Kamis, 10 Juni 2010

Asuhan Keperawatan (ASKEP) Isolasi Sosial

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan kesehatan pada hakikatnya adalah penyelenggaraan upaya kesehatan yang optimal baik fisik, mental dan sehat Sosial. Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa marupakan tantangan seperti pada klien yang kesehatan fisiknya memperlihatkan gejala yang berbeda dan muncul oleh berbagai penyebab kejadian masa lalu yang sama dengan kejadian saat ini tetapi mungkin muncul gejala yang berbeda (Depkes RI, 1996).
Sejalan dengan berkembangnya ilmu dan teknologi dapat dikatakan makin banyak masalah yang harus dihadapi dan diatasi sekarang dan makin sulit tercapainya kesejahteraan hidup. Keadaan ini sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan jiwa seseorang yang berarti meningkatkan jumlah pasien dengan gangguan jiwa , menurut studi El-Bahar 1996 terdapat 185 gangguan kesehatan jiwa dari 1000 penduduk. Hal ini menimbulkan suatu peningkatan kebutuhan masyarakat dalam pelayanan perawat kesehatan jiwa.
Manusia adalah makhluk Sosial dalam kehidupan , mereka harus membina hubungan interpersonal yang positif. Hubungan interpersonal yang sehat terjadi jika individu yang terlibat saling merasakan kedekatan. Sementara identitas pribadi masih tetap dipertahankan juga perlu untuk membina perasaan saling ketergantungan yang merupakan keseimbangan antara ketergantungan dan kemandirian dalam suatu hubungan (Stuart and Sundeen, 2001).
Penyebab menarik diri adalah individu yang merasakan tidak berharga lagi sehingga merasa tidak aman dalam berhubungan dengan orang lain, tidak dapat mendapatkan kontak fisik, antara individu dengan orang lain, individu berasal dari lingkungan yang penuh masalah individu, merasa tidak terima dan ditolak sebelum mencoba, individu tidak mempelajari cara berhubungan dengan orang lain yang menimbulkan rasa aman.
Salah satu penyebab yang ditimbulkan dari menarik diri adalah klien dapat mengalami halusinasi, perilaku yang dapat diamati pada klien dengan menarik diri adalah tidak mau bergaul atau berdiam diri dan kegiatannya yang merepleksikan menarik diri seperti harga diri rendah.
Berdasarkan data yang didapat dari Ruang Cempaka, pada bulan terakhhir (Desember 2007 s/d Januari 2008) penderita gangguan jiwa berjumlah 112 orang penderita menarik diri 57 orang (51 %), penderita halusinasi 33 orang (30%), penderita harga diri rendah 4 orang (3,6 %) , penderita PK 5 orang (4,5 %), waham 12 orang (10,7 %) sumber dari RSJ Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta (sumber Ruangan Cempaka).
Karna jumlah penderita menarik diri sebanyak 57 orang (51%) lebih tinggi dari jumlah penderita halusinasi yaitu 33 orang (30%) , kelompok tertarik untuk membahas (mempelajari) Asuhan Keperawatan mental psikiatri pada klien dengan isolasi Sosial, menarik diri yang mencakup aspek bio-psikososial dan cultural dengan menggunakan pendekatan teori asuhan keperawatan jiwa sebab pada klien isolasi Sosial : menarik diri bila tidak diatasi akan menyebabkan GSP : Halusinasi.

B. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Mempeoleh gambaran secara nyata dalam memberikan Auhan Keperawatan pada klien dengan isolasi Sosial : Menarik diri.
b. Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan pengkajian Asuhan Keperawatan pada klien Ny. T dengan gangguan isolasi Sosial : menarik diri.
2. Mampu merumuskan masalah keperawatan pada klien Ny. T dengan gangguan isolasi Sosial : menarik diri.
3. Mampu merencanakann tindakan keperawatan pada klien Ny. T dengan gangguan isolasi Sosial : menarik diri.
4. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada Ny. T dengan gangguan isolasi Sosial : menarik diri.
5. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada klien Ny. T dengan gangguan isolasi Sosial : menarik diri.
6. Mampu mengidentifikasi factor pendukung, penghambat dan mencari alternatif pemecahan masalah pada klilen Ny. T dengan gangguan isolasi Sosial : menarik diri.

C. Ruang lingkup
Dalam makalah ini, penulis hanya membahas asuhan Keperawatan pada Ny. T dengan Isolasi Sosial : Menarik diri, di Ruang Cempaka RSJ Dr. Soeharto Heerdjan dari tanggal 14 Desember-22 Desember 2009.

D. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus.Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data ini antara lain:
1.Wawancara
Hal ini dilaksanakan dengan mengajukan Tanya jawab dengan klien secara langsung pihak-pihak terkait ntuk memperoleh informasi serta data-data tentang keadaan keluhan dan riwayat klien.
2.Observasi
Perawat melaksanakan pengamata akan masalah serta keaktifan dalam proses penyembuha penyakitnya secara langsung dan konkrit guna mengetahui keadaan perubahan tingkah laku,keadaan fisik saat pengkajian dan pelaksanaan tindakan keperawatan.
3.Study Dokumentasi
Yaitu pengumpulan data-data keadaan klien dari dkumentasi yang ada di ruangan, mencatat dan mempelajari kejadian yang ada hubungannya dengan kasus yang terangkum dalam catatan medis dan catatan keperawatan
4.Study Kepustakaan
Dalam mempelajari literature-literatur buku sebagai referensi yang berhubungan dengan asuhan keperawatan pada klien dengan isolasi social.
E. Sistematika Penulisan
Pada makalah ilmiah ini terdiri dari lima Bab: beberapa sub bab dan anak sub bab yang penulisannya sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan
Terdiri dari Latar Belakang, Tujuan Penulisan, ruang lingkup, metode penulisan, sistematika penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Meliputi konsep dasar yang terdiri dari : Pengertian etiologi, factor predisposisi, Presipitasi, gejala klinis dan asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan evaluasi.
BAB III : Tinjauan Kasust
Terdiri dari pengkajian , diagnosa keperawatan implementasi dan implemenetasi.
BAB IV : Pembahasan
Terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan , implementasi dan Evaluasi.
BAB V : Penutup
Kesimpulan dan saran












BAB II
LANDASAN TEORI

Pada bab ini penulis akan menguraikan konsep dasar tentang isolasi Sosial : menarik diri dan Asuhan Keperawatan berdasarkan literature yang tertulis yang penulis gunakan, sebagai landasan teoritis yang penulis bahas.
A. Konsep dasar
1. Pengertian
Menarik diri adalah individu yang mengalami ketidakmampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain atau lingkungan sekitarnya secara wajar dan hidup dalam khayalan sendiri yang tidak relaistis (stuart and Sundeen, 2001).
Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain (rawlin, 2002, hal 36).
Isolasi Sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Towsend, 2002, hal 52).
Keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi mampu untuk membuat kontak (Carpenito, 2000 hal, 389).
2. Proses Terjadinya Masalah
Pada mulanya individu merasa dirinya tuidak berdaya lagi, sehingga tidak merasa aman dalam berhubungan dengan oranglain. Individu yang gagal dalam berinteraksi Sosial karena tidak dapat diterima dilingkungan juga akan menyebabkan individu tidak dapat memulai pembicaraan dengan orang lain dan selalu menyendiri, menghindari interaksi dengan orang lain dan merasa kehilangan hubungan akrab, individu tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, prestasi dan kegagalan. Individu mempunyai kesulitan untuk berhubungan spontan dengan orang lain merupakan salah satu ciri mengalami ganguan jiwa “menarik diri “.


a. Faktor Predisposisi
Pada dasarnya kemampuan hubungan sosial berkembang sesuai dengan proses tumbuh kembang individu mulai dari bayi sampai dewasa lanjut. Untuk mengembangkan hubungan Sosial yang positif setiap tugas perkembangan sepanjang kehidupan diharapkan dpat dilalui dengan sukses. Kemampuan berperan serta dalam proses hubungan diawali dengan kemampuan ketergantungan pada masa bayi dan berkembang pada masa dewasa dengan kemampuan saling tergantung dan mandiri. Sistem keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan respon Sosial maladaptive .
1. Bayi
Bayi sangat tergantung pada oranglain dalam biologis dan psikologis. Bayi umumnya menggunakan komuniksi yang sangat sederhana dalam menyampaikan kebutuhannya, misalnya menangis untuk kebutuhan. Respon lingkungan (Ibu atau pengasuh) terhadap kebutuhan bayi akan respon atau perilakunya dan rasa percaya bayi terhadap oranglain’
2. Faktor Predisposisi pada masa Pra Sekolah
Anak pra sekolah mulai memperluas hubungan sosialnya diluar lingkungan keluarga khususnya Ibu (pengasuh). Anak menggunakan kemampuan berhubungan dengan lingkungan di luar keluarga. Dalam hal ini anak membutuhkan dukukngan dan bantuan dari keluarga khususnya pemberian yang positif terhadap perilaku anak yang adaptif. Hal ini merupakan dasar rasa otonomi anak yang berguna untuk mengembangkan kemampuan hubungan independen.
3. Anak Sekolah
Anak mulai mengenal hubungan yang lebih luas khususnya lingkungan sekolah. Pada usia ini anak mulai mengenal bekerja, kompetisi, kompromi. Konflik yang terjadi dengan orang tua karena pembahasan dan dukungan yang tidak konsisten. Berteman dengan orang dewasa diluar keluarga (guru, orangtua, teman) merupakan sumber pendukung yang penting bagi anak.


4. Remaja
Pada usia ini anak mengembangkan hubungan intim dngan teman sebaya dan sejenis dan umumnya mempunyai sahabat karib. Hubungan dengan teman sangat tergantung sedangkan hubungan dengan orang tua mulai independen. Kegagalan membina hubungan dengan teman dan kurangnya dukungan orang tua akan mengakibatkan keraguan akan identitas. Ketidakmampuan mengidentifikasi karir dan rasa percaya diri yang kurang.
5. Dewasa Muda
Pada usia ini individu mempertahankan hubungan independen dengan orang tua dan teman sebaya. Individu belajar mengambil keputusan dengan memperhatikan saran dan pendapat orang lain seperti : memilih pekerjaan, memilih karier dan melangsungkan perkawinan.
6. Dewasa tengah
Individu pada usia dewasa tengah umumnya telah pisah tempat tinggal dengan orang tua. Khususnya individu yang telah menikah. Jika telah menikaah maka peran menjadi orang tua dan mempunyai hubungan antar orang dewasa merupakan situasi tempat menguji kemampuan hubungan independen.
7. Dewasa Lanjut
Pada usia ini individu akanmengalami kehilangan, baik itu kehilangan fungsi fisik, kegiatan, pekerjaan, teman hidup (teman sebaya dan pasangan), anggota keluarga (kematian orang tua). Individu tetap memerlukan hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Individu yang mempunyai perkembangan yang baik dapat menerima kehilangan yang terjadi dalam kehidupan dan bahwa dukungan orang lain dapat membantu dalam menghadapi kehilangannya (Budi sanna Keliat, 2001).
b. Faktor Biologik
Factor genetic dapat menunjang terhadap respon Sosial maladaptive ada bukti terdahulu tentang terlibatnya neurotranshmiter dalam perkembangan gangguan ini. Namun tetap masih diperlukan penelitian lebih lanjut (Stuart and Sundeen, 2002)

c. Faktor Komunikasi dalam keluarga
Pola komunikasi dalam keluarga dapat mengantarkan seseorang kedalam gangguan berhubungan bila keluarga hanya mengkomunikasikan hal-hal yang negatif akan mendorong anak mengembnagkan harga diri rendah. Adanya dua pesan yang bertentangan pada saat bersamaan mengakibatkan anak menjadi bingung dan kecemasan meningkat. Hal ini dapat menjadi pengalaman yang traumatic bagi anak dalam komunikasi, menyebabkan anak enggan berkomunikasi denga oranglain. Keadaan ini akan menimbulkan perilaku menarik diri.
d. Faktor Sosio Kultural
Isolasi Sosial merupakan faktor dalam gangguan berhubungan ini skibst dan norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, atau tidak menghargai anggota masyarakat yangtidak produktif seperti lansia, orang cacat dan berpenyakit kronik (Stuart and Sundeen).
a. Faktor Presipitasi
Stressor pencetus pada umumnya mencakup kehidupan yang penuh stress seperti kehilangan , yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas.
1. Stressor Psikologik
Ansietas berkepanjamngan terjadi bersama dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasi tuntutan untuk berpisah dengan orang dekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan untuk ketergantungan dapat menimbulkan ancietas tinggi.
2. Stressor Sosio Kultural
Stress dapat ditimbulkan oleh stabilitas unit keluarga dan berpisah dan orang yang berarti dalam kehidupannya , misalnya karena dirawat di Rumah sakit.
b. Rentang Respon Sosial
Manusia adalah mahluk Sosial untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan mereka harus membina hubungan interpersonal yang positif. Hubungan interpersonal yang sehat terjadi jika individu yang terlibat saling merasakan kedekatan sementara identitas pribadi masih tetap dipertahankan. Juga perlu untuk membina perasaan saling ketergantungan dan kemandirian dalam suatu hubungan. Perilaku yang teramati pada respon Sosial maladaptive mewakili supaya individu untuk mengatasi ansietas yang betrhubungan dengan kesepian, rasa takut , kemarahan, malu, bersalah dan merasa tidak aman. Seringkali respon yang terjadi meliputi manipulasi, narkisme dan impulsive.
Rentang respon


Respon Adaptif
 Solitut
 Otonomi
 Kebersamaan
 Saling ketergantungan  Kesepian
 Menarik Diri
 Ketergantungan  Manipulasi
 Impulsive
 Narkisme

Stuart and Sundeen, 2002

Respon adaptif adalah respon yang masih dpat diterima oleh norma-norma Sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku dengan kata lain bahwa individu tersebut dalam batas normal dalam menyelesaikan masalahnya. Sedangkan maladaptive adalah yang diterima individu dalam menyelesaikan masalah menyimpang dari norma-norma Sosial dan berkebudayaan suatu tempat :
a. Manipulasi : Orang lain diperlakukan seperti objek, hubungan terpusat pada masalah pengendalian, individu berorintasi pada diri sendiri atau pada tujuan bukan berorientasi pada orang lain.
b. Narkisme : Harga diri yang rapuh atau rendah secara terus menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, sikap egosentris dan pencemburu.
c. Impulsif : Tidak merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman. Penilaian yang buruk dan tidak dapat diandalkan.

c. Tanda Gejala
Observasi yang dilakukan pada klien akan ditemukan (data objektif)
a. Apatis, ekspresi sedih, tumpul
b. Menghindar dan orang lain (menyendiri) klien tampak memisahkan diri dan orang lain. Misalnya pada saat makan.
c. Komunikasi kurang/ tidak ada klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat.
d. Tidak ada kontak mata. Klien lebih sering menunduk
e. Berdiam diri di kamar atau tempat terpisah. Klien kurang mobilitasnya.
f. Menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.
g. Tidak melakukan kegiatan sehari-hari artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari dilakukan.
h. Posisi janin pada saat tidur

Data subjektif sukar didapat jika klien menolak berkomunikasi, beberapa data subjektif adalah : menjawab dengan singkat dengan kata-kata “ tidak “ , “ya” “tidak Tahu”, (Budi anna Keliat, 2001)

d. Meknisme Koping
Rasional : Suatu usaha mengatasi konflik pikiran dan impuls – impuls yang tidak menyenangkan dengan memberikan alasan yang rasional.
Supresi : Menekan konflik, impuls – impuls yang tidak dapat diterima dengan secara sadar.
Represi : Konflik pikiran impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan ditekan kedalam penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan.
Menarik diri : Mekanisme tingkah laku seeorang yang apabila menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri dalam pergaulan di lingkungan.

3. Psikofarmaka
a. Clorpromazine
1. Indikasi
Untuk sindrom psikis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realityas, kesadaran diri terganggu, daya ingat norma Sosial dan tilik diri terganggu, berdaya berat dalam dungsi-fungsi mental : faham, halusinasi. Gangguan perasaan dan perilaku yang aneh atau tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, tidak mampu bekerja, hubungan Sosial dan melakukan kegiatan rutin.
2. Mekanisme kerja
Memblokade dopamine pada reseptor pasca sinap di otak khususnya system ekstra pyramidal.
3. Efek Samping
(1) Sedasi
- Gangguan otonomi (hypotensi) antikolinergik / parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam miksi dan defiksi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung.
- Gangguan ekstra pyramidal (distonia akut, akathsia sindrom parkinsontren, or, bradikinesia regiditas)
- Gangguan endoktrin (amenorhoe, ginermasti)
- Metabolic (Soundiee)
- Hematologik, agranulosis. Biasanya untuk pemakaian jangka panjang.
4. Kontra Indikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan jantung. Febris , ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran disebabkan oleh depresan.

b. Haloperidol (HLP)
1. Indikasi
Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi mental serta dalam fungsi kehidupan sehari-hari.
2. Mekanisme kerja
Obat anti psikis dalam memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neuron otak khususnya , system limbic dan system ekstra pyramidal.
3. Efek Samping
(1) Sedasi dan inhibisi psikomotor
gangghuan miksi dan parasimpatik, defeksi, hidung tersumbat mata kabur , tekanan infra meninggi, gangguan irama jantung.
d) Kontradiksi
Penyakit hati, penyakit darahm epilepsy, kelainan jantung. Febris ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran.

c. Trihexyphenidil ( THP )
1. Indikasi
Segala jenis penyakit Parkinson, termasuk pasca ensepalitis dan idiopatik, sindrom Parkinson akibat obat misalnya reserpina dan fenotiazine.
2. Mekanisme kerja
Sinergis dengan kiniden, obat depreson dan anti kolin energik lainnya.
3. Efek Samping
Mulut kering, penglihatan kabur, pusing, mual, muntah, bingung, agitasi, konstipasi, takikardia, dilatasi, ginjal, retensi urine.
4. Kontra indikasi
Hypersensitive terhadap Trihexyphenidil (THP), glaucoma sudut sempit, psikosis berat psikoneurosis. Hypertropi prostat dan obstruksi saluran edema.

B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Tahap pengkajian terdiri dari factor predisposisi, factor presipitasi, perilaku dan mekanisme koping.
2. Faktor Predisposisi
a. Faktor Biologi
Faktor genetic dapat menunjang terhadap respon Sosial maladaptive. Ada bukti terdahulu tentang terlibatnya neurotransmitter dalam perkembangan gangguan ini. Masih diperlukan penelitian.
b. Faktor Perkembangan
Tiap gangguan dalam tugas perkembangan yang disebutkan akan mencetuskan seseorang sehingga mempunyai masalah respon Sosial maladaptive.
c. Faktor Perkembangan
Kelauarga yang sering memberikan penilaian yang negatif pada anak. Seperti tidak membolehkan anak mengungkapkan pendapatnya. Orang tua yang selalu ingin anaknya mengikuti semua keinginan orang tua akan menyebabkan atau mempengaruhi respon maladaptive.
d. Faktor Sosial Kultural
Akibat dan norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain atau tidak menghargai anggota masyarakat yang tidak produktif, seperti orang cacat dan berpenyakit kronik.
3. Faktor Presipitasi
a. Stresor Sosio Kultural
a) Menurunnya stabilitas unit keluarga
b) Berpisah dari orang yang berarti dalam kehidupan
c) Kontak yang berkurang dlam satu keluarga
d) Pindah tempat tinggal
b. Stresor Psikologis
a) Kegagalan
b) Rasacemas yang berlebihan dan berkepanjangan
c. Perilaku
a) Pencemburu
b) Marah jika orang lain tidak mendukung
c) Harga diri yang rapuh atau rendah
d. Koping Mekanisme
Individu yang mempunyai respon Sosial maladaptive menggunakan berbagai mekanisme dalam upaya untuk mengatasi ansietas proyeksi pemisahan : melaporkan kesalahan pada orang lain merendahkan orang lain ( Stuart & Sundeen 2002).
4. Pohon Masalah ( Budi ana keliat, 2001 )

Resiko Gangguan sensori persepsi : Halusinasi





5. Masalah Keperawatan
a. Isolasi Sosial : menarik diri
b. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
c. Resiko gangguan sensori persepsi : halusinasi

6. Diagnosa Keperawatan
a. Isolasi Sosial : menarik diri

7 Rencana Tindakan
 Diagnosa Keperawatan 1 : Isolasi Sosial : menarik diri
 Tujuan umum: klien dapat berinteraksi dengan orang lain
 Tujuan khusus I : klien dapat membina hubungan saling percaya.
 Kriteria evaluasi : setelah dilakukan 2x interaksi klien menunjukan tanda-tanda percaya kepada perawat:
• Wajah cerah, tersenyum
• Mau berkenalan
• Ada kontak mata
• Bersedia menceritakan perasaannya
• Bersedia mengungkapkan masalahnya
 Intervensi keperawatan :
• Membina hubungan saling percaya
- Beri salam setiap berinteraksi
- Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan
- Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien
- Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi
- Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien
- Buat kontrak interaksi yang jelas
- Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien

 Tujuan khusus II : klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri
 Kriteria Evaluasi : setelah 2x interaksi klien dapat menyebutkan minimal satu penyebab menarik diri :
• Diri sendiri
• Orang lain
• Lingkungan
 Intervensi keperawatan:
• Tanyakan pada kklien tentang :
- Orang yang serumah/teman sekamar klien
- Orang yeng terdekat dengan klien dirumah / diruang perawatan
- Apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut
- Orang yang tidak dekat dengan klien dirumah / diruang perawatan
- Apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang tersebut
- Upaya yang sudah dilakukan agar dekat dengan orang lain
• Diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain.
• Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.

 Tujuan khusus III : klien mampu menyebutkan keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri.
 Kriteria evaluasi : setelah 2x interaksi dengan klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan sosial misalnya :
• Banyak teman
• Tidak kesepian
• Bisa diskusi
• Saling menolong
Dan kerugian menarik diri misalnya :
• Sendiri
• Kesepian
• Tidak bisa berdiskusi

 Intervensi keperawatan :
• Tanyakan pada klien tentang :
- Manfaat hubungan sosial
- Kerugian menarik diri.
• Diskusikan dengan klien tentang manfaat berhubungan sosial dan kerugian menarik diri
• Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.

 Tujuan khusus IV : klien melaksanakan hubungan sosial secara bertahap
 Kriteria evaluasi : setelah 2x interaksi klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap dengan :
• Perawat
• Perawat lain
• Klien lain
• Kelompok
 Intervensi keperawatan:
• Observasi prilaku klien saat berhubungan sosial
• Beri motivasi dan bantu klien untuk berkenalan / berkomunikasi dengan:
- Perawat lain
- Klien lain
- kelompok
• Libatkan klien dalam terapi aktivitas kelompok sosialisasi
• Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi.beri motivasi klien untuk melakukan kegiatan sesuai kegiatan harian yang telah disebut
• Beri pujian terhadap kemampuan klienmemperluas pergaulannya melalui aktivitas yang dilaksanakan

 Tujuan khusus V : klien dapat menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial
 Kriteria Evaluasi : setelah 2x interaksi klien dapat menjelaskan perasaan setelah berhubungan sosial dengan:
• Orang lain
• Kelompok
 Intervensi keperawatan:
• Diskusikan dengan klien tentang perasaan setelah berhubungna sosial dengan :
- Orang lain
- Kelompok
• Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.

 Tujuan khusus VI : klien dapat memanfaatkan obat denganbaik
 Kriteria evaluasi : setelah 2x interaksi klien menyebutkan :
• Manfaat minum obat
• Kerugian tidak minum obat
• Nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping obat.
• Klien mendominasikan penggunaan obat dengan benar
• Klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter.
 Intervensi keperawatan :
• Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek terapi dan efek samping obat.
• Pantau klien saat penggunaan obat
• Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar
• Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter.
• Anjurkan klien berkonsultasi dengan dokter/ perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.



- Evaluasi
a. Diagnosis 1
• Klien mampu menjelaskan penyebab isolasi sosial
• Klien megetahui penyebab isolasi sosial
• Klien mengetahui keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
• Klien mampu berkenalan atau berinteraksi dengan orang lain


















BAB III
TINJAUAN KASUS
Pada bab ini kami akan menyajikan asuhan keperawatan pada Ny.T, dengan Isolasi sosial, diruang Cempaka Rumah Sakit soeharto Heerdjan .Asuhan keperawatan ini dilakukan dengan mengunakan pendekatan proses keperawatan secara koperensif ,meliputi pengkajian,diagnosa,intervensi,implementasi dan evaluasi yang dilakukan dari tanggal 17 - 21 november 2009.
A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Klien bernama Ny.T, berumur 19 tahun, nomor register : 013095, Diagnosa medis F25. klien anak kedua dari dua bersaudara, peremrpuan, agama Islam, suku bangsa Jawa, pendidikan hanya kelas 5 SD, alamat Lampung Utara,
2. Alasan Masuk
Klien masuk Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan dengan dibawa oleh Pol PP pada tanggal 26 november 2009, karna klien berkeliaran dijalanan tanpa tujuan, klien diam tidak mau berbicara.

3. Faktor Predisposisi
Klien mengatakan baru pertama kali dirawat di rumah sakit jiwa, klien mengatakan dulu klien sekolah hanya kelas 5 SD, karena orangtua klien tidak mampu membiayai klien sekolah, klien mengatakan orang tua klien cerai, klien tinggal bersama ibu klien. Pada tahunn 2008 klien pernah menjadi TKW di Malaysia, pada tahun 2009 klien dipulangkan ke indonesia dengan tanpa hasil. Dan kemudian , semenjak itu klien selalu diam, apa bila ada masalah dipendam sendiri, klien mengatakan malu tidak bisa bekerja, karna klien tidak tamat selolah.
Masalah keperawatan: koping keluarga inefektif,Harga diri rendah,isolasi social

4. Pemeriksaan Fisik
Pada saat klien dilakukan pemeriksaan fisik didapakan data tekanan darah 100/80mmHg, nadi 80x/menit, suhu 37 C, pernapasan 20x/menit, tingi badan 155cm, berat badan 46 kg.
Masalah keperawatan: tidak di temukan masalah keperawata
5. Psikososial
a. Genogram










Keterangan :
: laki-laki : klien

: perempuan : garis keturunan

: sudah meninggal ------- :Tinggal satu rumah

Klien mengatakan anak kedua dari dua bersudara, anak pertama perempuan, sudah berkeluarga, orang terdekat dengan klien adalah ibu. Didalam keluarga tidak ada mengalami penyakit yang sama dengan klien.
Klien mengatakan klien ditingglkan oleh bapaknya semenjak usia 8 tahun, karena perceraian, bapaknya kawin lagi.
Masalah keperawatan : koping keluarga inefektif

b. Konsep Diri
1. Gambaran Diri : Klien mengatakan menyukai semua bagian tubuhnya.
2. Identitas : Klien mengatakan anak kedua dari dua bersaudara.
3. Peran : klien sebagai anak
4. Ideal Diri: Klien mengatakan ingin sekolah, dan ingin bekerja.
5. Harga Diri : Klien mengatakan malu bergaul dengan orang lain,karna tidak bisa berkerja, tidak sekolah, dan masih minta uang dengan orang tua.
Masalah keperawatan : gangguan kosep diri : Harga diri rendah
c. Hubungan social
Klien mengatakan orang yang berarti adalah ibunya, klien mengatakan tidak pernah mengikuti kegiatan di lingkungan rumah karena klien merasa malu dengan keadaan keluaga, selama di rumah tidak mau bergaul dengan orang lain dan lebih senang menyendiri .
Masalah keperawatan : isolasi social

d. Spiritual
Klien mengatakan agama islam dan pernah melakukan kegiatan ibadah walaupun tudak llima waktu, pendapat klien terhadap ibadah sangat penting dan harus di lakukan.
Masalah keperawatan: tidak di temukan masalah keperawatan
6. Status Mental
a. Penampilan fisik tampak kurang rapi.klien mengatakan mandi 2x sehari, baik dirumah maupun dirumah sakit.
Masalah keperawatan: devisit perawatan diri.
b. Pembicaraan klien, klien diam membisu, klien mengungkapkan kata melalui media tulis.
Masalah keperawatan : Isolasi sosial
c. Aktivitas motorik ,saat berinteraksi klien tampak lesu, saat diruangan klien hanya sendirian tidak bergabung dengan temannya.
Masalah keperawatan: isolasi social
d. Alam perasaan : klien merasa sedih dan malu dan ingin segera pulang
Masalah keperawatan :gangguan konsep diri :harga diri rendah
e. Afek klien : datar,tidak ada perubahan dan tidak mau bercanda
Masalah keperawatan :isolasi social
f. Interaksi selama wawancara
selama interaksi dengan perawat kontak mata kurang, tidak kooperatif.
Masalah keperawatan: isolasi social.



g. Persepsi
Klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit klien pernah disuruh oleh seseorang bahwa klien harus diam kalau mau dapat uang satu juta, tapi sekarang tidak pernah mendengar, melihat, mencium, meraba atau mengecap sesuatu yang aneh.
Masalah Keperawatan : Resiko Gsp : halusinasi
h. Proses pikir
Klien baru mau menjawab pertanyaan perawat, setelah disuruh menjawab melalui tulisan dikertas.
Masalah Keperawatan : Isolasi sosial
i. Isi Pikir
Pada saat pengkajian klien tidak terlihat adanya waham dan tidak ada kelainan dengan isi pikir klien.
Masalah Keperawatan : tidak di temukan masalah keperawatan
j. Tingkat Kesadaran
Klien dapat menyebutkan tempat, hari, nama perawat dengan baik, klien mengatakan saat ini berada di rumah Sakit Jiwa Gerogol.
Masalah Keperawatan : tidak di temukan masalah keperawatan
k. Memori
Klien dapat mengingat, tidak ada gangguan daya ingat jangka panjang
contoh: klien ingat tanggal masuk rumah sakit.
Tidak ada gangguan daya ingat jangka pendek
contoh: klien ingat apa yang dilakukan pada saat bangun tidur
Masalah Keperawatan : tidak di temukan.
l. Ttingkat konsentrasi dan berhitung
klien mampu menjawab hitungan yang sederhana, contoh 15+10= 25.
Masalah keperawatan : tidak ditemukan masalah keperawatan
m. Kemampuan penilaian
klien mampu menilai apa yang dilakukan disaat sebelum makan, yaitu berdo’a, dan mencuci tangan.
Masalah keperawatan : tidak ditemukan masalah keperawatan
n. Daya tilik diri
Klien mengatakan dirinya tidak sakit apa-apa.
Masalah Keperawatan : isolasi sosial
7. Persiapan Pulang
Makan bantuan minimal, buang air besar dan kecil sendiri, eliminasi secara mandiri dengan frekuensi BAB satu kali perhari, kosisten padat, bau khas fese berwarna kuning dan tidak mengalami keluhan yang berhubungan dengan BAB, klien mengatakan mandi dua kali perhari, klien mengatakan cukup satu hari sekali ganti pakaian, penampian klien kurang rapi. Klien harus dimotivasi dalam kebersihan diri.
Tidur siang klien pukul 13.00-15.00 dan tidur malam 21.00-05.00 WIB, sebelum tidur klien tidak melakukan apa-apa, sesudah tidur mengatakan cuci muka dan berkumur, penggunaan obat bantuan minimal, pemeliharaan kesehatan lanjut klien mengalami rawat jalan setelah diperbolehkan pulang dan untuk system pendukung klien harus mendapatkan perhatian khusus dari orang tua dan keluarga.
Masalah keperawatan : tidak ditemukan masalah keperawatan

8. Mekanisme Koping
Klien terletak pada koping maladaftif, yaitu klien tampak duduk menyendiri, dan klien mengatakan malu bergaul serta kalau punya masalah selalu dipendam sendiri dan klien tampak menghindar dari teman-temannya.
Masalah keperawatan : mekanisme koping individu inefektif.

9. Masalah Psikososial Dengan Lingkungan
Klien mengatakan kurang dukungan dari keluarga, klien tidak mau bergaul dengan orang lain karena malas dan malu, pendidikan klien hanya kelas 5 SD, klien mengatakan tidak bekerja, dan tidak pernah diterima mencari pekerjaan, klien mengatakan rumah klien sempit, penghasilan oreng tua hanya cukup untuk makan, klien tidak ada penghasilan, disaat bercerita klien tanpak sedih.
Masalah keperawatan : HDR dan ISOS

10. pengetahuan kurang tentang
a. Penyakit Jiwa
b. Mekanisme koping
c. Obat-obatan
Masalah keperawatan : kurang pengetahuan tentang penyakit jiwa mekanisme koping dan obat-obatan

11. Aspek Medik
Diagnosa medic: F 25
• Chlorpromazine (CPZ) 1x1 tablet 100 mg oral.
• Haloperidol (HLP) 3x1 tablet 5 mg oral.
• Trihexyphenidyl (THP) 3x1 tablet 2 mg oral.




























DATA FOKUS
DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF
• Klien mengatakan lebih senang menyendiri
• Klien mengatakan malas jika bergaul dengan orang lain
• Klien mengatakan malas berinteraksi dengan orang lain
• Klien hanya mau berinteraksi melalui tulisan dikertas.
• Klien mengatakan malu karena tidak bisa bekerja
• Klien mengatakan malu karena tidak tamat sekolah
• Klien mengatakan malu mengikuti kegiatan diluar rumah karena tidak bisa apa-apa
• Klien mengatakan sedih,malu dan ingin cepat pulang
• Klien mengatakan orang lain tidak bisa menerima keadaannya
• Klien mengatakan orang tuanya sudah cerai sejak klien berusia 8 tahun
• Klien mengatakan orang tuanya tidak mau mendukung keinginannya.
• Klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit klien pernah disuruh oleh seseorang bahwa klien harus diam kalau mau dapat uang satu juta.
• Klien mengatakan malas mengganti pakaiyan, mlas menyisir rambut. • Klien tampak sering menyendiri
• Klien tidak mau berbicara
• Klien mengungkapkan isi hatinya melalui tulisan
• Klien tampak duduk menyendiri dan mematung
• Klien tampak menghindar dari teman-temannya
• Klien tidak berinisiatif berhubungan dengan orang lain
• Kontak mata klien kurang
• Klien sering menunduk saat diajak berbicara
• Klien tampak lesu
• Klien tampak sedih saat menceritakan masa lalunya
• Penampilan fisik tampak kurang rapi
• Rambut klien tanpak tidak rapi.
ANALISA DATA
Nama klien : Ny. T Ruang : Cempaka No. RM : 013095

Kamis
17-12-2009 Ds :
• Klien mengatakan lebih senang menyendiri
• Klien mengatakan malas jika bergaul dengan orang lain
• Klien mengatakan malas berinteraksi dengan orang lain
• Klien hanya mau berinteraksi melalui tulisan dikertas.

Do:
• Klien tampak sering menyendiri
• Klien tidak mau berbicara
• Klien mengungkapkan isi hatinya melalui tulisan
• Klien tampak duduk menyendiri dan mematung
• Klien tampak menghindar dari teman-temannya
• Klien tidak berinisiatif berhubungan dengan orang lain






Isolasi Sosial
Ds:
• Klien mengatakan malu karena tidak bisa bekerja
• Klien mengatakan malu karena tidak tamat sekolah
• Klien mengatakan malu mengikuti kegiatan diluar rumah karena tidak bisa apa-apa
• Klien mengatakan sedih,malu dan ingin cepat pulang
• Klien mengatakan orang lain tidak bisa menerima keadaannya
Do:
• Kontak mata klien kurang
• Klien sering menunduk saat diajak berbicara
• Klien tampak malas dan lesu







Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah
Ds:
• Klien mengatakan orang tuanya sudah cerai sejak klien berusia 8 tahun
• Klien mengatakan orang tuanya tidak mau mendukung keinginannya.
Do:
• Klien tampak sedih saat menceritakan masa lalunya





Koping keluarga inefektif
Ds:
• Klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit klien pernah disuruh oleh seseorang bahwa klien harus diam kalau mau dapat uang satu juta.
Do :
• Klien sering duduk menyendiri dan mematung


Resiko GSP: Halusinasi
DS:
• Klien mengatakan malas mengganti pakaiyan, mlas menyisir rambut.

DO:
• Penampilan fisik tampak kurang rapi
• Rambut klien tanpak tidak rapi.


Defisit Perawatan Diri


12. Pohon masalah

Resiko GSP: Halusinasi


Koping keluarga inefektif Defisit Perawatan Diri


Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah



B. Diagnosa Keperawatan
1. Isolasi Sosial
2. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
3. Defisit Perawatan Diri
4. Koping keluarga inefektif
5. Resiko Gsp : halusinasi

C. Rencana Tindakan Keperawatan
1. Diagnose keperawatan 1
Isolasi Sosial
Tujuan umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain
Tujuan khusus I : klien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria evaluasi : setelah dilakukan 2x interaksi klien menunjukan tanda-tanda percaya kepada perawat:
• Wajah cerah, tersenyum
• Mau berkenalan
• Ada kontak mata
• Bersedia menceritakan perasaannya
• Bersedia mengungkapkan masalahnya
Intervensi keperawatan :
• Membina hubungan saling percaya
- Beri salam setiap berinteraksi
- Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan
- Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien
- Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi
- Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien
- Buat kontrak interaksi yang jelas
- Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien

Tujuan khusus II : klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri
Kriteria Evaluasi : setelah 2x interaksi klien dapat menyebutkan minimal satu penyebab menarik diri :
• Diri sendiri
• Orang lain
• Lingkungan
Intervensi keperawatan:
• Tanyakan pada kklien tentang :
- Orang yang serumah/teman sekamar klien
- Orang yeng terdekat dengan klien dirumah / diruang perawatan
- Apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut
- Orang yang tidak dekat dengan klien dirumah / diruang perawatan
- Apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang tersebut
- Upaya yang sudah dilakukan agar dekat dengan orang lain
• Diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain.
• Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.

Tujuan khusus III : klien mampu menyebutkan keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri.
Kriteria evaluasi : setelah 2x interaksi dengan klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan sosial misalnya :
• Banyak teman
• Tidak kesepian
• Bisa diskusi
• Saling menolong
Dan kerugian menarik diri misalnya :
• Sendiri
• Kesepian
• Tidak bisa berdiskusi

Intervensi keperawatan :
• Tanyakan pada klien tentang :
- Manfaat hubungan sosial
- Kerugian menarik diri.
• Diskusikan dengan klien tentang manfaat berhubungan sosial dan kerugian menarik diri
• Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.

Tujuan khusus IV : klien melaksanakan hubungan sosial secara bertahap
Kriteria evaluasi : setelah 2x interaksi klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap dengan :
• Perawat
• Perawat lain
• Klien lain
• Kelompok
Intervensi keperawatan:
• Observasi prilaku klien saat berhubungan sosial
• Beri motivasi dan bantu klien untuk berkenalan / berkomunikasi dengan:
- Perawat lain
- Klien lain
- kelompok
• Libatkan klien dalam terapi aktivitas kelompok sosialisasi
• Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi.beri motivasi klien untuk melakukan kegiatan sesuai kegiatan harian yang telah disebut
• Beri pujian terhadap kemampuan klienmemperluas pergaulannya melalui aktivitas yang dilaksanakan

Tujuan khusus V : klien dapat menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial
Kriteria Evaluasi : setelah 2x interaksi klien dapat menjelaskan perasaan setelah berhubungan sosial dengan:
• Orang lain
• Kelompok
Intervensi keperawatan:
• Diskusikan dengan klien tentang perasaan setelah berhubungna sosial dengan :
- Orang lain
- Kelompok
• Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.

Tujuan khusus VI : klien dapat memanfaatkan obat denganbaik
Kriteria evaluasi : setelah 2x interaksi klien menyebutkan :
• Manfaat minum obat
• Kerugian tidak minum obat
• Nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping obat.
• Klien mendominasikan penggunaan obat dengan benar
• Klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter.
Intervensi keperawatan :
• Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek terapi dan efek samping obat.
• Pantau klien saat penggunaan obat
• Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar
• Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter.
• Anjurkan klien berkonsultasi dengan dokter/ perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.



D. Implementasi dan Evaluasi
Nama klien : Ny. T Ruang : Cempaka No. RM : 013095
Hr/tgl/jam No Dx
KEP/TUK Implementasi Evaluasi Nama/paraf
Kamis
17-12-09
15:30-15:50
BHSP
• Memberikan salam kepeda klien
• Berjabat tangan dan memperkenalkan nama perawat, nama penggilan perawat
• Menjelaskan tujuan perawat berkenalan
• Menanyakan nama klien, nama panggilan klien
• Menanyakan hoby klien, umur klien, alamat klien, status perkawinan, agama, suku bangsa dan pendidikan.
• Menanyakan perasaan klen dan masalah yang dihadapi klien saat ini, serta alasan masuk RS. S:
• Klien tidak menjawab salam, hanya memberikan sedikit senyum
• klien menjawab pertanyaan melalui tulisan pada kertas
• klien mengatakan namanya Ny.T, umur 19 tahun, hoby menjahit, belum kawin, beragama islam, suku jawa, pendidikan hanya kelas 5 SD, alamat Lampung Utara.
• Klien mengatakan sedih dan ingin pulang
• Klien mengatakan malas berbincang dengan orang lain
• Klien mengatakan hanya ingin menyendiri
• Klien mengatakan klien dibawa oleh Polisi, karna klien berkeliaran dijalanan tanpa tujuan, klien diam tidak mau berbicara.
O:
• Klien menunjukan wajah cerah dan sedikit tersenyum
• Klien mengulurkan tangan
• Klien menunjukan tanda-tanda percaya kepada perawat
• Adanya kontak mata klien dengan perawat
• Klien menjawab pertanyaan melalui tulisan diatas kertas
A:
• Klien mampu menunjukan wajah cerah dan tersenyum
• Klien mau berkenalan dengan perawat dan ada kontak mata
• Klien mampu menceritakan perasaannya
• Klien mampu mengungkapkan masalahnya
• DX. KEP :Isolasi Sosial
P:
• Lanjutkan ke SP1p
PP:
• Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial klien
• Berdiskusi dengan klien tentang keuntungan berdiskusi dengan orang lain dan kerugian jika tidak berinteraksi dengan oranglain
• Mengajarkan klien cara berkenalan dengan satu orang
• Menganjurkan klien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian
PK:
• Menjelaskan penyebab isolasi sosial klien
• Menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian jika tidak berinteraksi dengan orang lain.
• Mendemonstrasikan cara berkenalan dengan satu orang.
• Memasukan kegiatan berbincang-bincang kedalam jadwal kegiatan harian klien
Kelompok IX
Jum’at
18-12-09
15:00-15:20 1.
SP1p • Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial klien dengan cara:
- Menanyakan orang yang tinggal serumah dengan klien atau teman sekamar klien
- Menanyakan kepada klien orang yang paling dekat dengan klien dirumah atau diruang perawatan
- Menanyakan apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut
- Menanyakan orang yang tidak dekat dengan klien dirumah atau diruang perawatan
- Menanyakan apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang tersebut
• Berdiskusi dengan klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian jika tidak berinteraksi dengan orang lain
• Mengajarkan klien cara berkenalan dengan satu orang dengan cara mendemonstrasikan dengan klien.
• Menganjurkan klien memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain dalan jadwal kegiatan harian S:
• Klien mengatakan klien tinggal dengan ibu klien, saudara klien sudah berkeluarga dan tinggal dengan suaminya
• Klien mengatakan tidak ada orang yang sekamar dengan klien waktu dirumah
• Klien mengatakan orang yang terdekat dengan klien dirumah adalah ibu klien
• Klien mengatakan diruang rawat RS klien tidak mempunyai teman dekat
• Klien mengatakan takut orang lain tidak mau menerima dirinya, karna dirunya tidak bisa apa-apa
• Klien mengatakan malas berbincang-bincang dengan orang lain
• Klien mengatakan hanya ingin menyendiri
• Klien mengatakan apabila ada masalah klien selalu murung dikamar
• Klien mengatakan mengerti manfaat hubungan sosial dan kerugian menarik diri setelah dijelaskan oleh perawat
• Klien mengatakan senang setelah berkenalan dengan perawat
• Klien mengatakan bisa berkenalan seperti yang perawat ajarkan
• Klien mengatakan paham tentang cara pengisian jadwal kegiatan harian
O:
• Klien mau mengungkapkan perasaannya dengan bahasa ferbal
• Wajah klien tampak cerah
• Klien bisa mempraktikkan dengan perawat cara berkenalan dengan benar
• Klien belum berinisiatif berinteraksi dengan orang lain
• Klien belum mau bercakap-cakap dengan orang lain selain perawat
• Klien masih sering menyendiri
A:
• Klien mau menjelaskan penyebab isolasi sosial klien
• Klien belum mampu sepenuhnya nenjelaskan keuntungn berhubungan sosial dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
• Klien mampu mendemonstrasikan cara berkenalan dengan satu orang
P:
• Lanjut ke SP2p
PP:
• Mengevaluasi jadwal kegiatan harian kien
• Memberikan kesempatan kepada kllien mempraktekkan cara berkenakan dengan satu orang
• Membantu klien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian
PK:
• Menjelaskan kegiatan klien berbincang-bincang kedalam jadwal kegiatan harian
• Mempraktikkan cara berkenalan dengan satu orang
• Memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain kedalam jadwal kegiatan harian
Kelompok IX
Sabtu
19-12-09
15:10- 15:30 1
SP2p • Mengevaluasi jadwal kegiatan harian kien
• Memberikan kesempatan kepada kllien mempraktekkan cara berkenakan dengan satu orang yang klien suka
• Membantu klien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian S:
• Klien mengatakan dari kemarin klien tidak ada melakukan berkenalan dan bebincang-bincang dengan orang lain
• Klien mengatakan mau berkenalan dengan Ny.M
• Klien mengatakan senang setelah berkenalan

O:
• Klien tidak melakukan kegiatan berkenalan dan berbincang-bincang secara mandiri dengan orang lain sejak kemarin
• Klien sudah mau berkenalan dengan orang lain setelah diberikan motivasi oleh perawat
• Klien belum berinisiatif berinteraksi dengan orang lain
• Klien masih sering menyendiri
A:
• Klien belum mau berkenalan dan berbincang-bincang dengan orang lain secara mandiri
• Klien mampu mempraktikkan cara berkenalan dengan satu orang dengan benar
P:
• Lanjut ke SP3p
PP:
• Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
• Memberikan kesempatan kepada klien berkenalan dengan dua orang atau lebih
• Menganjurkan klien memasukkan kegiatan berbincang-bincang kedalam jadwal kegiatan harian
PK:
• Menjelaskan kegiatan harian klien berbincang-bincang dan berkenalan untuk dimasukkan kedalam jadwal kegiatan harian
• Melakukan berkenalan dengan dua orang atau lebih
• Memasukkan kegiatan klien kedalam jadwal kegiatan harian

Kelompok IX
Senin
21-12-09
09:00- 09:20 1
SP3p • Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
• Memberikan kesempatan kepada klien berkenalan dengan dua orang atau lebih yang klien suka
• Menganjurkan klien memasukkan kegiatan berbincang-bincang kedalam jadwal kegiatan harian
S:
• Klien mengatakan kien sudah pernah berbincang-bincang dengan teman klien Ny.M pada pagi tadi
• Klien mengatakan mau berkenalan dengan Ny.W dan Ny.J
• Klien mengatakan senang setelah berkenalan dengan Ny.W dan Ny.J
O:
• klien sudah mulai berinisiatif berbincang-bincang dengan orang lain
• klien memasukkan kegiatan berbincang-bincang kedalam jadwal kegiatan harian klien
• klien tanpak senang setelah berkenalan dengan dua orang
• klien tanpak mulai berinisiatif berinteraksi dengan orang lain
A:
• Klien sudah mau berbincang-bincang dengan orang yang sudah klien kenal Ny.M secara mandiri
• Klien belum mampu melakukan berkenalan dengan orang lain secara mandiri
P:
• Mengulang ke SP3p
PP:
• Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
• Memberikan kesempatan kepada klien berkenalan dengan dua orang atau lebih
• Menganjurkan klien memasukkan kegiatan berbincang-bincang kedalam jadwal kegiatan harian
PK:
• Menjelaskan kegiatan klien berbincang-bincang kedalam jadwal kegiatan harian
• Mempraktikkan cara berkenalan dengan satu orang
• Memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain kedalam jadwal kegiatan harian
Kelompok IX














STRATEGI PELAKSANA

Nama : Ny. T
Hari tanggal : Kamis 17-12-2009
Pertemuan : Pertama
Ruang : Cempaka

1. Proses keperawatan
1. Kondisi klien
DS:
- Klien mengatakan malas berinteraksi
- Klien mengatakan orang lain tidak mau menerima dirinya
- Klien merasa orang lain tidak selevel
- Klien curiga dengan orang lain
- Klien merasa tidak berguna
DO:
- Klien menyendiri
- Klien mengurung diri
- Klien tidak mau bercakap-cakap dengan orang lain
- Klien mematung
- Klien mondar mandir tanpa arah
- Klien tidak berinisiatif berhubungan dengan orang lain
2. Diagnosa keperawatan
- Isolasi Sosial
3. Tujuan umum
- Klien dapat berinteraksi dengan orang lain
4. Tujuan khusus
- Klien dapat membina hubungan saling percaya
- Klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri
- Klien mampu menyebutkan keuntunan berhubungan social dan kerugian menarik diri
- Klien dapat melaksanakan hubungan social secara bertahap
- klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan social
- klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
5. Intervensi
- Bina hubungan saling percaya dengan klien










STRATEGI KOMUNIKASI
1. Pase orientasi
a. Salam traupetik
Selamat siang ibu……. Boleh saya duduk disini…..? perkenalkan nama perawat perawat …… Ibu bisa panggil perawat ,……perawat dari Akper Manggala Husada, hoby perawat ……
Nama ibu siapa,……? Maunya dipanggil apa…? Ibu berasal dari mana,…..? dan hoby ibu apa,….?
b. Evaluasi / validasi
Bagaimana perasaan ibu hari ini,……? Bagaimana tidurnya semalam,…. Ada masalah… ?
c. Kontrak
- Topic :
ibu…. Hari ini kita berbincang-bincang tentang masalah yang ibu hadapi saat ini…
- Waktu :
Ibu mau kita berbincang-bincang berapa lama,….?
Baik kalau begitu 20 menit saja bu y a…….
- Tempat
Ibu mau kita berbincang-bincang dimana,…?
Bagaimana kalau di teras luar ini saja…. Apa ibu setuju…
- Tujuan :
Supaya kita saling mengenal lebih jauh, segingga masalah yang ibu hadapi sekarang bisa teratasi.

2. Fase kerja
Ibu ,….. tadi kita sudah saling mengenal,.. sekarang coba ibu ceritakan apa yang ibu lakukan dirumah sehingga ibu di bawa kesini…. ?Siapa yang membawa ibu kesini,…. ? Apa alasannya….? Selama di rumah sakit ini kegiatan apa yang ibu lakukan,….? Apakah ibu sudah memiliki banyak teman,….? Coba ibu sebutkan nama-nama teman ibu,…..
3. Pase terminasi
1. Evaluasi subyektif
Bagaimana perasaan ibu setelah berkenalan dan berbincang-bincang dengan perawat,….?
2. Evaluasi obyektif
Coba ibu sebutkan nama-nama teman ibu di sini.
4. Rwncana tindak lanjut
Ibu ,…. Perawat berharap ibu mau berkenalan dengan orang lain dan berbincang-bincang dengannya.
5. Kontrak akan dating
- Tofik : Ibu…. besok perawat mau berbincang-bincang dengan ibu lagi dan mengajarkan ibu cara berkenalan dengan satu orang.
- Waktu : Ibu mau besok kita berbincang-bincang jam berapa,..? berapa lama ,? Bagaimana kalau jam 15:00, ( jam tiga ) lamanya 20 menit apakah ibu setuju,…?
- Tempat : Besok ibu mau kita berbincang-bincang dimana,…? Berarti disini lagi ya bu….
- Tujuan : Supaya ibu memiliki banyak teman, ibu tidak kesepian, ibu bisa bercerita tentang perasaan ibu jika ibu mengalami masalah.


BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini kami akan menguraikan kasus yang diamati serta membandingkannya dengan teori yang didapat untuk mengetahui sejauh mana faktor pendukung, penghambat dan solusinya dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien Ny. T dengan Isolasi Sosial diruang Cempaka Rumah Sakit Jiwa Soeharto heerdjan Jakarta selama 4 hari mulai tanggal 17 November sampai 21 November 2009.
Dalam pembahasan ini mencakup semua tahap proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, tinakan keperawatan dan evaluasi.
A. Pengkajian

Pengkajian pada Ny.T.pada tahap awal dalam proses keperawatan meliputi tahap pengkajian terdiri dari pengumpulan data sebagai dasar untuk mengetahui kebutuhan klien yaitu dengan cara wawancara dan observasi secara langsung dengan klien, informasi dari catatan keperawatan, catatan medis dan perawat ruang, sehingga asuhan keperawatan ini dapat diberikan kepada Ny.T. adapun diagnosa keperawatan utama yang ditemukan pada klien Ny.T adalah mengalami Isolasi Sosial.
Faktor predisposisi sesuai dengan didalam teori karena klien mengalami masalah faktor perkembangan, factor predisposisi yang klien alami yatu tingkat perkembangan klien tehambat karena klien pada usia 8 tahun sudah dtinggal oleh bapaknya kawin lagi, sehingga respon social klien menjadi mal adaptif.
Faktor presipitasi sesuai dengan klien adalah dapat bersumber dari klien, keluarga dan interaksi dengan orang lain sedangkan faktor presipitasi yang ada pada klien adalah ketidakmampuan keluarga merawat karena tingkat penghasilan orang tua yang kurang sehingga klien tidak selesai sekolah.
Pohon masalah yang terdapat pada teori yaitu masalah-masalah primer yaitu Resiko Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi, Isolasi Sosial, Harga Diri Rendah, dan sebagai Core Problem adalah Isolasi Sosial. Sedangkan pada kasus Ny.T terdapat masalah sekunder yaitu Koping Keluarga Inefektif karena didapatkan klien klien pada usia 8 tahun sudah ditinggalkan ayahnya kawin lagi, sehingga pendapatan ekonomi keluarga klien tidak tercukupi, dank lien tidak bisa melanjutkan sekolah.tidak ada terjad kesenjangan antara teori da kasus Ny.T.karena klien mengalami masalah yang ada didalam teori factor predisposisi seperti factor social budaya dan biologis. Pada kasus Ny.T didukung dengan data sebagai berikut yaitu klien pernah gagal sekolah, hanya keas 5 SD, dan lien pernah gagal bekerja menjadi TKW di malaisia, klien juga pernah ditolak melamar kerja karena klien tidak sekolah. Sehngga tidak ada motifas bagi klien untuk bersosialisasi dengan orang lain dan lingkungan.
B. Dianosa Keperawatan
Berdasarkan pengkajian data dasar, yang melalui serangkaian analisa, maka diagnose yang kelompok tegakkan adalah :
1. Isolasi Sosial
2. Harga Diri Rendah
3. Devisit Perawatan Diri
4. Koping Keluarga Inefektif
5. Resiko Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi

Diagnosa sesuai dengan teori, core problem yang kelompok angkat yaitu Isolasi Sosial, Faktor pendukung adalah klien mengatakan lebih senang menyendiri, klien mengatakan malas jika bergaul dengan orang lain, klien mengatakan malas berinteraksi dengan orang lain, klien hanya mau berinteraksi melalui tulisan dikertas, klien tampak sering menyendiri, klien tidak mau berbicara, klien menghindar dari teman-temannya, klien tidak berinisiatif berhubungan dengan orang lain
C. Perencanaan
Rencana tindakan yang ada pada kasus Ny.T, kami dapat meprediksi waktu pencapaian keberhasilan tindakandengan melihat kondisi kemampuan dan kebutuhan klien, karena tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus yang kami dapatkan.
Perencanaan pada diagnose keperawatan Isolasi Sosial dan gangguan konsep diri Harga Diri Rendah pada kasus tidak ada perbedan dengan perencanaan yang ada pada teori. Adapun perencanaan yang tidak ada pada teori adalah diagnose keperawatan Devisit Perawatan Diri, dan koping keluarga inefektif.
Dalam merencanakan tindakan keperawatan kami tidak mengalami hambatan karna kasus yang kami ambil sangan berkesinambungan dengan tiori yang kami dapat.

D. Implementasi
Pada tahap implementasi asuhan keperawatan yaitu diberikan pada klien dengan Isolasi Sosial sesuai dengan perencanaan tindakan keperawatan yang telah ditetapkan sebelumnya, berdasarkan teori kasus degan melihat kondisi dan kebutuhan.
Di dalam diagnosa keperawatan Isolasi Sosial, tindakan yang sudah tercapai yaitu membina hubungan saling percaya, SP1 p, yaitu Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial klien dengan cara: Menanyakan orang yang tinggal serumah dengan klien atau teman sekamar klien ,menanyakan kepada klien orang yang paling dekat dengan klien dirumah atau diruang perawatan, menanyakan apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut, menanyakan orang yang tidak dekat dengan klien dirumah atau diruang perawatan, menanyakan apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang tersebut, berdiskusi dengan klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian jika tidak berinteraksi dengan orang lain, mengajarkan klien cara berkenalan dengan satu orang dengan cara mendemonstrasikan dengan klien, menganjurkan klien memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain dalan jadwal kegiatan harian. SP2p yaitu: Mengevaluasi jadwal kegiatan harian kien, memberikan kesempatan kepada kllien mempraktekkan cara berkenakan dengan satu orang yang klien suka, membantu klien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian.
Pada SP3p, kami sudah melakukan yaitu dengan memberikan kesempatan kepada klien untuk berkenalan dengan dua orang. Tetapi klien belum bisa berkenalan secara mandiri, sehinga kami masih melanjutkan SP3p.

E. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, dimana pada tahap ini bertujuan untuk menilai hasil akhir dari tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu dengan menggunakan SOAP (Subyektif, Obyektis, Analis, dan Planing). Kelompok menggunakan pendekatan ini agar memudahkan dalam pelaksanaan sehingga mengacu pada tujuan.
Dalam melaksanakan evaluasi keperawatan kelompok belum mencapai hasil yang diharapkan sepenuhnya, tingkat keberhasilan yang sudah kami capa yaitu bina hubungan saling percaya; klien mampu menunjukan wajah cerah dan tersenyum, klien mau berkenalan dengan perawat dan ada kontak mata, klien mampu menceritakan perasaannya, klien mampu mengungkapkan masalahnya, SP1p dan SP2p juga sudah tercapai, sedankan yang belum tercapai yaitu pada SP3p. klien melum berinisiatif berkenalan dengan rang lain.





















BAB V
PENUTUP

Pada bab ini kami akan menarik kesimpulan dan saran yang terkait dengan asuhan keperawatan pada Ny.T dengan Isolasi Sosial di ruang Cempaka, yang kami lakukan pada tanggal 17-21 November 2009. Terdiri dari tahapan pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

A. Kesimpulan
Klien bernama Ny.T, berumur 19 tahun, nomor register : 013095, Diagnosa medis F25. klien anak kedua dari dua bersaudara, peremrpuan, agama Islam, suku bangsa Jawa, pendidikan hanya kelas 5 SD, alamat Lampung Utara, Klien masuk Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan dengan dibawa oleh Pol PP pada tanggal 26 november 2009, karna klien berkeliaran dijalanan tanpa tujuan, klien diam tidak mau berbicara. Klien baru pertama kali dirawat di rumah sakit jiwa, klien mengatakan dulu klien sekolah hanya kelas 5 SD, karena orangtua klien tidak mampu membiayai klien sekolah, klien mengatakan orang tua klien cerai, klien tinggal bersama ibu klien. Pada tahunn 2008 klien pernah menjadi TKW di Malaysia, pada tahun 2009 klien dipulangkan ke indonesia dengan tanpa hasil. Klien juga pernah melamar kerja tapi tidak terma karena klien tidah tamat sekolah. semenjak itu klien selalu diam, apa bila ada masalah dipendam sendiri, klien mengatakan malu tidak bisa bekerja, karna klien tidak tamat selolah.
Data dasar utama adalah data untuk masalah keperawatan Isolasi Sosial, yang ditadai dengan; Klien mengatakan lebih senang menyendiri, klien mengatakan malas jika bergaul dengan orang lain, klien mengatakan malas berinteraksi dengan orang lain, klien hanya mau berinteraksi melalui tulisan dikertas. Klien tampak sering menyendiri, klien tidak mau berbicara klien mengungkapkan isi hatinya melalui tulisan, klien tampak duduk menyendiri dan mematung, klien tampak menghindar dari teman-temannya, klien tidak berinisiatif berhubungan dengan orang lain.
Evaluasi respon klien sesuai dengan langkah-langkah evaluasi keperawatan yaitu SOAP untuk mengevaluasi pada Ny.T, diagnosa pertama SP1p sampai SP3p dengan hasil Klien mau menjelaskan penyebab isolasi sosial klien, klien mampu nenjelaskan keuntungn berhubungan sosial dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain, klien mampu mendemonstrasikan cara berkenalan dengan perawat, klien mampu mendemonstraskan berkenalan dengan Ny.M dengan banuan perawat. dan klien mampu menjelaskan dan mengisi jadwal kegiatan berbincang-bincang dengan dengan teman klien Ny.M secara mandiri.
Yang mejadi factor penhabat pada tahap ini, klien belum bisa berinisiatif berkealan dengan orang lain, dank lien masih sering menyendiri.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan pada bab sebelumnya, kami mengajukan beberapa saran untuk dijadikan bahan evaluasi antara lain :

1. Mahasiswa
- Mahasiswa diharapkan agar lebih menambah pengetahuan mengenai pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan Isolasi social, sehingga masalah Isolasi Sosiah lebih cepat teratasi.
- Mahasiswa harus lebih banyak memiliki keterampilan dalam berkomunikasi theraupetik sehingga klien lebih cepat percaya dengan perawat .
- Mahasiswa harus bekerja sama dengan perawat ruangan dan tim kesehatan lain untuk memvalidasi data.
2. Perawat Ruangan
- Perawat melakukan pendekatan pada klien, berorientasi pada kebutuhan utama klien, perawat juga harus mampu menentukan masalah prioritas sehingga asuhan keperawatan bisa tercapai secara efektif.
- Perawat diharapkan dapat berkerjasama dengan tim kesehatan lain dalam melaksanakan asuhan keperawatan agar tidak terjadi pengulangan dalam melakukan tindakan .










DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna. (1999). Kumpulan Proses Keperawatan Masalah Jiwa. Jakarta : FIK, Universitas Indonesia.
Rasmun,. (2001). Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegresi dengan Keluarga. Edisi 1. Jakarta : PT. Fajar Interpratama.
Stuart, GW and Sundeen, SJ. (1998). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. Jakarta :
EGC.
Towsend, Mary C., (2006). Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri: Pedoman untuk Pembuatan Rencana Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar