-37 derajat o Kaji lokasi dan penyebab nyeri
o Kaji skala nyeri
o Berikan posisi yang amam dan nyaman (semifowler)
o Ajarkan tehnik relaksasi:nafas dalam
o Kolaborasi dgn dr. Pemberian analgesik

 Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara

 Demontrasikan cara perawatan panyudara dengan benar

 Anjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang perawat ajarkan

 Ajarkan klien cara memnerikan ASI yang benar



 Observasi pada daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda infeksi
 Pantau TTV terutama suhu
 Anjurkan klien untuk untuk minum, perhatikan personal hygien terutama pada daerah luka operasi
 Lakukan perawatan muka dengan tehnik steril
 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik













Klp 6

















CATATAN KEPERAWATAN

Nama klien / umur : Ny.M/37thn
Ruang / kamar : Seruni/Isolasi
Hari /
tanggal Jam No. Dx Tindakan keperawatan dan kriteria hasil paraf
Rabu,
16/12/09




Rabu,
16/12/09







Kamis,
17/12/09





Kamis,
17/12/09




Kamis,
17/12/09

11.20





11.20








14.30






14.40





14.45 1





2








1






2





3 M. Mengkaji skala nyeri dan TTV
N. Mengajarkan teknik relaksasi : nafas dalam
O. Memberikan posisi yang nyaman ( semi fowler )
P. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

 Mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan panyudara
 Mendemontrasikan tentang cara perawatan panyudara
 Menganjurkan klien untuk melakukan perawatan panyudara sesuai dengan perawat ajarkan
 Mengajarkan klien memberiakan ASI yang benar



Q. Mengkaji skala nyeri dan TTV
R. Mengajarkan teknik relaksasi : nafas dalam
S. Memberikan posisi yang nyaman ( semi fowler )
T. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik


 Melakukan perawatan panyudara (breast care) dan meminta klien untuk mendemontrasikannya
 Menganjurkan klien untuk menyusui bayinya
 Mengobservasi cara klien memberikan ASI


 Mengobservasi daerah insisi bedah terhadap tanda-tanda bedah
 Memantau TTV terutama suhu
 Melakukan perawatan luka
 Menganjurkan klien untuk memperhatikan kebersihan luka

EVALUASI KEPERAWATAN
Nama / umur : Ny. M
Ruang / kamar : Seruni / isolasi
No. Dx Hari /
tanggal Jam
Perkembangan Paraf
1
















2




















1















2














3 Rabu,
16/12/09















Rabu,
16/12/09



















Kamis,
17/12/09














Kamis,
17/12/09













Kamis,
17/12/09 11.30
















11.30




















14.30















14.30














14.45 S :
- klien mengatakan nyerinya sedikit berkurang dengan nafas dalam
- klien mengatakan nyaman dengan posisi semi fowler
O :
- klien tampak menggunakan nafas dalam untuk mengurangi nyeri
- klien tampak tenang dengan posisi semi fowler
- skala nyeri 5
- TTV : TD : 110/70 Mmhg Nadi : 82 x/m RR : 20x/m S : 36 derajat
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan
Observasi skala nyeri dan TTV

S :
- Klien mengtakan ASI nya masih belum lancar
- Klien mengatakan belum tau tentang perawatan panyudara
O :
- Teraba alveoli yang banyak pada panyudara klien
- ASI tampak keluar sedikit
- Panyudara klien tampak bengkak
- Klien tampak mencoba melakukan perawatan panyudara sesuai dengan yang sudah diajarkan
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan
Lakukan perawatan panyudara
Minta klien melakukan hal yang sama
Observasi cara klien menyusui bayinya




S :
- Klien mengatakan nyerinya sudah sedikit berkurang dari sebelumnya
- Klien mengatakan ingin duduk
O :
- Klien tampak sesekali meringis
- Klien tampak tenang
- Skala nyeri 4
- Klien tampak duduk ditempat tidur
- TTV TD : 110/80 Mmhg N : 80x/m S : 36,5 derajat
A :
- Masalah teratasi sebagian
P :
- Intervensi dilanjutkan


S :
- Klien mengatakan ASI nya sudah lancar
O :
- Alveoli teraba sudah jauh berkurang
- ASI tampak keluar dengan lancar
- Panyudara sudah tidak bengkak
- Klien tampak menyusui bayinya dengan posisi yang benar
A :
- Masalah teratasi
P :
- Tindakan dihentikan dan dipertahankan


S :
- Klien mengatakan masih nyeri pada luka post operasi SC diperutnya tetapi sudah berkurang
- Klien mengatakan akan mempertahan kan kebersihan luka
O :
- Klien tampak sesekali meringis kesakitan
- Keadaan luka merah(-), bengkak(-), panas(-) s=63,5drajat nyeri(+), penurunan fungsi(+) proteksi
A:
- Masalah teratasi sebagian
P:
- Intervensi dilanjutkan



































BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Setalah menguraikan pembahasan pada klien Ny.N post partum dengan indikasi Gemilli di RS Seruni RSUD Tarakan Jakarta,kelompok dapat membuat kesimpulan sebagai berikut :
Pada umumnya data yang didapat pada saat pengakajian sesuai dengan teori. Dan kami melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan pada tahap sebelumnya. Pada tahap perencanaan kelompok melaksanakan sesuai dengan perioritas, tujuan criteria hasil dan intervensi keperawatan. Penyusunan perioritas masalah yang kelompok lakukan berdasarkan kebutuhan klien, kondisi klien dan sesuai dengan fasilitas yang ada diruangan Rumah Sakit.Pada tahap implimentasi tidak ada kesenjangan yang kelompok dapatkan karena sesuai dengan rencana tindakan yang telah ditetapkan.

B. SARAN

1.Perawat Ruangan
A.Perawat perlu menuliskan implementasi pada catatan perawatan secara keseluruhan berdasarkan pada perubahan fisiologisnya terutama pada masalah komplikasi cesar
B.Perlunya komunikasi dengan perawat ruangan untuk melanjutkan tindakan mengobservasi perubahan fisiologis dan fisikologis terutama komplikasi cesar.
C.Memberikan penyuluhan kesehatan terhadap keluarga sehingga tidak ada keluarga yang masih melakukan kebiasaan hidup tidak bersih selama merawat .
2. Keluarga
Menganjurkan keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan
3. Mahasiswa
Perlu komunikasi dan interaksi yang baik denagn perawat ruangan dalam mengevaluasi perkembangan klien dan kolaborasi dalam melakukan intervensi.









REFERENSI

Doengus, Marylin E. (2001) rencana maternal / bayi, Ed. 2, Jakarta : EGC
Farer, Helen (1998), perawatan maternitas Ed. 2, Jakarta : EGC
Manuiba Ida Bagus Cide, (2007), Pengantar Kuliah Obstetri, Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam (1998), Sinepsis Obstetri, Jakarta : EGC
www.google.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar